Menanam Kebaikan - KBQTDiary #37

@ziatuwel

Sabtu kemarin, 7/9/2019, ada liputan dari DAAI TV. Entah sudah ke berapa puluh kali media datang meliput KBQT. Kali ini media datang pas saat agenda dwipekan anak-anak, belajar bersama petani di SPPQT.


Dalam kesempatan ini anak-anak sinau membuat media tanam dan menanam bibit sayuran. Mulai dari mengumpulkan botol-botol dan plastik bekas untuk dijadikan pot, mengambil kompos di kandang kambing, mengaduk bahan-bahan media tanam, hingga menanam benih sayuran yang sudah tersedia di SPPQT.

Semua anak terlibat prosesnya dengan asyik. "Ternyata gampang ya," kata Ridho. Selain itu, SPPQT mengkampanyekan pertanian organik dan berkelanjutan. Di momen ini pula anak-anak belajar tentang kesehatan bahan pangan melalui pertanian organik.

"Kalau dikencingi, boleh?" tanya Alfay mengenai bibit sayur yang baru ditanamnya.

"Ya nggak boleh, sebab air seni kita banyak mengandung unsur N, nanti tanamannya bisa mati kelebihan N," terang Mas Taryo, fasilitator hari itu.

"Oh, pantesan kita nggak boleh kencing sembarangan, apalagi ke tanaman," sahut Fani.

Mas Taryo juga menegaskan bahwa praktek menanam ini bukan hanya sebagai pembelajaran tentang pertanian, tapi juga belajar tentang filosofi kehidupan. Katanya, "Menanam sayuran harus sabar. Dia akan tumbuh secara perlahan, ada yang bisa dipanen sebulan, ada yang tiga bulan. Begitu pula menanam kebaikan, buahnya tidak instan, perlu masa yang panjang sampai kita bisa memetik hasilnya."

Setelah komplit praktek menanam bibit sayur, anak-anak dudu melingkar bersama Pak Din. Lesehan di bawah rindang pepohonan, tepat di samping lahan padi organik milik SPPQT. Anak-anak diajak berdiskusi tentang ketahanan dan kesehatan pangan.

"Kita belajar bagaimana praktek pertanian berkelanjutan," terang Pak Din, "Semuanya kita upayakan organik. Begitu pula dalam mengatasi masalah hama. Kita usahakan tidak memakai racun. Hama tikus bisa diatasi dengan predator alaminya, yakni burung hantu. Seekor burung hantu bisa memburu sepuluh tikus sehari."

Kami juga mengamati sawah SPPQT bekas panen padi yang kekeringan. Tanahnya betul-betul keras dengan tekstur retak. Posisinya yang tinggi menyulitkan distribusi air dari kalen di musim kemarau begini. Anak-anak menyadari pentingnya teknologi pengangkut air irigasi yang ekonomis dan ramah lingkungan.


Setelah jalan-jalan di sawah, kami istirahat di bawah pohon beringin depan kantor SPPQT. Ridho bertanya, "Kok beringin nggak ada akar gantungnya, Pak?"

"Ya belum kelihatan, Dho," sambar Chevo, "Tuh ada tuh, tapi masih kecil-kecil."

"Pohon yang nggak berbuah kayak gini banyak banget lho bisa hasilin oksigen," sahut Alfay.

"Iya soalnya mereka nggak butuh banyak oksigen buat 'masak' cadangan makanan di buah," lanjut Sofian, "Pohon-pohon besar juga bisa nyimpen cadangan air yang banyak."

"Sebenarnya bukan pohonnya ya, tapi tanahnya," tukas Pak Din, "Jadi ketika di tanah itu ada pepohonan, akar-akarnya menyerabut di bawah tanah, dan membuat tanah itu menjadi tanah humus yang mampu menyerap air seperti spons. Sehingga cadangan air bisa tersimpan di dalam tanah lebih banyak."

Usai tandur dan ngobrol-ngobrol, kami bubar dan membawa pot hasil tanaman masing-masing untuk dirawat di gedung RC. Proses belajar hari ini menumbuhkan empati anak-anak kepada petani, kepedulian terhadap lingkungan, dan tentu saja perhatian lebih terhadap asupan yang mereka makan.

___
Kalibening, Ahad 8/9/2019

No comments:

Powered by Blogger.