Tanda-tanda Isim - Nahwusufi #3

Oleh: @ziatuwel

Isim (nama) paling agung adalah Nama Allah Ta'ala. Lalu bagaimana upaya seorang hamba untuk bisa betul-betul mengenal kesejatian Nama-Nya?

فالاسم يعرف بالخفض والتنوين ودخول الالف واللام وحروف الخفض

"Isim (kata benda) dikenal dengan dengan adanya tanda berupa menerima khofadh/jer, tanwin, alif lam, dan huruf-huruf khafadh/jer."

(1)

Tanda pertama bagi isim adalah menerima khofadh. Bahwa kata benda bisa berharakat kasrah, lain halnya dengan fi'il (kata kerja) yang tak bisa berharakat kasrah. Kata benda 'kursiyyun' dalam kondisi tertentu bisa dilafalkan 'kursiyyin'. Berbeda dengan kata kerja 'fa'ala' takkan bisa menjadi 'fa'ali'.

Khofadh secara bahasa berarti rendah. Untuk bisa mengenal kesejatian Nama-Nya, dibutuhkan kerendahan dan kehinaan diri di hadapan segala keagungan-Nya. Merasa dan menyadari betapa hina dan rendahnya diri, sekaligus menginsafi betapa suci dan agungnya Allah Ta'ala.

تذلل لمن تهوى لتكسب عزة
فكم عزة قد نالها المرء بالذل
اذا كان من تهوى عزيزا لم تكن
ذليلا له فاقرء السلام على الوصل

"Hinakan dirimu di hadapan Dia yang kau rindu, agar kau peroleh kejayaan. Betapa banyak kejayaan diraih oleh orang yang mau merendahkan diri. Jika Dia yang kau rindu begitu agung, sementara kau tak mau merendahkan dirimu, maka ucapkan salam perpisahan pada cita-citamu."


(2)

Tanda kedua, tanwin. Bahwa setiap isim bisa berharakat tanwin; 'kitabun', 'baitun', 'ardhun'. Sedangkan fi'il (kata kerja) tidak bisa bertanwin. Secara teknis, tanwin berarti membuat bunyi harakat serupa huruf nun bagi huruf yang menyandangnya; kitabun, kitaban, kitabin.

Ada empat jenis tanwin di dalam ilmu Nahwu. Yakni tanwin tamkin, tanwin tankir, tanwin 'audh, dan tanwin muqabalah.

Tamkin berarti 'penempatan'. Yakni ketika seorang pejalan ditempatkan oleh Allah di hadapan bimbingan seorang guru paripurna. Sehingga ia bisa menempatkan dirinya sebagai murid, pelayan, sekaligus sahabat bagi sang guru. Dari proses berguru inilah permulaan perjalanan batiniahnya.

Tankir berarti 'pengingkaran'. Yaitu berlaku ingkar terhadap segala pergaulan sosial yang merusak fokus dari tujuan utama, yakni Allah. Dalam kondisi tertentu, seorang pejalan membutuhkan uzlah, semedi, atau menyepi, sebagai upaya penjernihan diri.

Uzlah bisa menjadi sebab terbukanya kesejatian bagi si salik. Namun tak hanya itu, berkumpul dengan manusia lain juga bisa menyampaikannya pada kesejatian. Asalkan bukan sembarang perkumpulan. Melainkan berkumpul bersama mereka yang keberadaannya bisa membangkitkan jiwa, membangunkan hati, menerangi sanubari.

Justru perkumpulan semacam ini menjadi keharusan bagi seorang salik dalam menempuh perjalanan. Dengan sebab berkumpul sesaat dengan orang-orang bercahaya, seorang salik bisa mendapatkan apa yang tidak bisa ia dapatkan dalam mujahadah bertahun-tahun.

'Audh berarti 'ganti'. Yakni mengganti rasa jumaya kaya raya dengan rada hina dina miskin dan papa. Mengganti segala hal yang jelek dan membusukkan jiwa dengan segala kebaikan dan menjernihkannya.

Muqabalah berarti 'perbandingan'. Yaitu bandingkan kekecilanmu di hadapan keagungan-Nya. Tetapkan kefakiran dirimu, maka Dia akan mengulurkan padamu kekayaan-Nya. Tetapkanlah kelemahan dirimu, maka Dia akan mengulurkan kekuatan-Nya.

Semua hal dalam perjalanan batin ini diukur dengan kekerdilan diri dan keperkasaan Sang Tujuan. Menyepi dari kericuhan manusia dan tiada lain yang dituju selain Dia.

