Para Habib di Dalam Hidupku

@ziatuwel

Belakangan nama para habib makin banyak dibicarakan dimana-mana. Khususnya di media-media nasional dengan berbagai kesan dan framingnya. Hal ini membuatku ingin bernostalgia, mengenang nama-nama para habib yang bersinggungan langsung dengan hidupku.

Tentu saja yang dimaksud dengan 'habib' di sini adalah dalam istilah keindonesiaan, yakni para keturunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Para ahlul bait yang sangat dihormati oleh kalangan Nahdliyyin dengan pernghormatan mutlak.

HABIB ABDULLAH BIN ALWI ALHADDAD

Mungkin beliau inilah nama habib yang pertama kali kukenal dan sangat berpengaruh dalam hidupku. Tokoh ulama besar tunanetra yang kitab-kitab dan ratibnya sangat masyhur dibaca para santri di seantero dunia. Dulu di majlis ta'lim Madrasah Bustanul Khairat Tuwel tiap ba'da Maghrib dibacakan salah satu kitab karya beliau, an-Nashaih ad-Diniyah wa al-Washaya al-Imaniyyah.

Saat itu aku masih usia SMA dan sudah lulus madrasah diniyah sampai jenjang wustho. Ajaran-ajaran Imam Haddad dalam kitab itu sangat membekas bagiku. Bahkan ketika lulus SMA dan pertama kali kuliah di STAN, dua senior aktivis dakwah kampus bertanya siapa ulama favoritku, kujawab dengan nama Imam Haddad. Sayangnya mereka tak paham siapa beliau.

HABIB SOLEH BIN ALI ALATTAS

Beliau adalah pengasuh Pesantren Ribath Nurul Hidayah di desa Bedug, Pangkah. Maka masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Habib Soleh Bedug. Usianya masih muda, alumni Al-Anwar Sarang asuhan Mbah Maimoen, Darul Hadits Malang aduhan Habib Abdullah Bilfaqih, dan Darul Musthafa asuhan Habib Umar bin Hafizh.

Dulu zamanku SMA di Slawi, selain wira-wiri ngaji ngalong di Attauhidiyyah Giren kepada Kiai Ahmad dan Kiai Hasani, aku juga melazimi hadir di majlis ta'lim Nurul Hidayah asuhan Habib Soleh Bedug tiap malam Rabu. Saat itu lokasinya masih di Giren, beliau belum mendirikan pesantren. Acaranya pbacaan ratib, maulid Dhiyaul Lami, dan pengajian kitab. Saat itu aku juga terlibat membantu pembuatan buletin majlis.

Kegiatan-kegiatan pemgajian para habib memang sangat subur di Tegal. Beberapa majlis habib yang pernah kuhadiri selain Habib Soleh misalnya adalah majlis Al-Hikmah Ketitanv asuhan almarhum Habib Gasim bin Hasan Bin Syech Abu Bakar, pengajian Habib Mahdi Alhiyed pembina majlis Ahbabul Mustofa Kaligayam, pengajian umum Habib Tohir bin Abdullah Alkaf di alun-alun Tegal, Habib Abdullah Al-Haddad, juga majlis pembacaan Maulid Simthud Duror di kediaman Habib Abdul Hadi bin Zain Baragbah Pakembaran yang dekat dari rumah kosku di Slawi.

HABIB LUTFI BIN YAHYA

Siapa yang tak kenal beliau, tokoh besar pemimpin organisasi tarekat sedunia. Dahulu pertama kali kutahu beliau adalah melalui fotonya yang banyak terpampang di rumah-rumah orang. Kemudian dalam acara-acara haul di Pesantren Babakan Lebaksiu, beliau kerap rawuh mengisi pengajian, selain juga hadir almarhum Mbah Maimoen Zubair Sarang dan almarhum Habib Soleh bin Ali Alhabsyi Pemalang.

Saat aktif di Rohis SMA, kami pernah mengagendakan ziarah ke Pekalongan sekaligus sowan kepada Abah Lutfi. Kuingat betul saat itu kami ditemui tengah malam, dan kuingat betul petuah beliau; jangan memburu jadi pemimpin, tapi bersiaplah kalau ditakdirkan jadi pemimpin. Amalan yang beliau ijazahkan saat itu masih kuamalkan hingga sekarang, berupa bacaan surah Al-Insyirah tiga kali dan Ayat Kursi tiap selesai sembayang.

