Kalau Tak Ada Mata Pelajaran, Lalu Belajar Apa? - KBQTDiary #31

@ziatuwel

Di 'tahun ajaran' yang baru ini, adik-adik kelas Bonus Res yang kudampingi memasuki jenjang setara 2 SMP. Setelah Senin kemarin agenda upacara diisi musyawarah besar kegiatan seminggu, hari ini agendanya musyawarah kecil perkelas.

Masing-masing rembugan tentang apa saja yang mau dipelajari. Maklum, tak ada mata pelajaran di sini. Setiap anak mengusulkan objek belajar yang ingin dikuasai. Tentu saja anak-anak antusias ketika diminta mengusulkan gagasannya, meski ada pula yang perlu mikir dulu agak lama.

Sofia usul bikin pelatihan dasar kepenulisan. Dia ingin meningkatkan kemampuan menulisnya. Kutanya jenis tulisan apa yang dia suka. Dijawab ia suka nonfiksi, semisal catatan perjalanan dan semisalnya. Nanda usul belajar bahasa Inggris bersama native speaker. Pasalnya, selama ini di forum English ia belum pernah praktik bersama penutur asli bahasa Inggris. Ia juga mengusulkan tema urban legend dari negara-negara luar untuk gelar karya.

Kayla mengusulkan kunjungan ke pabrik. Kutanya pabrik apa, Kayla bingung. Pokoknya berkunjung ke pabrik, kemudian mengamati proses produksi di dalamnya. Kutawarkan beberapa tempat sekitar Kalibening. Semisal pabrik tekstil Damatex, atau usaha rumahan semisal konveksi tetangga rumah, Kayla setuju. Di sinilah salah satu peran pendamping, membuka jaringan belajar ke ruang-ruang 'di luar sekolah'.

Danial usul workshop renang bersama pelatih renang yang ahli. Pasalnya, selama ini saat anak-anak KBQT renang di Kalitaman atau Senjoyo tak pernah ada edukasi mengenai teknik renang, atau sekedar keamanan renang. Menurutnya perlu ada pendidikan dasar perenangan, sehingga kita tidak waton renang, juga untuk meminimalisasi resiko cedera.

Abel usul ada kegiatan belajar menggambar bersama. Berupa workshop gambar dengan tema tertentu. Ide ini perlu digodok dengan forum gambar. Usul terakhir dari Raka adalah praktik menanam hidroponik. Ya, pelatihan berupa praktik, tak sekedar melihat. Ide ini selaras dengan agenda baru KBQT yang bekerja sama dengan SPPQT, berupa pelatihan pertanian tiap Sabtu.

Sebagaimana biasa, semua usulan anak kelas Bonus Res ini akan disampaikan di acara musyawarah besar KBQT, bersama usulan dari kelas lain, untuk digodok menjadi jadwal belajar semester ini. Dari sekian banyak usulan, tentu ada yang disepakati, ada yang tidak. Usulan yang disepakati akan menjadi agenda belajar bersama se-KBQT. Adapun usulan kelas Bonus Res yang tak disepakati akan kami eksekusi sebagai agenda belajar kelas.

Ketika kami rembugan, ada tamu dari Kudus. Satu keluarga yang sedianya hendak bertemu Pak Din, mencarikan sekolah alternatif untuk putrinya yang hendak lulus SMP. Sang ayah, yang ternyata sealmamater denganku (alumni fakultas tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dan kini jadi dosen di IAIN Kudus, mengapresiasi rembug kelas kami.

"Wah, ini yang namanya student centered learning! Kayaknya bagus juga diterapkan ke mahasiswa ya. Biar mahasiswa bisa kreatif dan aktif. Nggak kayak jaman kita kuliah dulu. Hehe."

Hasil usulan yang kelak disepakati akan menjadi agenda resmi KBQT. Dicetak dan dipajang di gedung RC, dipampang di website, dan dibagikan kepada wali siswa. Tiap kelas yang usulannya diterima akan menjadi penanggung jawab pelaksananya. Tugas pendamping 'hanya' memfasilitasi kegiatan tersebut. Anak-anaklah eksekutornya.

___
Kalibening, 2 Juli 2019

No comments:

Powered by Blogger.