Jangan Sekedar Mendalami Kata-kata - NahwuSufi #0

Oleh: @ziatuwel

Ini adalah seri tulisan hamba untuk mengupas satu kitab yang terhitung unik di bidangnya. Kitab yang membahas tata bahasa Arab dari kacamata tasawuf. Judulnya Khulashah Syarhi Ibni 'Ajibah 'ala Matni al-Ajurumiyyah fi at-Tashawwuf.

Ada tiga sosok besar yang terlibat dalam kitab ini. Pertama, penulis kitab tersebut yang bernama Syaikh Abdul Qadir bin Ahmad al-Kuhaini. Kitab ini menjadi khulashah (ringkasan) atas kitab yang ditulis oleh sosok kedua; Imam Ahmad Ibnu Ajibah. Beliau -Ibnu Ajibah- menulis kitab yang menjadi syarah (penjabaran) atas kitab tata bahasa Arab (Nahwu) berjudul Ajurumiyah karangan sosok ketiga; Imam Muhammad bin Abdullah as-Shonhaji.


Melalui kitab ini, Al-Kuhaini membahas seluk beluk kalam, i'rob, khal, 'awamil, na'at, badal, masdar, dan tema-tema dasar lain dalam fan ilmu Nahwu dengan kacamata sufisme. Pembahasan tasawuf ini penting -kata penulis kitab- agar kita tak melulu berkutat pada lahiriah kata-kata. Agar kita bisa menggali kefasihan jiwa daripada sekedar bergumul dengan kefasihan lisan. Sebab di balik kata-kata ada yang lebih penting, yakni makna. Di balik segala pengetahuan akal ada yang lebih penting, yakni persaksian hakiki.

Berkali-kali, di bagian mukadimah, Al-Kuhaini menegaskan betapa pentingnya mengaji tasawuf melalui karya para sufi maupun bergaul dengan mereka. Ia mengutip banyak dhawuh para pembesar tasawuf tentang hal itu. Semisal dhawuh Imam Abu Hasan as-Syadzili, "Orang yang tak condong kepada ilmu kami ini dikuatirkan kelak mati dengan kondisi berkubang dalam dosa-dosa besar dan ia tak menyadarinya."

Dikutip juga ujaran Imam Syafi'i yang diriwayatkan Imam Nawawi di syarahnya atas kitab Al-Muhadzdzab. Imam Syafi'i dhawuh, "Telah kuambil pelajaran dari kaum sufi di majlis-majlis mereka berupa dua hal. Yakni;

الوقت سيف ان لم تقطعه قطعك
ان لم تشغل نفسك بالخير شغلتك بالشر

Pertama, bahwa waktu ibarat pedang, jika tak kau patahkan maka kau akan ditebasnya. Kedua, jika engkau tak menyibukkan nafsumu dengan kebaikan maka ia akan menyibukkanmu dengan keburukan."

At-Thaibi, penulis syarah atas tafsir Al-Kasysyaf, berkata; "Tak patut seorang alim yang paling unggul tiada banding di zamannya berhenti cukup sampai situ. Ia wajib berkumpul bersama para peniti jalan ini, ahli tasawuf, agar mereka bisa membimbingnya di jalan yang lurus, memperoleh kesejatian, menjernihkan jiwanya dari berbagai kotoran. Sehingga ia siap untuk menampung ilmu-ilmu batin dari sisi-Nya berupa rahasia-rahasia Ilahiyah dan cahaya Nubuwah. Kalau tidak, maka gunungan ilmunya takkan terbebas dari jerat hawa nafsu yang selalu menyeret kepada keburukan."

Hal ini agaknya yang dialami oleh Hujjatul Islam Imam Muhammad al-Ghazali dalam perjalanan hidupnya. Saat meninggalkan profesinya sebagai guru besar dan mulai menapaki perjalanan batin, Imam Ghazali berujar, "Betapa sudah kubuang-buang umurku dalam kehancuran. Duhai betapa sayang hari-hariku dahulu!"

Ujaran ini dikomentari orang, "Lhoh, bukankah sebab itulah Anda menjadi seorang 'Hujjatul Islam'?"

"Berhenti," sahut Imam Ghazali, "Jangan teruskan persangkaan semacam itu. Apakah kau tak tahu hadits Nabi Muhammad yang bersabda bahwa sesungguhnya Allah mengokohkan agama ini dengan sebab orang-orang buruk?"

"Maksud Anda?"

"Sudah tersingkap kini bagiku bahwa segala perjalanan yang dahulu kutempuh untuk berburu ilmu, tak lain adalah untuk mendapat pujian manusia. Untuk dipandang oleh kerabat dan masyarakat. Bukan untuk Allah, bukan pula untuk mengamalkan semua ilmu itu," sesal Imam Ghazali.

Demikian pentingnya bersentuhan dengan ilmu tasawuf sebagai pembersih jiwa, termasuk melalui ilmu tata bahasa. Jangan sampai ketika membaca ayat-ayat suci maupun sabda-sabda Nabi kita terjebak pada kata-kata, padahal di dalamnya ada samudera makna. Jangan sampai kita tersibukkan tanda, sehingga lupa kemana tanda itu menunjukkan arahnya.

