Qarun yang Alim, Rupawan, Kaya Raya dan Sial Nasibnya - Kisahikmah #5

@ziatuwel

Tersebutlah sepupu Musa, Qarun namanya. Jika Musa adalah putra Imran bin Qahits, maka Qarun adalah putra Yashar bin Qahits. Bagus rupanya, indah suaranya, cerdas akalnya. Dia orang yang paling paham kitab Taurat di antara Bani Israil, paling merdu saat melantunkan kitab suci itu. Ia salah satu dari tujuh puluh orang pilihan yang menyimak langsung Kalam Tuhan. Juga paling kaya di antara mereka, bahkan di antara seluruh manusia di muka bumi.

Musa dianugerahi ilmu kimia oleh Allah. Sepertiganya diajarkan kepada Yusya', sepertiga lagi kepada Kaleb, dan sepertiga sisanya kepada Qarun. Atas kecerdikannya, Qarun bisa mencuri ilmu dari Yusya' dan Kaleb sehingga lengkaplah ilmu kimianya. Dengan ilmu ini, Qarun mampu mengubah logam apapun menjadi emas. Hingga jadilah Qarun sosok yang menawan rupanya, alim terhadap agamanya, serta kaya raya. Kunci-kunci brankasnya harus diseret enam puluh keledai, sangkin banyaknya. Qarun menjadi sosok sempurna di hadapan masyarakat saat itu, bahkan mungkin saat ini.

Namun semua keampuhan itu justru menggelincirkan Qarun. Atas segala kelebihannya, ia mendengki Musa dan Harun yang keduanya sudah diangkat menjadi nabi.

"Wahai Musa, kau dipilih Allah untuk mengemban risalah. Harun juga dipilih untuk mengemban persembahan Bani Israil. Lalu mana bagianku? Bukankah kau tahu, bahwa aku paling paham terhadap Taurat?" gugat Qarun kepada sepupunya.

"Ini semua bukan keinginanku," jawab Musa, "Allahlah yang telah memilih siapa yang Dia kehendaki."

Makin berlipat kedengkian Qarun, ia menghasut orang-orang dan memanjakan mereka dengan limpahan hartanya. Ia bangun istana dengan dinding tinggi untuk berpesta bersama para pengikutnya dan menebar kebencian kepada para nabi Tuhan. Apalagi ketika turun wahyu tentang aturan zakat bagi Bani Israil, bahwa mereka wajib zakat satu harta dari setiap seribu harta yang dimiliki. Satu kambing dari seribu kambing, satu dinar dari seribu dinar, satu dirham dari seribu dirham.

Qarun menentang keras aturan ini, "Hei Bani Israil! Kalian selalu patuh pada omongan Musa. Kini dia mau mengambil harta yang sudah kalian dapatkan dengan susah payah. Apakah kalian akan patuh juga?!"

Ia pun bersekongkol bersama beberapa orang pendengki untuk menjebak dan menghancurkan reputasi Musa di hadapan Bani Israil. Rencana disusun, aktor disiapkan, agenda ditetapkan. Di hari yang sudah ditentukan, semua orang diundang ke istana Qarun, termasuk Nabi Musa dan Nabi Harun.

Setelah perjamuan, Nabi Musa diminta bicara oleh Qarun tentang aturan-aturan Tuhan bagi Bani Israil. Maka diumumkanlah syariat zakat yang sudah ditetapkan, diumumkan pula aturan-aturan lain bagi orang yang mencuri dan berzina. Bagi orang beristri yang melakukan zina maka harus dirajam hingga mati.

"Siapapun yang melakukan harus dirajam?" tanya Qarun.

"Ya!" tukas Nabi Musa.

"Meskipun yang melakukan adalah seorang nabi?" cecar Qarun.

"Ya! Meskipun aku yang melakukan, maka harus dirajam!" jawab Nabi Musa.