وان ترد العرفان فافن عن الورى
وعن كل مطلوب سوى الحق تظفر
ترى الحق في الاشياء تلطفت
ففي كل موجود حبيبي ظاهر

"Dan bila kau kehendaki makrifat, maka lenyaplah dari sesama manusia, merdekalah dari selain Kesejatian yang dituju. Maka kau 'kan menatap Kesejatian dalam segala hal, di setiap keberadaan, Kekasihku nampak begitu jelas."

(3)

Tanda ketiga, kata-kata sambung khofadh. Yakni kata-kata sambung yang menyebabkan sebuah isim berharakat kasrah. Bahwa setiap isim bisa menerima adanya kata sambung khafadh di depannya. Semisal 'min madrasatin', 'ilaa madinatin', atau 'fii ghurfatin'. Kata-kata tersebut ialah;

من الى عن على في رب باء كاف لام حرف القسم

Min (dari, kuantitatif), simbol asal mula perjalanan. Ila (ke), simbol tujuan perjalanan. Seorang pejalan harus paham dari mana perjalannya bermula dan kemana akan bermuara. Sebab sebagai pejalan spiritual, seorang salik sudah semestinya tidak asal jalan. Ada tujuan yang dituju, ada jalur yang ditapaki, ada cara yang ditempuh.

Dalam hal ini, kaum muslimin terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, kaum muslim awam, yaitu mereka yang sudah merasa cukup dengan iman, tak ada keinginan untuk mencapai hakekat kesejatian, mereka bukan penempuh jalan spiritual ini.

Kedua, kaum muslim saleh dan ahli ibadah. Yakni mereka yang melakukan berbagai macam ibadah lahiriah, baik ritual maupun sosial. Namun mereka tidak menapaki jalan penjernihan batin dengan bimbingan guru, tanpa melalui tahap-tahap penempaan hawa nafsu dibimbing pemandu jiwa.

Ketiga, para salik. Yakni mereka yang mencita-citakan wushul. Menempa jiwa mereka dalam bimbingan guru, sebagaimana Baginda Nabi membina jiwa para sahabatnya. Jika ilmu-ilmu lahiriah saja sangat penting dibimbing guru, apalagi ilmu batin yang sangat lembut dan rawan jebakan.

'An (dari, negasi kualitatif), simbol menjauhkan diri dari kemelekatan dan kesibukan duniawi. Baik berupa kemelekatan kepada harta benda, keluarga, bahkan diri sendiri. 'Ala (di atas), simbol mengatasi nafsu dengan disiplin ibadah dan pemaksaan diri.

Fi (di dalam), simbol masuknya diri ke dalam wilayah perjalanan batin secara utuh, tidak setengah-setengah. Rubba (kadang), simbol betapa jarangnya para hamba yang menempuh jalan ini.

Ba' (bi; dengan), simbol menjalani suluk dengan pertolongan Allah semata, juga simbol kebersamaan dan kedekatan dengan-Nya, baik saat sendirian maupun keramaian. Kaf (ka; seperti), simbol penyerupaan seorang salik terhadap langkah para pendahulunya, ia menempuh jalan seperti jalan yang ditempuh kaum sufi terdahulu.

Lam (li; untuk), simbol keikhlasan atas segala bentuk mujahadah yang ditempuh, yakni hanya untuk menuju Allah, bukan yang lain. Huruf qasam atau sumpah (wa, bi, ta, berarti; demi), simbol bahwa sumpah mereka yang sudah malampaui jalan ini bukanlah sumpah sembarangan, melainkan sumpah yang pasti akan dikabulkan oleh Kekasihnya.

(4)

Tanda keempat, alif lam. Bahwa isim bisa menerima alif lam di depannya, semisal 'kitabun' jadi 'al-kitabu'. Hal ini tak berlaku bagi fi'il. Penempatan alif lam ini menempel di depan isim tersebut, tidak terpisah. Bagi para sufi, makna tanda alif lam adalah momen ketika seorang salik telah sampai di maqam makrifat. Ketika ia sudah betul-betul menyaksikan kesejatian Nama Agung yang diawali alif lam, yakni Allah.

Maqam ini digapai jika si salik sudah menetapkan tiga tanda sebelumnya. Ketika si pejalan sudah betul-betul merendahkan dirinya, bahkan lenyap merasa tiada. Dan hanya menganggap kewujudan Kekasihnya yang Mahakuasa. Tiada yang benar-benar Ada selain Dia saja.

__
Kalibening, Sabtu 7 Muharram 1441

No comments:

Powered by Blogger.