Belakangan aku juga turut terlibat dalam perhelatan yang diinisiasi Abah Lutfi, yakni konferensi sufi internasional di Pekalongan beberapa tahun lalu. Saat itu aku ikut rewang bersama tim media. Di kesempatan itu aku bisa berjumpa dengan para habib muda dengan semangat super semisal Habib Ahmad Alhabsyi dan Habib Hanif Alattas, menantu Habib Riziq Syihab.

Seusai acara, kami satu tim sowan kepada Abah. Melalui ponselku, Abah Lutfi melihat tayangan video testimoni para tamu yang hadir di konferensi tersebut dan beliau gembira. Saat itu kondisiku sudah sakit-sakitan. Mengomentari hal ini, Abah Lutfi dhawuh, "Ah, itu cuma sebab was-was." Sejak saat itu, kulazimkan membaca surah Al-Falaq dan An-Nas dalam bacaan shalatku.

HABIB JINDAN DAN HABIB AHMAD

Sejak diterima di STAN, aku mulai aktif mencari informasi pengajian sekitar kampus. Selain mengaji di majlis ta'lim Ikatan Mahasiswa Nahdliyyin (IMAN), aku juga mengaji di majlis-majlis sekitar, seperti majlis ta'lim malam Jumat di Pesantren Darul Mustofa Al-Mukhtar asuhan Kiai Ubaidillah Hamdan.

Namun majlis yang paling kulazimi dan kuupayakan betul untuk selalu hadir adalah majlis ta'lim tiap malam Rabu dan malam Jumat di Pesantren Al-Fachriyyah asuhan Habib Jindan dan Habib Ahmad, di Kampung Gaga Larangan Selatan. Kalau ada motor, akan kupinjam untuk berangkat ngaji. Tak ada motor, kupinjam sepeda. Tak ada sepeda ya jalan kaki karena memang cuma 3 kilometer dari kosku di Jurangmangu Timur.

Habib Jindan mengisi tiap malam Jumat, sedangkan Habib Ahmad malam Rabu. Kitab-kitab yang dikaji semisal karya-karya Imam Haddad, salah satunya yang sangat membekas bagiku adalah kitab Adabu Sulukil Murid, kitab tipis namun sangat pokok. Pernah pula kami mengundang Habib Ahmad mengisi pengajian bulanan IMAN di Masjid Al-Barkah Kalimongso, dekat kampus STAN.

Suasana rahat khas habaib, aroma teh Arab, dan kemebul asap bukhur masih sangat berkesan dalam ingatanku. Bisa melazimi majlis putra-putra Habib Novel ini sangat kusyukuri sebagai salah satu anugerah dalam hidupku. Selain dua habib ini, ada pula Habib Syafiq Bin Syech Abubakar, Habib Alwi bin Syihab, dan Habib Alwi Alhabsyi yang kerap didapuk mengisi pengajian bulanan di situ.

HABIB MUNZIR ALMUSAWA

Selama kuliah di ibukota, tiap malam Selasa kuupayakan hadir di majlis ta'lim asuhan almarhum Habib Munzir bin Fuad Almusawa yang diberi nama Majelis Rasulullah. Tempatnya cukup jauh, di masjid Al-Munawwar dekat Tugu Pancoran. Biasanya aku berangkat dengan nebeng teman dari Jurangmangyu, atau mampir dulu ke Depok lali beranhkat bersama kawan-kawan yang kuliah di UI.

Majlis Habib Munzir sangat tenteram, haibah atau wibawanya sangat terasa, cahayanya berpendar-pendar. Tata bahasa dan gaya penyampaian almarhum pun sangat simpatik. Aku sangat beruntung bisa mengalami pengajian almarhum yang wafat di usia ke-40 itu. Di majlis ini sangat kental nuansa mahabbah kepada Allah dan Rasulullah.

Selain ke Pancoran, aku juga kerap menghadiri majlis-majlis lain di ibukota. Semisal majlis Al-Kifahi asuhan Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri, majlis ta'lim asuhan Habib Abdurrahman bin Muhammad Alhabsyi di Kwitang, dan sesekali hadir di majlis Nurul Mustofa asuhan Habib Hasan bin Ja'far Assegaf.