"Wahai Bani Israil!" seru Qarun, "Ketahuilah bahwa Musa harus dirajam sampai mati! Ia telah berbuat zina dengan seorang pelacur!"

Lalu muncullah seorang wanita muda ke tengah ruangan. Ia, kata Qarun, adalah pelacur yang sudah berzina dengan Musa. Beberapa orang mulai bersuara, ada yang bilang pernah melihat Musa masuk ke rumah wanita itu. Ada yang mengatakan pernah melihat mereka berduaan, dan kedustaan-kedustaan lainnya. Ruangan perjamuan pun heboh, orang-orang ricuh, ada yang mulai menghujat Nabi Musa.

"Wahai wanita! Ungkapkanlah kebenaran tentang Musa!" kata orang-orang kepada wanita asing itu.

Sejenak si wanita memandang wajah Nabi Musa yang nampak tenang dan berwibawa. Tak bisa dipungkiri pancaran cahaya kenabian menyeruak sanubarinya. Gelombang ilahi merasuk di hatinya, hidayah menyirami manusia penuh dosa itu, sesuatu yang tak diprediksi oleh Qarun sama sekali.

"Seumur hidupku," kata si wanita, "Kulalui hari-hariku dengan bergelimang dosa. Dan hari ini aku tak mau mengakhiri masa hidupku dengan melakukan dosa yang sangat besar. Aku tak mau memfitnah seorang nabi!"

Qarun tercengang. Orang-orang yang sudah berdusta pun tercekat. Semua terdiam menunggu ucapan si wanita selanjutnya.

"Ketahuilah! Aku disuruh oleh Qarun untuk berbohong tentang Nabi Musa! Lebih baik aku mati dalam keadaan jujur, daripada aku mati dalam keadaan memfitnah seorang nabi!"

Ruangan kembali ricuh. Qarun dan anak buahnya salah tingkah. Nabi Musa naik pitam dan mulai bermunajat kepada Allah untuk menghukum Qarun. Maka dikuasakanlah bumi untuk patuh kepada Musa.

"Wahai Bani Israil!" seru Nabi Musa, "Kalian sudah pernah menyaksikan bagaimana nasib yang menimpa Firaun. Sebagaimana dahulu aku diutus untuk menghadapi Firaun, kini aku diutus untuk menghadapi Qarun. Bagi siapapun yang memihak Qarun, silakan tetap di istana ini. Bagi yang tidak, segera keluar dari sini!"

Mendengar seruan ini, orang-orang pun berhamburan keluar. Mereka tak mau bernasib sial sebagaimana Firaun yang ditenggelamkan fi Laut Merah. Hanya ada dua orang yang tetap tinggal di istana bersama Qarun. Nabi Musa mulai menitahkan bumi untuk menelan Qarun. Bumi pun ambles.

Ketika Qarun sudah tenggelam sampai leher, ia berteriak-teriak minta tolong kepada Musa tak kurang dari tujuh puluh kali, "Wahai Musa! Tolong aku! Tolong aku! Tolong aku! Wahai Musa! Tolong aku!"

Teriakan memelas itu tak digubris Nabi Musa, sampai akhirnya Qarun ambles ke dalam bumi bersama seluruh hartanya, tanpa sisa! Kekayaan, kejayaan, kealiman, kehebatan Qarun, semua tenggelam bersama keangkuhan, kedengkian, dan kebenciannya.

Setelah kejadian itu, Allah mewahyukan teguran kepada Musa, "Wahai Musa. Mengapa engkau begitu keras hati? Qarun memanggil-manggil namamu sampai tujuh puluh kali namun kau tetap tak mau memaafkannya. Kalau saja yang Qarun panggil adalah Nama-Ku, meski satu kali saja, tentu akan Kutolong dia! Sejak saat ini, tidak akan Aku kuasakan bumi kepada siapapun setelahmu wahai Musa."


Sirajut Thalibin, II/300-302
SMA N 1 Slawi, Sabtu 3 Agustus 2019

No comments:

Powered by Blogger.