Pembelajaran IPA Kontekstual di Pesantren Cikura - KBQTDiary #34

@ziatuwel

Seiring perkembangan zaman, pesantren terjalur menjadi beberapa jenis. Di antaranya adalah pesantren salaf yang fokus pada pendalaman ilmu-ilmu syariah (tafaqquh) dan berorientasi pada pengkaderan calon ulama. Pesantren Attauhidiyyah Tegal termasuk jenis pesantren semacam ini.

Ada dua lokasi Pesantren Attauhidiyyah Tegal, satu lokasi di desa Cikura kecamatan Bojong, satu lagi di desa Giren kecamatan Talang. Ciri khas pesantren ini adalah spesialisasinya dalam ilmu tauhid Sanusiyyah. Tiap pekan digelar pengajian kitab Ummul Barohin bagi masyarakat awam. Kitab pegon Risalah Awal susunan almarhum Kiai Said, pendiri pesantren ini, resmi jadi muatan lokal sekolah-sekolah dasar seantero Tegal.

Suasana belajar santri

Zaman remaja dahulu, aku kerap wira-wiri ke Cikura maupun Giren untuk turut mengaji. Pengajian umum digelar malam Selasa dan Jumat di Cikura, serta malam Kamis dan Ahad di Giren. Tiap Jumat Kliwon digelar istighotsah yang dihadiri ribuan orang entah dari mana saja. Sajian kitab untuk masyarakat awam selain Ummul Barohin (tauhid) adalah Bidayatul Hidayah (adab), Al-Hikam (tasawuf), dan Sullamut Taufiq (fikih).

Belakangan kudengar ada pula pengajian kitab ushul fikih karya pengasuh di momen pengajian umum itu. Untuk santri mukimnya, kurikulum pengajian cukup berat. Banyak di antara santri yang sudah mengarang kitab mereka sendiri. Tak sedikit pula di antara mereka yang menghapal dan menguasai kitab-kitab besar semisal Minhajut Thalibin-nya Imam Nawawi. Tentu saja mereka juga menguasai standar-standar hapalan ala pesantren salaf lain semisal Alfiyyah maupun Zubad.

Belum lagi tradisi ritualnya yang sangat kental. Selain akrab dengan kitab, para santri juga lazim berkutat dengan tasbih dan disiplin wirid yang tergolong berat. Intinya, pesantren ini betul-betul diarahkan oleh pengasuhnya untuk menjadi kawah candradimuka para ulama. Bukan hanya sosok-sosok yang berilmu, tapi juga berkhosy-yah.

Di tengah gelombang modernisasi sistem pendidikan pesantren, Attauhidiyyah termasuk pesantren yang setia dengan kesalafannya. Namun bukan berarti Attauhidiyyah tidak menerima perkembangan dan tuntutan zaman sama sekali. Demi memenuhi kebutuhan zaman, pernah digelar program kesetaraan di sana. Kemudian kini diganti menjadi program pendidikan diniyah formal. Di mana kurikulumnya didominasi pengajian kitab sesuai kurikulum pondok, sisanya sekitar dua puluh persen pembelajaran ilmu-ilmu nonsyariah semisal Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, PPKn, dan IPS. Mas Soleh, salah seorang tutor program pendidikan formal di Cikura, berkisah banyak tentang hal ini.

Melalui program pendidikan diniyah formal ini, kata Mas Soleh, santri bisa mendapatkan ijazah formal, pengajian kitabnya pun tidak terganggu. Adapun materi-materi pelajaran umum nonsyariah bukan diorientasikan untuk dikuasai, namun sekedar untuk membuka cakrawala wawasan saja bagi santri. Sehingga para santri bisa memahami dasar-dasar sains dan humaniora di tengah konsentrasi studi mereka yang fokus pada tafaqquh.

Tempo hari, Mas Soleh bertanya padaku, apakah model pembelajaran kontekstual ala KBQT bisa diterapkan di Cikura. Kujawab sangat bisa! Pembelajaran kontekstual bisa diterapkan di lembaga manapun, bahkan di tengah keluarga sekalipun. Sebab model semacam ini sejatinya adalah praktik belajar alamiah umat manusia sejak dahulu kala. Sebenarnya konsep pembelajaran kontekstual ini sudah tertuang dalam skema Kurikulum 2013, namun entah mengapa dalam praktiknya jarang kulihat para guru memakainya.

