Memetakan Program Belajar Kontekstual di Pesantren Nurul Huda - KBQTDiary #33

@ziatuwel

Kesempatan berkunjung ke Pesantren Nurul Huda (ENHA) tempo hari memberiku banyak pelajaran berharga. Aku datang sebagai 'utusan tak resmi' dari Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah, setelah sebelumnya teman-teman dari ENHA berkunjung ke Kalibening dan berkonsultasi langsung dengan Pak Din.

Ahad siang (21/7) aku sampai di stasiun Purwokerto, setelah satu setengah jam perjalanan kereta api dari Slawi. Kemudian dijemput Mas Heri Kristanto dan Gus Ajir Ubaidillah. Kami pun menuju desa Langgongsari, kecamatan Cilongok, kabupaten Banyumas, sekitar setengah jam dari stasiun. Sebuah desa yang cukup asri, hijau, dan masih banyak lahan kosong. Langsung bisa kutebak potensi agribisnis wilayah ini.


Benar saja, di jalan yang kami lalui ada semacam 'taman durian' milik desa. Juga plang-plang proklim yang merupakan program kementerian lingkungan hidup. Di tengah desa yang rindang inilah berdiri pondok pesantren tanpa papan nama, tanpa pagar keliling, dihuni lebih dari seribu santri yang notabene yatim dan dhuafa. Kami disambut aula pondok yang cukup luas, serta serambi masjid mungil yang cukup nyaman untuk iktikaf. Di selatan masjid ada pemakaman pendiri pesantren, KH. Ahmad Syamsul Ma'arif rahimahullah.

Kami beristirahat di ndalem Gus Ajir, tepat di selatan aula. Melewati studio radio milik ENHA, serta asrama putri di atas bangunan aula. Terpampang foto-foto para ulama yang tak asing, seperti Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari, KH. Ahmad Syamsul Ma'arif, Habib Lutfi bin Yahya, Habib Anis al-Habsyi, Habib Abu Bakar Assegaf, Habib Salim as-Syatiri, Habib Umar bin Hafizh, dan tentu saja guru si penghuni rumah, Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf Pasuruan. Dalam banyak kesempatan ngobrol, Gus Ajir banyak berkisah tentang bagaimana sang guru sangat berpengaruh pada dirinya, terutama dalam perjalanan dan aktivitas dakwahnya.

Selain mengasuh pesantren peninggalan ayahnya dan mengisi pengajian-pengajian sekitar, Gus Ajir juga aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Bersama lingkaran komunitas Zona Bombong, ia dan kawan-kawannya kerap menyelenggarakan aksi-aksi sosial, membentuk jaringan ambulan gratis SiBulan, hingga program bedah rumah dan pembagian beras untuk dhuafa. Ia mengisahkan bagaimana prinsip pondok sejak awal adalah melayani masyarakat. Mobil pondokpun difungsikan sebagai 'mobil RT' untuk dipakai warga jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Dakwah yang ia gemakan adalah dakwah inklusif, tidak berafiliasi pada golongan, ormas, apalagi partai politik. Semua golongan ia rangkul, sebab prinsipnya adalah da'wah ilallah, bukan da'wah ilal hizb. Tiap Ramadan ia menggelar pengajian khusus untuk kawula muda, diisi nyanyian lagu kebangsaan, khataman Quran, dan tausiyah, bekerjasama dengan unsur Banser, Kokam, maupun Pemuda Pancasila.

Bakda zhuhur kami beranjak ke ndalem Gus Abror, kakak kandung Gus Ajir sekaligus pengasuh utama pesantren ini. Beliau menjadi muara kebijakan seluruh program pesantren. Termasuk program pembelajaran ala Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang sedang kami godok. Sepeninggal Kiai Syamsul Maarif, Gus Abrorlah yang menggantikan posisi beliau sebagai pengasuh, saat itu alumni Buntet ini masih berusia 20 tahun. Gus Abror dikenal sebagai sosok kiai yang supel bergaul dengan siapapun. Kebersahajaan hidup dan totalitasnya dalam melayani ribuan anak yatim dan dhuafa membuat banyak pihak bersimpati dan dengan sukarela membantu menyokong denyut nadi pesantren ini. Dalam hal ini, Gus Abror dan saudara-saudaranya punya prinsip yang patut diteladani; tidak pernah meminta namun tak menolak bila diberi. Hingga saat ini pesantren mereka tak pernah menyodorkan selembarpun proposal bantuan apalagi permohonan sedekah.

Seusai ramah tamah di ndalem Gus Abror, kami melanjutkan obrolan di salah satu lahan milik pesantren. Jaraknya lumayan jauh, seperempat jam dari pondok. Melewati desa tetangga dan pesawahan warga, termasuk setengah hektar sawah padi garapan pondok. Hingga sampailah kami di calon lahan hortikultura pondok, tepat di pinggir kali yang mengalir jernih airnya. Kami melingkar di gubuk bambu tepi embung kecil, disuguh kopi hitam dan durian. Rahat sekali.




