Kampung Pesantren Belum Tentu Kampung Santri

17:22
@ziatuwel

Tempo hari ayah mertuaku mengatakan hal menarik tentang eksistensi pesantren. Beliau menyebut istilah 'kampung santri' dan membandingkannya dengan 'kampung pesantren'. Sebuah kota atau kampung di mana berdiri satu-dua pesantren di dalamnya belum tentu bisa disebut 'kota santri'. Sebaliknya, suatu kampung bisa disebut 'kota santri' meski tak ada satupun pesantren di dalamnya.

Kok bisa?

Dahulu para dai tokoh agama saat berdakwah di kampung-kampung, yang digarap adalah masyarakat di mana ia tinggal. Kemudian dikokohkan dengan membangun langgar, surau, atau masjid sebagai pusat kegiatan dakwah dan pengajian agama. Sosok dai ini disebut 'kiai', murid-muridnya disebut 'santri'. Seiring waktu, ada santri yang berasal dari luar daerah, sehingga dibutuhkan tempat menginap. Maka dibuatlah kamar, gubuk, atau gothakan sederhana di sekitar masjid/langgar/rumah sang kiai.

Ketika jumlah santri rantau dan bangunan gothakan makin banyak, maka jadilah 'pesantren' alias tempat para santri bermukim. Demikianlah urut-urutannya. Kebanyakan kisah yang kita dengar, para kiai babat alas dalam berdakwah di lokasi tersebut. Entah babat alas dalam makna harfiah, yakni membuka pemukiman baru, maupun babat alas dalam arti memioniri geliat keislaman di lingkungan abangan dengan segala rupa gangguannya.

Intinya, dengan natur historis semacam ini lantas hubungan antara pesantren dengan masyarakat sekitar pesantren terjalin erat. Sebab pesantren lahir dari rahim masyarakat dengan segala dinamikanya. Artinya, pertama, sejak semula tidak ada niat dari pesantren untuk mengalienasi dirinya dari masyarakat. Justru pesantren adalah bagian integral dari lingkungan masyarakat di mana ia berada. Kedua, sasaran primernya adalah dakwah kepada masyarakat setempat dan mengedukasi santri, bukan mendirikan fisik pesantrennya.

Jadi perlu digarisbawahi perbedaan antara 'santri' dan 'pesantren'. Menurut alur di atas, sebenarnya adanya 'santri' tak harus ada bangunan 'pesantren'. Para kiai membangun peradaban masyarakatnya, sambil atau kemudian membangun wadah berupa pesantren. Itupun dengan fokus pengajian kepada santri, bukan fokus kepada pembangunan sarana fisik. Bukan sebaliknya, membangun gedungnya dulu untuk ditawarkan kepada para calon santri dan terpisah dari lingkungan masyarakat sekitar.

Maka suatu daerah yang di situ berdiri banyak pesantren belum tentu bisa disebut 'kampung santri'. Lihat dulu bagaimana aktivitas pengajian di masyarakatnya, bukan di dalam gedung pesantrennya. Lihat dulu ada tidaknya peran signifikan pengasuhan para kiainya terhadap masyarakat sekitar. Kalau ada, berarti pantas disebut 'kampung santri', kalau tak ada ya berarti 'kampung pesantren'.

Yaaa kecuali kalau frase 'kampung santri' sekedar dimaknai sebagai 'kampung yang dihuni banyak santri'. Dalam tulisan ini tak begitu maksudnya. Yakng kumaksud dengan 'kampung santri' adalah suatu desa di mana masyarakatnyalah yang menjadi santri, dibimbing oleh tokoh yang dikenal sebagai 'kiai kampung'. Masjidnya hidup dan diisi dengan pengajian. Kegiatan dan geliat kehidupannya kental dengan etika-etika santri.

Secara kasat mata, 'kiai kampung' memang tidak punya bangunan pesantren. Namun secara hakiki, dengan mengamati peran pengasuhan 'kiai kampung' di tengah masyarakat, maka bisa dikatakan bahwa kampungnya itulah pesantrennya. Masyarakat sekitarnyalah santrinya. Masjidlah aula pengajiannya. Rumah masing-masinglah kamar gothakannya. Meski banyak pula 'kiai kampung' yang juga mengasuh suatu bentuk pesantren sebagai sebuah institusi pendidikan. Sehingga meskipun sudah sibuk dengan pengajian santri pesantren, mereka masih intens mendampingi pengajian masyarakat setempat.

Gus Dur memopulerkan sebutan 'kiai kampung' ini sebagai entitas vital di tengah masyarakat kaum muslimin. Para 'kiai kampung' ini memegang peranan penting sebagai rujukan berkehidupan masyarakat akar rumput. Mereka memimpin kenduren, mengisi pengajian, menjaga ritual keagamaan, bahkan melayani konsultasi lintas dimensi kehidupan. Secara perlahan membentuk karakter masyarakat sekitarnya menjadi 'santri'. Hingga kini kerap kita saksikan para 'kiai kampung' yang kegiatan utamanya 'ngopeni masjid' dengan pengajian kitab dan shalat jamaah. Bahkan di beberapa tempat, kitab-kitab yang dikaji termasuk kelas berat.

Antropolog jebolan Michigan, Ismail Fajrie Alatas, pernah menyebut peran para 'kiai kampung' ini sebagai simpul-simpul denyut nadi tradisi keberagamaan umat Islam. Merekalah sejatinya ujung tombak napas kehidupan umat Islam itu sendiri, yang berperan menjadi pelestari ajaran Islam sebagai tradisi keilmuan maupun tradisi pengamalan dalam kehidupan. Bukan tugas enteng lho ngimami jamaah shalat tiap hari sepanjang tahun, mbalah kitab rutinan, apalagi menyediakan dada yang lapang untuk menampung keluh kesah baragam watak manusia.

Para 'kiai kampung' berperan besar dalam penegakan syariat secara kultural dan riil di tengah masyarakat. Menemani mereka memakmurkan masjid, shalat jamaah, memulasara jenasah, mengudar masalah, hingga mengurusi problem pergaiban. Terutama melakukan proses edukasi bertahap dan intensif melalui pengajian rutin tanpa kenal lelah.

Dengan menyadari pentingnya pembentukan karakter masyarakat santri ini, maka para jebolan pesantren yang meniti peran sebagai 'kiai kampung' tak kalah utama dari bentuk-bentuk kiai lain. Semisal 'kiai podium' yang tenar dan sibuk berpidato dari mimbar ke mimbar sepanjang tahun. Atau 'kiai dewan' yang berkecimpung di ranah politik dan organisasi, sering tampil dan bicara di media massa. Dua jenis kiai ini bisa kita sebut sebagai 'kiai kota', sebagai diferensiasi dari 'kiai kampung'.

__
Tuwel, Senen Wage 8 Juli 2019

No comments:

Powered by Blogger.