Pengertian Kalam - NahwuSufi #1

Oleh: @ziatuwel

Musti dipahami terlebih dahulu, bahwa istilah 'kata' di dalam ilmu Nahwu disebut 'kilmah', sedangkan istilah 'kalimat' disebut 'kalam'. Kata atau kilmah adalah susunan huruf-huruf yang bermakna. Sedangkan kalimat atau kalam adalah susunan kata-kata yang bermakna.


Pembahasan tata bahasa sepenuhnya tentang penyampaian gagasan dalam bentuk kalam. Entah dengan media lisan maupun tulisan. Adapun pengertian 'kalam' dalam ilmu Nahwu;

اَلْكَلَامُ هو اللَّفْظُ الْمُرَكَّبُ الْمُفِيدُ بِالْوَضْعِ

"Kalam ialah ucapan (lafadz, kata-kata) yang tersusun (murokkab), mengandung faidah makna (mufiid), serta sengaja dilontarkan (bil wadh'i)."

Lalu bagaimana pemahaman kalam menurut para sufi? Ada banyak sekali buah pemahaman bagi para salik atas makna kalam ini. Kalam bagi para sufi tak sekedar ujaran, ucapan, atau susunan kata-kata.

Pertama, kalam yang berkaitan dengan diri sendiri. Bagi para sufi, kalam ialah ucapan atau zikir (lafadz) yang tersusun (murokkab) dari lisan dan hati sekaligus, terlontar sebab sebab penuh kesadaran (bil wadh'i) sehingga tak bicara perkataan yang sia-sia dan memilih untuk terus berzikir. Sebagaimana dhawuh Nabi,

رحم الله عبدا سكت فسلم او تكلم فغنم

"Allah merahmati seorang hamba yang diam lalu selamat, atau bicara lalu bermanfaat."

Jika berbicara ditakar setara dengan perak murni, maka diam takarannya setara emas dua puluh empat karat. Jikalau memang seseorang harus berkalam, maka kalamnya harus berfaidah terutama untuk dirinya sendiri. Jangan sampai kalamnya justru mencelakakan dirinya kelak di akhirat.

Apalagi jika kalamnya itu berupa zikir dan permohonan doa kepada Tuhan. Maka kalamnya jelas harus tersusun dari ketulusan hati dan keikhlasan amal, terlontar dengan penuh kesadaran sebagai hamba yang hina tanpa daya kuasa. Berkata Al-Buzidi,

الفقير الصادق بكلمة واحدة يقضى الف حاجة والفقير الكاذب يتكلم بالف كلمة ولا يقضى حاجة واحدة

"Seorang fakir yang tulus, memohon dengan satu kalimat saja, akan terkabul ribuan hajat. Sementara seorang fakir yang pura-pura, memohon dengan ribuan kalimat, takkan terkabul satu hajatpun."

Seorang penempuh jalan suluk tak menyia-nyiakan waktunya untuk bicara tanpa guna. Waktunya makmur dengan segala faidah. Kalau tak sedang berzikir, ia belajar, atau shalat, atau menyimak, atau diam. Dan dalam diamnyapun ia ditaburi hikmah ilahiyah, sebab ia mengheningkan diri dari kericuhan dunia dan menghadapkan hati ke paparan cahaya.

Kedua, kalam yang berkaitan dengan orang lain. Yakni ucapan yang tersusun (murokkab) dari perkataan maupun perbuatan, yang memberikan faidah dan masuk ke dalam hati penyimak atau pembacanya (mufiid), dilontarkan oleh pengucap dengan penuh kesadaran, hatinya terjaga dan tidak terlelap (bil wadh'i). Sehingga kalamnya itu berperan sebagai pengantar cahaya dan rahasia-rahasaia batin.

Disebutkan dalam Al-Hikam;

تسبق انوار الحكماء اقوالهم فحيث صار التنوير وصل التعبير

"Cahaya para ahli hikmah mendahului perkataan mereka. Maka saat pencerahan itu terjadi, tibalah pula penjelasannya."

Kalam yang muncul dari hati akan sampai ke hati pula. Memunculkan kekhusyukan, ketenteraman, bahkan kerinduan kepada Kesejatian. Tapi jika kalam muncul hanya dari lisan maka ia hanya akan menjangkau pendengaran. Jika asalnya hanya dari akal penulisnya, maka jangkauannya pun hanya akal pembacanya.

Kalam berupa kata-kata berisi petuah tiada gunanya tanpa bukti perbuatan. Bagaimana bisa seseorang menasehatkan kebaikan namun ia sendiri tak melakukannya. Bagaimana orang lain akan percaya dan mengiyakannya sementara perbuatannya mendustakan kata-katanya.

يا ايها الرجل المعلم غيره
هل لا لنفسك كان ذا التعليم
تصف الدواء لذي السقام وذي الضنى
كيما يصح به وانت سقيم

"Hei orang yang mengajari orang lain, apakah dirimu tak lebih patut mendapatkan pengajaran itu? Kau menerangkan penawar kepada si sakit, bagaimana bisa ia sembuh sementara kau sendiri sama pesakitannya."

__
Kalibening, Selasa 3 Muharram 1441

No comments:

Powered by Blogger.