Desain Besar ENHA

Sebagaimana yang sudah diagendakan, di gubuk itu kami membahas pemetaan kurikulum belajar untuk program PKBM di ENHA. Sudah kutulis di artikel sebelumnya,  “Mau Formal atau Nonformal? Pilih yang Merdeka!”, bahwa Gus Ajir mengungkapkan keresahan pengelolaan pendidikan formal di ENHA yang dirasa tidak padu dengan pemberdayaan riil pesantren. Hingga akhirnya mendapatkan ‘futuh’, aufklarung, alias pencerahan untuk memilih program pembelajaran nonformal berupa PKBM. Tujuannya agar pembelajaran santri bisa terintegrasi dengan program pemberdayaan pesantren, serta pengelolaannya bisa lebih merdeka ketimbang lembaga pendidikan formal semacam sekolahan.

Gus Ajir  menjabarkan bagaimana desain besar pemberdayaan di ENHA. Bahwa di pesantren ini ada beberapa program. Pertama, program pendidikan yang menaungi pembelajaran santri, baik ilmu-ilmu syariah, ilmu-ilmu umum, maupun keterampilan praktis. Kedua, program usaha yang mencakup perusahaan air mineral, madu, kopi, kaos, dan lainnya. Ketiga, program pertanian berupa ketahanan pangan, hortikultura, peternakan, perikanan, hingga olah pangan. Keempat, program multimedia yakni radio, saluran Youtube, dan media sosial.

Adapun program yang sudah berjalan saat ini adalah usaha kopi, madu, kaos, air mineral, gula kelapa, padi, ternak, medsos, radio, dan sekolah formal tingkat SMP (adapun tingkat MA akan divakumkan untuk diganti PKBM). Selama ini, semua program tersebut dijalankan secara alami berdasarkan kebutuhan. Misal, untuk memenuhi kebutuhan air seribu lebih santri, pesantren tidak bisa selalu mengandalkan pasokan air dari luar, maka diborlah lima sumur artesis yang ternyata berlebih, kemudian kelebihannya dikemas dan dijual. Juga terkait kebutuhan nasi yang kemudian dipenuhi oleh pesantren dengan menanam padi di lahan yang ada. Alih-alih memewah-mewahkan bangunan, pesantren ini lebih memilih memberdayakan infak para dermawan untuk menjadi alat produksi.

Semua program itulah yang kemudian akan menjadi bahan-bahan belajar bagi santri ENHA di luar pengajian ilmu-ilmu syariah. Sebenarnya dalam praktiknya memang sudah berjalan. Para santri sudah dilibatkan dalam proses-proses kreasi dan produksi di semua lini usaha pesantren. Hanya saja belum ada pemetaan kurikulumnya dan pengemasan dalam wadah PKBM. Kehadiranku pada saat itu adalah untuk membantu memetakan semua program itu sesuai posnya, serta menyesuaikannya dengan kerangka PKBM sebagaimana adanya. Dalam pekan ini, Gus Ajir sudah mengajukan legalitas pendirian PKBM dalam bentuk kelompok belajar.

Apa yang dialami santri ENHA persis dengan praktik nyantri para santri di pesantren salaf masa lalu. Ketika santri tidak hanya ngaji, tetapi juga berkehidupan selayaknya rakyat, yakni nyawah, berkebun, beternak, bahkan membangun kamar gothakannya sendiri. Namun memang perlu adanya penyesuaian dengan zaman, tanpa harus terseret tenggelam di dalamnya. Yakni bagaimana mengemas semua kegiatan itu agar menjadi program pendidikan yang legal dan diakui pemerintah maupun masyarakat.






Enha University

Aku pun coba menjelaskan gambaran umum suatu PKBM. Intinya, sebuah PKBM adalah ruang belajar yang dibangun secara mandiri oleh dan bagi masyarakat, berdasarkan potensi dan kebutuhannya, untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya. Asasnya adalah kemandirian, pemberdayaan, dan pengupayaan solusi. Adapun lapangan teknisnya ada dua; pendidikan dan non-pendidikan. Untuk wilayah pendidikan, ada program keaksaraan (berantas buta huruf), PAUD, kelompok belajar usaha (produksi), pelatihan keterampilan, kesetaraan (kejar paket), dan magang. Sedangkan wilayah nonpendidikan berupa pengembangan usaha melalui kerjasama dengan pihak-pihak luar.

Untuk saat ini, wilayah garapan pembelajaran di semesta ENHA University –Gus Ajir menyebutnya begitu- adalah program kesetaraan, kelompok belajar usaha, dan keterampilan. Lalu kujelaskan pula tentang anatomi sebuah lembaga pendidikan, dalam hal ini kaitannya dengan ENHA University. Bahwa dalam suatu lembaga pendidikan ada dua unsur; jasad anatomis (hardware) dan jiwa kurikulum (software). Jika pemetaan tentang dua unsur ini sudah beres, maka tinggal merumuskan anatomi dan kurikulum ENHA sesuai peta besar tersebut.