Kemudian Mas Soleh minta dibuatkan skema pembelajarannya untuk diujicobakan di Cikura untuk mata pelajaran IPA. Maka kubuatlah skema itu. Tema yang kubuat adalah tentang pepohonan/tanaman. Tujuan pembelajarannya agar santri mendapat pemahaman tentang fungsi dan urgensi pohon/tanaman bagi kehidupan. Proses belajarnya dengan riset dan diskusi para santri, bukan melulu monolog tutor. Hal ini penting sebab para santri sudah kenyang dengan tuangan materi monolog melalui pengajian kitab-kitab syariah. Maka pembelajaran ilmu-ilmu nonsyariah semestinya dilakukan secara merdeka dan dialogis. Sebagai penyeimbang suasana.


Skema ini kemudian dipraktikkan oleh Mas Soleh bersama para santri. Mereka mulai bertebaran untuk mengamati pohon-pohon atau tanaman pilihannya. Ada yang mengamati bambu, pohon pisang, pinus, bahkan rumput-rumputan. Mereka dibekali instrumen pertanyaan: apa, bagaimana, mengapa, dan dimana, untuk melakukan pengamatan. Mereka menggambar dan mencatat hasil pengamatannya di buku tulis masing-masing.

Setengah jam kemudian para santri berkumpul lesehan untuk berdiskusi tentang apa yang sudah mereka amati. Di momen ini, kisah Mas Soleh, sudah nampak perbedaan suasana dengan nuansa pembelajaran sebelumnya. Para santri nampak lebih enjoy dan 'merdeka', tidak tegang dan 'tunduk' seperti biasanya. Masing-masing santri mempresentasikan hasil pengamatan mereka. Menjelaskan pohon apa yang diamati, bagaimana bentuk anatomisnya, mengapa ditanam, dan apa manfaatnya.

Ada salah satu santri yang ternyata mengamati sejenis rumput, bukan pohon. Saat presentasi, ia menyebutkan bahwa rumput itu berfaedah menjadi obat sakit maag. Ketika ditanya dari mana informasi itu ia dapatkan, dijawab bahwa ia pernah mendengar keterangan tersebut dari pengasuh pesantren. Kemudian ia menerangkan bagaimana cara memanfaatkan rumput itu. Mas Soleh sebagai tutor pun mengaku mendapat pengetahuan baru. Pembelajaran asyik semacam ini menjadi hal baru baginya.

Setelah sesi presentasi, Mas Soleh mempersilakan para santri untuk bertanya, baik kepada tutor maupun kepada teman-temannya. Di momen ini juga cukup mengejutkan bagi si tutor. Biasanya, ketika disuruh bertanya, para santri akan mematung. Tapi dalam momen tersebut mereka jadi begitu aktif. Pertanyaan-pertanyaan pun meluncur secara alamiah. Proses diskusi berlangsung secara natural sebagaimana adanya. Tutor melengkapi informasi mengenai anatomi dan fungsi pohon dengan mengacu kepada buku pegangan.

Diskusi pun mau tak mau berujung kepada dialog ketuhanan, sebab latar belakang para santri sangat kental dengan nuansa tauhid. Tentang apa hakikat manfaat, apakah betul bahwa tanaman sebagai makhluk bisa memberikan manfaat, serta bagaimana semestinya manusia bersikap kepada tanaman. Proses pembelajaran ini, menurut Mas Soleh, berlangsung menyenangkan dan nagih.

Prinsip pembelajaran kontekstual adalah melibatkan si pembelajar ke dalam realita. Mempelajari konteks riil yang ada, mengamatinya, kemudian menyimpulkan hasil pengamatannya. Lebih baik lagi jika dilengkapi proses diskusi sebagai sarana afirmasi pengetahuan yang didapatkan. Proses semacam ini tanpa terasa bisa menajamkan nalar riset murid, kecakapan mencatat, serta kemampuan presentasi, menanggapi dan menyanggah.
Aku, Faiq, Fepri, Budi, dan Soleh

Mas Soleh sepakat untuk menjadikan proses semacam ini sebagai model pembelajaran seterusnya. Ia melihat para santri begitu enjoy, tidak terbebani, gembira, dan aktif. Aku pun dengan senang hati akan membantu merancang tema-tema pembelajaran lainnya terkait Matematika, IPS, PPKn, dan Bahasa Indonesia sesuai dengan prinsip kontekstualitas dan kemerdekaan murid. Syukur-syukur pembelajaran kontekstual untuk ilmu nonsyariah semacam ini bisa jadi model untuk diterapkan di pesantren-pesantren salaf lain.

__
Tuwel, Selasa 30 Juli 2019

No comments:

Powered by Blogger.