Ketika Allah Menegur Empat Rasul - Kisahikmah #6

Oleh: @ziatuwel

Jika engkau pasang tampang garang terhadap mereka yang kau anggap salah, sehingga memutus harapan mereka terhadap kasih sayang Tuhan, maka siapakah engkau dibanding empat rasul ini, 'alayhimus shalatu was salam?

Lihatlah ketika Ibrahim ditegur Tuhannya sebab ia 'hobi' mendoakan kehancuran bagi para pendosa. Lihat pula ketika Musa ditegur Tuhannya ketika ia mengabaikan ratapan Qarun. Lihat bagaimana Yunus ditegur Tuhannya saat air matanya mengalir sebab pohon yang tak berbuah, bukan menangisi kaum yang meronta mohon pengampunan. Jangan lupa juga ketika Muhammad ditegur Tuhannya ketika ia menghardik sekelompok orang yang sedang terbahak-bahak di sekitar Baitullah.

Tahukah engkau kisah-kisah itu? Mari, biar kuceritakan.

IBRAHIM 'ALAYHISSALAM

Baginda Ibrahim sang penghancur berhala terkenal sangat 'garang'. Jika beliau melihat kedurhakaan seseorang atau suatu kaum, langsung beliau kutuk dengan doa kehancuran tanpa kompromi yang pasti ampuh. Bagaimana tak ampuh, sedangkan beliau bergelar 'khalilullah'.

"Mereka sudah diberi anugerah mahal berupa kehidupan, sekedar numpang hidup di muka bumi, tapi berani-beraninya durhaka kepada Tuhan, keterlaluan! Hancurkan mereka duhai Allah!" kutuk Nabi Ibrahim.

Hingga suatu ketika, saat sudah banyak kaum yang diazab dengan lantaran doa bala' beliau, Allah mewahyukan perintah tak terduga. Yakni titah untuk menyembelih putranya tersayang. Suatu perintah yang segera dipatuhi, namun terasa sangat berat bagi beliau. Sebagai sosok nabi yang garang sekalipun, beliau tetaplah manusia dan seorang ayah yang memiliki belas kasih.

Ketika pisau sudah menempel di leher putranya, ketika tangan sudah siap menggorok leher anak itu, Ibrahim dengan segenap ketrenyuhannya bergumam, "Duh Gusti, inilah putraku, darah dagingku.."

Dan kita semua tahu kisah selanjutnya. Sang putra diganti dengan domba dari Langit. Diiringi sapaan dari Gusti Allah, "Sebagaimana engkau merasa payah untuk menyembelih putramu, demikian pulalah Aku saat mengazab hamba-hamba ciptaan-Ku."

Meskipun mereka, para pendurhaka itu, membangkang aturan-aturan Allah, namun masih ada kesempatan bagi Nabi Ibrahim untuk mendakwahi mereka. Masih ada kesempatan bagi pendurhaka sekelam apapun untuk bertobat dan kembali ke jalan kesucian-Nya.

"Aku," kata Allah, "Lebih pengasih daripada siapapun kepada hamba-hamba-Ku."

MUSA 'ALAYHISSALAM

Setelah sebelumnya berhadapan dengan Firaun yang kemudian tenggelam di Laut Merah, kini Nabi Musa berhadapan dengan Qarun. Sosok manusia yang dikenal paling kaya di muka bumi. Jika Firaun adalah raja Mesir yang pernah mengasuh Musa ketika belia, maka Qarun adalah sepupu Musa dari satu kakek yang sama. Jika Musa adalah putra Imran bin Qahits, maka Qarun adalah putra Yash Har bin Qahits.

Qarun merupakan sosok sempurna di mata Bani Israil. Dia rupawan, suaranya merdu, paling paham terhadap kitab suci Taurat, keluarga para nabi, cerdas, dan tentu saja kaya raya. Namun semua kelebihan itu ternyata menggelincirkan Qarun, sehingga ia memendam dengki dan benci kepada dua nabi yang juga sepupunya, Musa dan Harun.

Berbagai pembangkangan dan muslihat ia lakukan untuk meruntuhkan pengaruh Nabi Musa di tengah masyarakat. Hingga ujungnya ia menolak membayar zakat dan memprovokasi Bani Israil untuk turut menolak, bahkan ia juga menuduh Musa berbuat zina dengan seorang pelacur. Dengan semua pembangkangan ini, Nabi Musa murka dan menampakkan mukjizatnya.

Bumi tempat Qarun berdiri pun ambles menelan semua yang ada di atasnya. Segala harta benda Qarun lenyap ditelan bumi. Termasuk si jumawa itu sendiri, dia merengek-rengek saat tubuhnya berangsur-angsur tenggelam ke tanah. Saat bumi sudah menelannya hingga batas leher, Qarun masih sempat merengek memanggil-manggil nama Musa,

"Wahai Musa! Tolong aku! Tolong aku! Tolong aku!" rengeknya hingga tujuh puluh kali lebih.