Para ulama ahli ilmu batin, kata Syaikh Muhsin bin Abdussyakur di dalam kitab Al-Fuyudhatul Husna, saat menyimak kalam Tuhan tidaklah terjerat pada lahiriah ayat-ayatnya dan aturan-aturan bacaannya semata. Melainkan mereka memahami rahasianya dan mencoba mengamalkan isinya sehingga tersingkap bagi mereka makna hakiki di dalamnya. Begitupun saat menyimak sabda-sabda Nabi.

Imam Sibawaih, seorang pemuka ilmu tata bahasa, bahkan sampai berujar,

لسان فسيح معرب في كلامه
فيا ليت من حسرة العرض يسلم
وما ينفع الاعراب ان لم يكن تقي
وما ضر ذي التقوى لسان معجم

"Lisan yang fasih dan tertata di dalam ucapannya, alangkah sayang jika tak selamat dari kerugian. Tak berguna ketertataan lisan jika tak bertakwa, sedangkan orang bertakwa tak celaka meskipun lisannya tak tertata."

Orang berakal tak pantas hanya berhenti setelah membetulkan kefasihan lisan. Ia musti melanjutkan perjalanannya untuk melatih kefasihan hati. Yakni dengan membersihkannya dari kotoran-kotoran, kemudian mengisinya dengan keindahan-keindahan. Tentu yang dimaksud 'kefasihan lisan' adalah ilmu-ilmu lahiriah, sedangkan 'kefasihan hati' adalah ilmu batiniah. Disebutkan oleh Al-Kuhaini;

اصلاح اللسان دون اصلاح الجنان فسق وضلال واصلاح الجنان دون اصلاح اللسان كمال دون كمال واصلاحهما معا كمال الكمال

"Membetulkan lisan tanpa membetulkan hati adalah fasik dan sesat, membetulkan hati tanpa membetulkan lisan adalah kesempurnaan yang belum sempurna, sedangkan membetulkan keduanya adalah sempurnanya kesempurnaan."

Syaikh Al-Maimuni menambahkan, "Betapa buruk orang yang belajar membetulkan lisan tetapi tak belajar membetulkan hati. Padahal hatilah yang dipandang oleh Tuhan. Sedangkan ilmu Nahwu ada dua jenis, yakni Nahwu Lisan dan Nahwu Hati. Memahami ilmu Nahwu Hati jauh lebih penting bagi orang berakal daripada Nahwu Lisan."

Bagi para sufi yang telah menyelami kedalaman makna, tiap kata suci yang disimak bisa melahirkan cahaya yang berbeda-beda. Sesuai dengan kondisi batin dan kedudukan jiwanya di sisi Tuhan. Sebuah kata yanh biasa-biasa saja bagi ahli ilmu lahiriah bisa bermakna istimewa bagi ahli ilmu batin.

Suatu kali, Imam Syibli berpapasan dengan seorang budak wanita berkulit hitam. Wanita itu nampak terburu-buru dan gelisah saat berjalan. Imam Syibli pun menegurnya, "Hei, hati-hati jalanmu, pelan-pelan saja."

Wanita itu menyahut, "Dia! Dia!"

"Anda dari mana?" tanya Imam Syibli penasaran.

"Dari Dia! Dari Dia!" jawabnya.

"Lalu Anda mau kemana?"

"Menuju Dia!"

"Apa yang Anda inginkan sebenannya?"

"Ingin Dia!"

"Nama Anda siapa?"

"Dia!"

"Sudah berapa kali Anda menyebut-nyebut 'Dia'?"

"Takkan berhenti lisanku menyebut Dia sampai aku bertemu dengan Dia!"

Akhirnya Imam Syibli memungkasi pertanyaannya, "Apakah yang Anda maksud dengan 'Dia' adalah Allah?"

Seketika itu juga, saat mendengar nama Allah disebutkan, budak wanita itu kaget, terbelalak, histeris, hingga tercabut nyawanya. Tentu saja Imam Syibli tak menyangka kejadian itu, ia pun berniat mengurus jenazah wanita mulia itu. Namun saat hendak mendekati jenazah itu, ada suara tanpa rupa menegurnya,

"Hei Syibli! Orang yang diliputi cinta kepada Kami, kelelahan mencari Kami, sibuk menyebut Kami, dan mati atas Nama Kami, biarkan Kami yang mengurusnya! Tinggalkanlah dia!"

Mendengar kalimat ini, Imam Syibli menoleh kesana kemari, mencari sumber suara itu. Saat itulah jenazah si wanita hilang, entah diangkat ke langit atau langsung ditelan ke dalam bumi tiada yang tahu.

Teruntuk para wali yang tersebutkan namanya di tulisan ini dan tulisan-tulisan selanjutnya, terkhusus bagi para penyusun kitab; Imam Shanhaji, Imam Ibnu 'Ajibah, dan Syaikh Abdul Qadir Al-Kuhaini, mari layangkan Fatihah.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya, insyaallah.

___
Kalibening, Ahad 1 Muharram 1441

No comments:

Powered by Blogger.