Acara Ma'a al-Quran ala Syekh Maghamisi

20:05
@ziatuwel

Menurut Habib Zaid bin Yahya, pria ini sebelumnya sangat menentang majlis shalawat. Namun sebab suatu kejadian ajaib seputar shalawat yang berkaitan dengan hidup-mati seseorang, ia berubah pikiran. Kini ia sangat menganjurkan majlis shalawat. Mungkin sebab ini pula kawan-kawan 'Salafi' mencap beliau sebagai "sufi mubtadi' (sufi ahli bid'ah) yang tak perlu didengar ceramahnya", tak apalah.


Namanya Syekh Shalih bin 'Awad al-Maghamisi, ulama sekaligus dai muda yang jadi imam dan khatib di Masjid Quba. Acaranya, Ma'a al-Qur'an, rutin ditayangkan di televisi-televisi Timur Tengah, khususnya Iqraa TV. Kau juga bisa cari videonya di Youtube, banyak.

Di sana, ia duduk di tengah kerumunan orang dengan backdrop bertulis "Ma'a al-Qur'an (bersama Al-Qur'an)". Ia membahas suatu tema tertentu dengan pendekatan tafsir Al-Qur'an. Semacam acara tafsir maudhu'i. Penjelasannya runtut, bahasanya seenak Dr. 'Aidh al-Qarni, meskipun tak seemosional Habib Ali al-Jufri yang khas itu.

Mungkin kalau di Indonesia, acara ini setara dengan kajian Tafsir Al-Misbah ala Prof. Quraish Shihab namun dengan format Az-Zikra ala Ust. Arifin Ilham. Isinya bukan tentang perdebatan paham, melainkan kajian-kajian kontekstual dengan Al-Qur'an sebagai referensi utama.

Tentunya mimbar-mimbar semacam ini perlu diupayakan pula di media-media kita, mengingat sudah begitu banyak cendekiawan Qur'an yang kompeten dalam bidang ini. Daripada melulu mencemooh selebriti yang kepeleset lisan dalam berdakwah karena masih labil beragama, mending sediakan mimbar buat ahlinya. Khususnya yang berkaitan dengan studi Qur'an.

Kalau dalam bentuk jurnal, seminar dan makalah, banyak. Namun itu konsumsi elit dan tak menjangkau khalayak awam yang sering ribut perkara Qur'an-Hadits. Maka perlu ada akses publik yang konsen dalam hal ini. Sayangnya, untuk tingkat website saja kami di Krapyak belum mampu mewujudkannya secara optimal, apalagi televisi.

Meminjam istilah Hojaeffendi Fethullah Gulen; apakah Al-Qur'an akan menjadi yatim di tengah pewarisnya sendiri? Apakah Al-Qur'an akan terasing di tengah negeri dengan populasi muslim terbanyak di dunia ini?

No comments:

Powered by Blogger.