Yang Tak Terampuni - #EduFamily

@ziatuwel

"Ibuku sangat benci dengan orang yang suka adu domba, mencomot potongan kabar sana-sini kemudian mengarang cerita untuk kemudian digosipkan kemana-mana. Aku ingat satu kisah yang sering ia ceritakan kepadaku. Tentang seorang raja dan tiga narapidana.

Suatu hari, Sang Raja menghadirkan tiga narapidana yang sedianya akan dieksekusi. Tiga orang itu disuruh mengakui kesalahan-kesalahannya. Napi pertama mengaku sudah mencuri, dia memohon untuk mendapatkan pengampunan, ia berjanji akan mengembalikan barang yang sudah dicurinya. Dengan berbagai jaminan, raja mengabulkan permohonan itu.

Napi kedua mengaku telah meminjam uang dalam jumlah besar, namun terlilit pailit hingga tak bisa mengembalikannya. Ia juga memohon pengampunan, ia berjanji akan memulai usaha kembali dan mencicil pelunasan utang-utangnya. Raja pun menangguhkan hukuman untuk orang itu, tentu dengan jaminan dan pengawasan ketat.

Napi ketiga terdakwa sebagai provokator, penebar berita bohong yang memporakporandakan tatanan masyarakat, menumbuhkan kebencian dan permusuhan. Sehingga banyak terjadi kerusuhan dan kerusakan akibat aksi adu dombanya. Sebagaimana dua napi lain, ia juga minta penangguhan untuk memperbaiki kesalahannya.

Sang Raja termenung, lalu berkata; 'Kau satu-satunya tahanan yang tak mungkin bisa memperbaiki apa yang telah kau rusak.' Kemudian napi pengadu domba itu dibelenggu, lalu dibawa ke tempat eksekusi berupa tebing di tepi pantai. Dilemparlah ia dari atas tebing ke dalam samudera.

Demikian kisah ini sering diceritakan oleh ibuku sejak aku kecil. Sampai-sampai aku jadi orang sangat berhati-hati dengan desas-desus dan gosip. Sangat kujaga mulutku jangan sampai menjadi pengadu domba, dan selali kujauhi obrolan yang mengarah ke adu domba."


*Sumber: 700 Fikrah fi Tarbiyatil Abna hlm. 312.

No comments:

Powered by Blogger.