Namun rengekan itu tak digubris oleh Nabi Musa. Hingga akhirnya seluruh tubuh Qarun lenyap ditelan bumi beserta semua kejayaan duniawinya. Namun atas kejadian ini, Allah menegur Musa Sang Kalimullah itu,

"Wahai Musa, betapa keras hatinya engkau. Qarun menyebut namamu dan minta tolong padamu hingga tujuh puluh kali, namun tak kau pedulikan. Kalau saja yang dia sebut adalah Nama-Ku, meski hanya satu kali saja, niscaya akan Kutolong dia!"

Sejak saat itu, Allah Ta'ala tidak akan lagi menguasakan bumi kepada siapapun setelah Nabi Musa. Allah lagi-lagi menegaskan, bahwa Dialah yang paling pengasih daripada siapapun kepada hamba-hamba-Nya.

YUNUS 'ALAYHISSALAM

Setelah sekian lama berdakwah, tak ada satupun yang mau mengikuti Nabi Yunus. Mereka justru mencaci dan menyakitinya. Hingga ia pun hengkang dari kampung halamannya, menyeberangi lautan luas. Nahas, saat berada di tengah lautan, kapal yang ia tumpangi macet, oleng, kelebihan muatan.

Setelah beban kapal paling berat dibuang, kapal masih saja bergeming tak mau dibawa angin. Hingga nahkoda kapal curiga, pasti ada orang yang 'bermasalah' di kapalnya itu. Maka orang itulah yang harus dibuang ke laut agar kapal bisa selamat. Melalui proses undian berkali-kali, ndilalah terpilihlah Yunus berkali-kali pula. Tentu saja hal ini bukan kebetulan, melainkan memang drama skenario Tuhan yang sudah ditentukan.

Singkat kisah, Nabi Yunus dibuang ke laut, ditelan ikan Nun, disekap kegelapan demi kegelapan di dasar samudera dan perut ikan, bertasbih dan mengakui kezaliman diri hingga akhirnya dikeluarkan dari perut ikan dan terdampar di suatu pulau terasing yang kering kerontang. Di pulau itu, Nabi Yunus dicukupi oleh Allah dengan makanan berupa tanaman sejenis labu yang tumbuh merambat di atas tanah.

Hingga sampailah pada hari ke empat puluh, tanaman itu meranggas tak lagi tumbuh. Tak ada lagi makanan yang bisa dimakan Nabi Yunus di pulau asing itu. Berhari-hari Nabi Yunus kelaparan hingga ia pun bermunajat kepada Allah sambil terisak,

"Duh Gusti..."

Lalu turunlah wahyu Allah menegurnya, "Hanya sebab tanaman meranggas kau menangis, namun ribuan orang tersesat yang kini menangis mengharap tuntunan justru tidak kau pedulikan, malah kau tinggalkan."

Teguran ini tentu menghenyak sanubari Nabi Yunus. Ribuan orang yang dimaksud adalah kaum yang ia tinggalkan. Mereka kini sudah bertobat dan menyadari kebenaran dakwah Nabi Yunus. Mereka mencari-cari ke mana nabinya itu pergi. Mereka menyesali segala perlakuan kepada sang nabi.

Nabi Yunus pun menyadari bahwa semua kejadian yang menimpanya sejak pergi dari kaumnya adalag teguran Ilahi. Mulai dari kapal oleng, dibuang ke laut, dipenjara ikan di dasar laut, hingga terdampar pulau terpencil ini adalah rencana Allah sekaligus teguran-Nya, untuk mengembalikannya kepada kaumnya.

Nabi Yunus kemudian bertekad kembali ke kampung Ninawa, tempat di mana kaumnya berada. Dengan segala kuasa Tuhan, ia pun bisa pulang dengan selamat tanpa halangan apapun. Bagaimanapun keadaan suatu kaum, Allah menghendaki kebaikan bagi mereka, Dia paling pengasih dari siapapun kepada hamba-hamba-Nya.

MUHAMMAD SHALLALLAHU 'ALAYHI WASALLAM

Ketika Baginda Nabi Muhammad masuk area Masjidil Haram, beliau melihat beberapa sahabat sedang bercengkerama di pelataran sambil tertawa-tawa. Pemandangan ini agaknya membuat beliau tak nyaman. Kemudian beliau menegur mereka,

"Mengapa kalian tertawa? Andai saja kalian tahu apa yang aku tahu, tentu kalian akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis," demikian kata Nabi sambil memberi peringatan tentang kematian dan alam kubur.

Tentu saja teguran ini membuat para sahabat tertunduk diam seketika. Mereka takut Rasulullah marah. Mereka terbungkam tanpa suara. Rasulullah melanjutkan jalannya, hingga ketika sampai di Hajar Aswad beliau kembali menemui para sahabatnya itu. Beliau bersabda,

"Baru saja Jibril mendatangiku, katanya Allah menegurku; wahai Muhammad, mengapa engkau memutus harapan hamba-hamba-Ku terhadap-Ku? Berilah kabar gembira pada mereka bahwa Aku adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Lagi-lagi Allah menegaskan bahwa Dialah yang paling pengasih daripada siapapun kepada segenap hamba-hamba-Nya. Bahkan disebutkan dalam satu hadits bahwa Allah Ta'ala menyayangi hamba-Nya lebih dari kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

Wallahu a'lam.

__
Sirajut Thalibin, Syaikh Ihsan Jampes, II/297-301
Tuwel, Sabtu, Arafah 1440

1 comment:

Powered by Blogger.