Unsur pertama; jasad anatomis atau hardware ENHA University. Yakni terkait orientasi, struktur, dan unsur kelembagaannya. Poin orientasi membahas visi, misi, dan tujuan. Poin struktur membahas relasi lembaga pendidikan dengan pihak-pihak lain semisal dinas pendidikan, yayasan, dan kepengurusan. Poin unsur membahas manusia yang terlibat, ruang belajar, dan tatanan akademiknya.

Unsur kedua; jiwa kurikulum atau software ENHA University. Yaitu terkait tujuan, isi atau materi, proses, dan evaluasi pembelajaran di dalamnya. Tujuan pembelajaran mencakup kognisi, afeksi, dan psikomotor. Isi atau materi pembelajaran berupa teori dan praktik. Proses pembelajaran berupa pembahasan dalam kelas dan pelaksanaan di lapangan. Evaluasi pembelajaran berupa penilaian kuantitatif dan kualitatif.

Pemetaan ini memang masih sangat konseptual. Perlu rembug lebih intensif membahas peta teknisnya, terutama di bagian tatanan akademik dan sistem praktik hingga evaluasi pembelajaran. Namun setidaknya pemetaan ini bisa memberikan gambaran umum tentang jiwa dan raga ENHA University ke depannya. Demikian yang kuobrolkan sore itu bersama Gus Ajir, Mas Heri, Mas Lutfi, Mas Aufa, Mas Ari, Mas Yatno, Mas Ari, Mas Adzhan, dan Mas Sobib sampai hampir petang. Setelah jamaah shalat Ashar kami bubar dan kembali ke pondok.


Jalinan Persaudaraan

Malam itu aku menginap di ndalem Gus Ajir, menyaksikan bagaimana nuansa salafiyah sangat kental di ENHA. Tiap malam Senin bakda maghrib agenda santri membaca maulid secara bergantian, malam itu giliran maulid Simthud Duror yang dibaca. Bakda Isya setelah dipijat Mas Taufiq, kemudian makan malam, aku tertidur pulas sampai tengah malam. Pukul satu kusempatkan melihat-lihat komplek aula, masjid, dan makam. Nampak beberapa santri masih ada yang nglalar hapalan, atau nderes di masjid dan makam, lainnya tergeletak tidur pulas di aula. Bakda shubuh para santri wiridan sampai menjelang terbit matahari. Lalu mereka membentuk lingkaran-lingkaran di aula untuk nderes Quran. Aku sendiri lanjut ziarah ke makam pendiri pesantren, di situ sudah ada Gus Abror yang khusyuk terpekur di hadapan makam ayahnya, nderes Quran dan memutar tasbih.

Sempat kutanyakan bagaimana kurikulum pengajian kitab di ENHA ini. Gus Ajir menjawab bahwa metodologinya diambil dari almamaternya, Pesantren Sunniyyah Salafiyyah Pasuruan. Selain pengajian bagi santri, ada pula pengajian bagi masyarakat sekitar yang disesuaikan segmennya. Ada pengajian tafsir Jalalain dan tafsir Ibriz yang diasuh Gus Abror dan diikuti para warga sepuh. Ada pula pengajian fikih untuk kaum wanita yang diampu Gus Imam. Ada juga pengajian dialogis Arbain Nawawi bersama anak-anak muda yang diasuh Gus Ajir.

Di waktu Dhuha kami sempatkan keliling lahan pondok yang sedang disiapkan untuk penanaman 150 pohon kopi. Selain kopi, lahan tersebut juga akan dimanfaatkan untuk menanam tanaman-tanaman dapur. Kami juga mampir ke rumah bibit yang siap tanam, juga kandang yang akan diisi 100 ekor kambing. Semua prosesnya digarap oleh santri dengan didampingi para petani dan peternak yang merupakan warga setempat. Santri yang terlibat dalam semua proses itupun tidak ‘sekedar dianggap khidmah’, tetap ada kompensasi dan apresiasi berupa upah. Meskipun sebenarnya kegiatan tersebut lebih mengarah pada pembelajaran, bukan pekerjaan atau profesi.

Senin siang (22/7) aku diantar Gus Ajir ke stasiun. Ia menghadiahiku kopi, madu, dan kaos yang semuanya bermerk ENHA, juga dua tas Eiger yang kabarnya merupakan hibah seribu tas untuk pondok langsung dari pemilik pabriknya. Oleh-oleh paling berharga yang kudapatkan dari kunjungan ini adalah terjalinnya silaturrahmi dengan orang-orang ikhlas, kreatif, inovatif, dan progresif. Serta tentu saja pelajaran berharga tentang sikap hidup para pelayan masyarakat.

_____
Tegal, Kamis 25 Juli 2019

No comments:

Powered by Blogger.