HABIB UMAR BIN HAFIZH

Sejak ngaji di majlis Habib Soleh Bedug, hingga di Habib Jindan, Habib Ahmad, dan Habib Munzir, sudah sering kudengar nama Habib Umar bin Hafizh. Tak lain karena para habib itu adalah murid Habib Umar. Kedatangan Habib Umar ke Indonesia kemudian mengambil banyak murid dari sini untuk dididik di Hadramaut adalah jasa almarhum Habib Anis bin Alwi Alhabsyi Solo, atas titah almarhum Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf Jeddah.

Pertama kali kulihat sosok Habib Umar adalah saat acara haul di Pesantren Attauhidiyyah Giren, atas undangan Kiai Ahmad bin Said bin Armiya. Saat itu hadir juga almarhum Habib Syech Aljufri. Acara-acara di Giren memang sering dihadiri para habib mancanegara, termasuk sulthanul ilmi almarhum Habib Salim bin Abdullah Assyatiri juga mufti syafiiyah di Madinah, Habib Zain bin Smith.

Kemudian saat kuliah di ibukota, aku makin sering melihat beliau. Baik di haul Cidodol, tabligh akbar di Monas, atau rohah di Al-Fachriyyah. Pada salah satu kesempatan rohah, Habib Umar mengijazahkan kitab susunan wirid yang beliau susun, Khulashoh Madad Nabawi. Momen-momen ini sungguh sangat kusyukuri. Ajaran-ajaran beliau yang mengedepankan kasih sayang dalam dakwah sangat membekas bagiku. Terutama bagaimana kuamati sikap serius tapi santai, klasik tapi elegan, ketat tapi longgar, yang dicerminkan murid-murid beliau, semisal Habib Ali Zainal Abidin Aljufri dan lainnya.

Mengingat nama-nama ini, dua tahun kesempatan merantau di ibukota sangat kusyukuri. Meskipun kuliahku di sana gagal dengan drop out sampai dua kali, tak menjadi penyesalan bagiku. Sebab dalam dua tahun itu kudapatkan pengalaman sangat mahal berupa mulazamah di majlis-majlis para habib yang bercahaya. Merasakan nuansa yang kental dengan adab, dzauq, dan mistisme khas para sadah Hadrami.

HABIB SAGGAF BIN MAHDI BIN SYECH ABUBAKAR

Siapa tak kenal almarhum Habib Saggaf? Seorang habib alim dan arif yang mengasuh ribuan santri dengan gratis, begitu cinta tanah air sampai-sampai rumahnya dicat merah putih, begitu rendah hati hingga mau mencium tangan Gus Dur. Teman-teman di IMAN STAN punya hubungan khusus dengan habib yang legendaris itu.

Sebelum mendirikan pesantren di Parung Bogor, Abah Saggaf sempat berdakwah di bilangan Bintaro, dekat kampus STAN. Beliau mengajar Tafsir Jalalain dan diikuti para ulama sekitar, termasuk mahasiswa STAN yang jadi sesepuh-sesepuh IMAN saat itu. Maka tak jarang acara IMAN dihadiri Abah Saggaf.

Suatu kali kami menyelanggarakan try out ujian saringan masuk STAN di pesantren beliau, Al-Ashriyyah Nurul Iman. Kami disambut dengan sangat ramah dan hangat. Kusaksikan langsung sosok besar yang sangat bersahaja dan sederhana itu, selalu berbusana khas Arab namun sangat terasa jiwa keindonesiaanya.

Aku terkesan bagaimana beliau menjalin hubungan dengan Yayasan Buddha Tsu-chi, serta menumbuhkan kemandirian santri dengan berbagai lini usaha mandiri. Entah sekedar membesarkan hati kami atau tidak, kata beliau nama Nurul Iman terinspirasi dari IMAN.

Habib Saggaf bersama teman-teman IMAN STAN, aku bersarung hijau.

SAYYID ABDUL MALIK BALGHEITS

Salah satu temanku di kampus STAN bernama Abdul Malik Balgheits. Orangnya kurus, tinggi, dan berkulit agak gelap. Hidungnya mancung dan memang berrona Arab. Ketika kutanya apakah dia habib, temanku itu menyanggah, bukan katanya. Tentu saja penyanggahan itu hal yang wajar. Namun kutahu betul bahwa marga Balgheits merupakan salah satu fam alawiyyin.

