Al-Maliki Center dan Geliat Dakwah Pemuda Tegal

@ziatuwel

Ahad kemarin aku turut hadir dalam acara Ngasyik atau Ngaji Asyik yang dipandegani Gus Aqib bin Kiai Abdul Malik Babakan. Acara ini digelar oleh Al-Maliki Center di Pesantren Babakan, Lebaksiu. Pesantren yang disebut-sebut sebagai pesantren salaf tertua di tlatah Tegal.

Momen ini mau tak mau membuatku bernostalgia. Teringat jaman masih sekolah di SMA N 1 Slawi, aku kerap mampir di pesantren ini untuk sekedar tiduran di kamar kawan yang jadi santri di situ. Atau untuk hadir pengajian haul yang dahulu kerap diisi Abah Habib Lutfi Pekalongan, dan almarhum Habib Ali bin Soleh al-Habsyi Pemalang.

Juga teringat momen-momen diskusi santai tematik yang kulalui satu dekade belakangan. Dimulai dari diskusi lepas teman-teman Duduk Selingkar, diskusi-diskusi hangat seantero Jogja, hingga diskusi komunitas Santrijagad yang sudah khatam beberapa tahun lalu dan sempat dibukukan. Serta tentu saja momen-momen ngobrol santai ulumul Quran di Madrasah Huffadh Krapyak.

Sejujurnya aku kangen suasana semacam ini, sebab tidak hanya membuka cakrawala wawasan, tetapi juga menambah jejaring sefrekuensi, silaturahim, mendapat masukan antitesis, memantik daya pikir, dan menyegarkan semangat gerakan. Forum semacam ini juga menjadi bentuk pendidikan informal di tengah masyarakat dengan beragam manfaat.

Acara Ngasyik dibuka dengan pembacaan Asmaul Husna, shalawat, dan ayat-ayat suci Quran oleh Gus Dani. Kemudian dilanjutkan ngaji kitab hadits Arbain karya Imam Nawawi bersama Gus Aqib. Acara terakhir sesi diskusi tematik yang rencananya akan berubah temanya setiap bulan. Di momen Ngasyik edisi perdana ini aku berbagi pengalaman tentang proses pendampingan di Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah Salatiga, suatu ruang tempatku berkegiatan.

Peserta acara ini adalah anak-anak muda milenial dampingan Al-Maliki Center, serta para tokoh muda Tegal dari berbagai disiplin kiprah. Ada akademisi, mahasiswa, santri, pedagang, pegiat ormas, driver ojol, pegawai negeri, dalang muda, pemuka Konghuchu, pengusaha, anggota KNPI, guru, dan banyak lagi. Aku sepanggung dengan Mas Dhofier Margasari, kakak kelas sealmamater di Slawi yang kini jadi guru di SD Al-Fath Bumi Serpong Damai, Tangerang.

Ada banyak hal yang kami diskusikan terkait pendidikan, teori dan praktik. Terutama kaitannya dengan pengalaman pendampingan pembelajaran di KBQT. Nanti kutulis hasil diskusi kami di artikel lain, insyaallah. Tulisan ini sekedar untuk mengapresiasi upaya yang sudah dan sedang dilakukan oleh Gus Aqib cs melalui Al-Maliki Center-nya.

Kegiatan Al-Maliki Center dengan tagline "inspiring and empowering" mengingatkanku pada tulisanku yang berjudul 'Memperbaiki Dakwah Hijrah". Di situ kutulis kritik srkaligus apresiasi terhadap dakwah hijrah ala Ustadz Hanan Attaki dengan 'Shift'-nya. Serta kumuat profil tentang Ta'leef Collective asuhan Ustadz Usama Canon yang menggarap segmen dakwah muda-mudi dengan tetap menancapkan akarnya pada tradisionalitas berislam.

Persis begitulah yang dilakukan Al-Maliki Center, ia berupaya merangkul anak-anak muda secara offline di wilayah Tegal dengan tetap mengakar pada jiwa keberislaman dan keilmuan ala pesantren. Di awal ngaji Arbain, Gus Aqib sengaja menyebutkan guru-guru di mana ia pernah mengaji kitab tersebut. Seperti nama Kiai Dimyati Rois Kaliwungu, serta Kiai Hanif Muslih Mranggen.

Sekian tahun berkecimpung di dunia dakwah online, aku berani menyimpulkan bahwa gerak dakwah offline semacam ini seribu kali harus lebih diutamakan. Bagaimana merengkuh lingkungan sekitar, menambatkan jejaring-jejaring di dunia nyata secara tatap muka. Media sosial sekedar jadi etalase saja. Tentu saja hal ini membutuhkan energi yang prima. Gus Aqib dengan Al-Maliki Center-nya bisa melakukan hal itu.

Bulan Ramadan lalu Al-Maliki Center menggelar kajian Islam milenial dengan format kekinian, bertajuk 'Ramadan Kareem', di Hotel Grand Dian bersama puluhan peserta. Juga kegiatan pelatihan public speaking, hypnotherapy, seminar, serta pengajian-pengajian di berbagai lembaga. Gus Aqib sempat menyampaikan proyeksinya tentang kemungkinan merangkul rohis-rohis dan osis-osis di sekolah-sekolah. Untuk melakukan kolaborasi kegiatan yang tujuannya mengedukasi kawula muda babagan keislaman dan keindonesiaan.

Akupun mengungkapkan keresahanku sejak lama. Dulu, jamanku jadi ketua rohis di sekolah, kami berupaya bagaimana agar teman-trman rohis bisa tetap nyambung dengan kahazanah keislaman ala pesantren. Sebab pesantrenlah muara keilmuan Islam yang saat ini bisa disebut otoritatif. Entah dengan cara sowan rutin kepada para ulama, maupun menghadirkan beliau-beliau di acara bulanan kami.

Namun seingatku, sayang sekali kalangan pesantren tidak begitu antusias untuk 'menggarap' lahan ini. Saat itu upaya kami tidak disambut dengan semangat yang sepadan. Baru belakangan ini kudengar kabar bagus. Semisal geliat Pesantren Attauhidiyah Giren yang berkolaborasi dengan sekolah-sekolah untuk menggelar pesantren Ramadan di sana. Ditambah lagi kabar geliat Al-Maliki Center yang berbasis di Pesantren Babakan dan bergerak dengan pola 'jemput bola'.

Tentu saja ini jadi angin segar bagi geliat dakwah anak muda di Tegal. Semoga istiqomah, Gus!

Babakan, Ahad 14 Juli 2019

No comments:

Powered by Blogger.