Menentukan Ujiannya Sendiri - KBQTDiary #35

@ziatuwel

Sabtu pagi ini agenda kami rembugan ujian akhir semester, atau yang selama ini disebut dengan 'Ujian Tugas Akhir'. Kami duduk santai di halaman, melingkar sambil berteduh pepohonan rindang.

Dahulu di KBQT sempat diterapkan ujian semester ala dinas berupa pengerjaan kiriman soal-soal sesuai kategori mata pelajaran. Namun model semacam itu dirasakan tidak sesuai dengan prinsip kemerdekaan belajar ala KBQT, maka dibuatlah model ujian mandiri berupa kreasi karya individu.

Konsepnya simpel; setiap anak merancang proyek untuk membuat karya. Tentu saja jenis karyanya bebas, sesuai minat dan kemampuan masing-masing anak. Kemudian karya tersebut dipresentasikan atau diujiankan di akhir semester.

Selama ini, proses tersebut dinamai 'Tugas Akhir' (TA). Masa pengerjaan selama enam bulan, dilaporkan progresnya tiap dua pekan di hadapan forum besar. Lalu di akhir semester diujiankan secara tertutup bersama penguji sesuai kategori karya. Kemudian semua karya itu ditampilkan dalam pameran bersama wali murid dan seluruh warga komunitas.

Siang ini kani rembugan apakah akan mempertahankan Tugas Akhir seperti itu atau ada bentuk lain. Mula-mula kami menegaskan bahwa kegiatan utama di KBQT adalah belajar, berkarya, dan bergaul. Entah dalam bentuk ngobrol, main, pentas, atau lainnya, termasuk pembuatan karya semesteran. Tentu saja semua proses tersebut mengorbit pada anak, bukan yang lain.

Di momen rembug ini aku sekedar memoderatori biar terarah. Ada empat poin yang kami bahas mengenai proses pembuatan karya semesteran ini. Yakni nama, tempo, laporan, dan ujian. Evaluasi dan usulan dilontarkan, terutama dari mereka yang sudah mengalami dua sampai tiga kali pengerjaan Tugas Akhir.

Hasil rembugan menyepakati beberapa hal penting. Pertama, adanya perubahan nama 'Tugas Akhir' menjadi 'Proyek QiTa' atau 'QT Project'. Istilah 'tugas' dianggap terlalu sepaneng, dan istilah 'akhir' juga tidak relevan sebab proses ini berlangsung tiap tahun.

Kedua, tempo pengerjaan proyek karya tetap selama satu semester, yakni antara empat hingga enam bulan. Namun bulan pertama khusus fokus untuk menyusun konsep karya yang akan dibuat. Yakni meliputi; jenis karya, detail karya, alasan pembuatan karya, tahap proses kreasi, dan frekuensi pelaporan progres.

Ketiga, pelaporan progres kreasi karya dilakukan secara individual dengan pendamping kelas masing-masing. Frekuensinya ditentukan sendiri oleh anak sesuai dengan jenis karya yang dibuat. Semuanya dicatat di dalam buku report yang sudah dibagikan. Laporan massal di forum besar dilakukan tiga kali selama proses ini, yakni berupa presentasi konsep karya di awal, laporan progres pengerjaan di tengah, dan presentasi hasil karya di akhir saat pengujian.

Keempat, kami sepakat mengubah nama 'Ujian Tugas Akhir' menjadi 'Bedah Karya'. Prosesnya pun tak lagi tertutup, melainkan terbuka. Artinya, masing-masing anak akan maju satu-satu untuk mempresentasikan karyanya, diwawancara panelis, kemudian diapresiasi teman-temannya. Dengan model semacam ini, satu hari hanya khusus dipakai untuk bedah satu kategori karya. Kalau ada enam kategori berarti ada enam hari Bedah Karya yang bisa disebut dengan 'Pekan Bedah Karya'.

Proses berkarya semacam ini jelas butuh komitmen dan kesadaran dari anak-anak. Tentu tanpa menghilangkan peran pendamping sebagai penyemangat dan pemantau perkembangan mereka. Proses semacam ini mengingatkanku saat penyusunan skripsi. Tema dibuat sendiri, proses dikerjakan secara mandiri, progres dilaporkan ke dosen pembimbing, lalu setelah selesai dipresentasikan di hadapan para penguji.

Begitulah. Ternyata anak-anak KBQT sudah terbiasa dengan budaya belajar dan berkarya mandiri ala mahasiswa semacam itu.

___
Kalibening, 24 Agustus 2019

No comments:

Powered by Blogger.