Dia salah satu kawan yang lumayan akrab denganku. Asli Jakarta tapi tidak hedon dan belagu. Entah sekarang ia ditempatkan dimana aku tak tahu.

SAYYID HUSEIN BIN UMAR ALHADDAD

Hobiku mampir ke Depok mengenalkanku dengan Husein Alhaddad, asli Tegal dan kuliah di ibukota. Ia masih terhitung keluarga penghuni Gubah Haddad di Tegal. Di mata teman-temannya, Husein ini cukup unik dan ajaib. Bagi ukuran santri, ia tergolong majdzub. Ia tak mau dipanggil 'habib', baginya tak semua keturunan Nabi pantas dipanggil 'habib', apalagi yang masih muda-muda, cukup 'yik' saja katanya.

Beberapa kali pengalamanku berinteraksi dengannya juga cukup unik. Pernah kami naik kopaja untuk hadir majlis di Pancoran, lalu ada seorang pria lusuh yang kukira pengamen, ia masuk kopaja dan seketika menyanyi. Bukan lagu pop atau dangdut, yang ia dendangkan adalah salawat Nabi. Kemudian Husein membisikiku untuk memperhatikan orang itu. Setelah berdendang, bukannya minta uang, ia langsung turun dan menghilanh entah kemana.

Saat kami ziarah bersama ke makam Habib Husein bin Abubakar Alaydrus Luar Batang, kulihat Husein hanya berdiri di depan makam sambil 'berbincang' entah dengan siapa. Sedangkan aku -tentu saja- melaksanakan tertib ziarah mulai dari salam, tahlilan, sampai doa. Ketika kutanya, dia jawab bahwa kirim hadiah pahala bisa di rumah, kalau ziarah ke makam wali acaranya ya matur langsung kepada sang wali.

SAYYID HASAN ALKAF

Tahun 2010 aku hijrah ke Yogyakarta, mondok di Pesantren Al-Munawwir Krapyak, tepatnya di kamar 7 komplek Madrasah Huffadh. Beberapa tahun kemudian, ada santri baru jadi anggota kamar 7, namanya Hasan Alkaf asal Kudus. Agaknya dia masih famili dengan Habib Ja'far Alkaf Kudus yang masyhur kewaliannya itu.

Hasan ini wajahnya tak kelihatan Arab, sudah njawani. Tiap kali kamar kami dapat jatah jadi panitia maulid malam Jumat, Hasan selalu kami dapuk baca maulid kakek buyutnya itu. Tapi dia tak lama di pondok, suatu ketika dia izin pulang sebab ada keluarga yang sakit, lalu tak balik lagi ke pondok.

SAYYID MUHSIN BIN MUHAMMAD BASYAIBAN

Tiap shalat Jumat di masjid pondok, kerap kulihat santri berbaju koko dan kopyah putih dengan wajah kearab-araban. Dia santri ma'had 'aly dan tinggal di komplek D. Baru beberapa waktu kemudian kutahu namanya Muhsin Basyaiban.

Awal perkenalanku dengan Muhsin adalah sebab proyek garapan buku. Aku dipasrahi urusan layout untuk penerbitan yang sedang dirintisnya. Penerbit Layar namanya, sebuah upaya untuk memasyarakatkan karya para ulama -khususnya alawiyyin. Saat pernikahanku, dia hadir kondangan. Sayangnya saat dia nikah tak ada kabar, belakangan kutahu dia nikah dengan orang Solo, dekat dengan guru yang sering diceritakannya, Habib Alwi Alhabsyi.

Demikianlah beberapa nama habib yang pernah bersinggungan dalam hidupku secara langsung hingga saat ini. Tentu tak mengenyampingkan para habib lain yang kukenal, pernah bertemu, atau berinteraksi secara tak langsung. Secara pribadi kuanggap mereka adalah keluarga Nabi, dan kuhormati mereka sebagaimana para kiai meneladankan. Tentu saja dengan penghormatan yang sebatas kadar pemahaman dan kesanggupanku.

Salatiga, Jumat Kliwon 23 Agustus 2019

No comments:

Powered by Blogger.