Sowan Mbah Yasin: Ziarah itu Undangan Sirr

@ziatuwel

Lebaran hari keempat ini kami masih keliling Kalibening. Istilahnya 'badan'; sambang silaturahim lebaran. Kalau di Tuwel, agenda badan keliling kampung bisa selesai dalam sehari semalam. Hari kedua dan ketiga bisa digunakan sambang kerabat jauh di luar kampung. Kalau di Kalibening, butuh 2-3 hari untuk selesaikan sambang dulur satu kampung.

Bedanya, cara sambang di Tuwel cukup masuk rumah, salaman sambil matur sekedarnya, "Nyuwun ngapuntene nggih." Lalu pamit keluar dan lanjut ke rumah lainnya. Begitulah gaya pantura. Kalau di Kalibening beda kultur, khas Mataraman, saat masuk rumah ya harus ngobrol dulu, kemudian matur sesuai protokoler adat Jawa.

Hari ini kami baru sempat badan ke rumah Pakde Yai Yasin. Seorang kiai hamilul Quran yang disepuhkan di Kalibening dan sekitarnya. Beliau ini kerap jadi jujukan orang bermasalah untuk minta doa. Baik masalah kesehatan, keluarga, dan sebagainya. Sejak mukim di Kalibening, aku rutin setoran hapalan Quran kepada beliau. Itupun atas perintahnya.

Suatu kali, aku duduk di serambi masjid sambil nderes Quran. Tiba-tiba beliau makjegreg duduk di depanku sambil berkata, "Besok mulai setoran sama saya. Nggak usah mbantah. Pokoke nurut sama guru."

Besoknya aku datang ke rumahnya, langsung disuruh setoran seperempat juz. Besoknya nambah lagi seperempat juz. Ketika sudah sampai satu juz, aku disuruh setoran sejuz yang sudah disetrokan sebelumnya. Begitu terus tiap hari. "Dirampungkan dulu di sini, nanti kalau sudah jadi, kamu setorkan ke Mbah Najib di Krapyak," katanya suatu hari.

Pernah beberapa minggu aku tak setoran. Pas Idul Adha, aku bertemu beliau di masjid, langsung dilabrak di depan orang banyak. "Kemana saja nggak keliatan?! Sudah pintar atau gimana kok nggak ngaji?!" Mati kutu aku. Tapi sejujurnya aku sendiri senang dibegitukan, dioyak-oyak.

Siang ini aku bersama istriku Fina, anakku Tsurayya, dan adik iparku Hana, sowan ke rumah beliau. Nampak ada orang yang sedang 'minta air' untuk kesembuhan anggota keluarganya yang sakit parah. Juga ada beberapa alumni santri yang sedang sowan badan bersama keluarga mereka.

"Ziarah ke Baitullah itu sebab undangan dari Sohibul Bait," kata Mbah Yasin membuka obrolan. Wah, ini pasti bakal panjang, pikirku. "Begitu juga ziarah ke makam Nabi, orang soleh, wali, adalah undangan sirr dari sohibul maqom. Maka kapanpun diundang ya harus berangkat, dan bagaimanapun keadaannya ya ndilalah kok dibisakan berangkat."

Para tamu hanya bisa manggut-manggut menyimak. Aku juga antusias, sebab biasanya di ruang tamu ini aku hanya setoran, tak pernah mendengar beliau berkisah.

"Pernah suatu kali ada anak-anak muda ngajak saya ziarah jauh. Tapi 'kan yang jelas saya sebagai orang tua yang musti nanggung ongkos perjalanannya, gengsi dong. Padahal saat itu saya blas nggak ngantongi duit. Tetap saya sanggupi berangkat besok. Malam harinya, seperti biasa, saya bersihkan ruang tamu dan kunci semua pintu. Pagi-pagi istri saya geger, saat bersih-bersih di ruang tamu dia nemu duit segepok. Ya spontan saya bilang; sini, Bu! Itu duit buat sangu ziarah bareng anak-anak!" kata Mbah Yasin terkekeh.

"Kadang-kadang undangan sirr semacam itu juga datangnya aneh-aneh," lanjutnya. "Pernah saya Quranan (nderes Quran khatam sekali duduk) di rumah. Hampir subuh sudah mau khatam, begitu selesai doa, saya buka mata kok sudah ada di kuburan entah di mana. Lha dalaaah, ini saya dikerjai jin. Lalu saya cari masjid buat shalat. Saya tanya orang, itu komplek makam siapa, dijawab 'Mbah Anu', 'Kiai Anu', 'Syech Anu'. Ooo pantas saja, saya diundang kesitu."

Aku tak tahu seberapa intensif komunikasi beliau dengan makhluk halus. Namun agaknya itu jadi hal yang biasa saja buatnya. Hana bercerita bahwa kerabat Mbah Yasin yang tinggal dekat rumah beliau pernah kena usil. Si kerabat ini sering mendengar amalan yang dibaca beliau, lalu mulai menirukan tanpa adanya ijazah. Malamnya ia didatangi jin-jin besar-besar dan kapok.

"Ada-ada saja bangsa jin itu. Tapi ya memang mereka juga sama kayak kita. Banyak yang mukmin. Banyak yang apal Quran, deresannya lancar-lancar. Mereka ya setoran juga. Rajin, ora koyo kowe!" katanya sambil melotot ke arahku.

"Quran ini berat. Jangan disambi. Harus jadi yang diutamakan. Lha wong kitab dari Pencipta Langit dan Bumi kok disepelekan, ya jangan salahkan siapa-siapa kalau kamu nanti yang bakal disepelekan. Bangun dari kubur dalam keadaan buta, heran kok gelap, ya sebab saat di dunia mengabaikan Quran," sambungnya. Menusuk betul. Sambil mengutip ayat 72 surat Al-Isra;

وَمَن كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا

"Mondok itu yang baik ya di pondok salaf. Memang berat tapi bermutu," katanya kepada Hana yang masih mondok di Lirboyo, "Banyak pondok modern tujuannya biar ilmu agama dapat, ilmu umumnya juga dapat. Jadinya malah nanggung. Ilmu agamanya kalah jauh dengan yang salaf, ilmu umumnya kalah jauh dengan sekolahan umum. Paling-paling menang dapat ijasah. Padahal intinya orang mondok 'kan ilmunya ya, bukan ijasahnya. Apalagi kalau mau ngapal Quran, kok disambi yang lain, ya nanggung, kalaupun selesai ya nggak lancar."

Pendapatnya tentang pondok salaf ini kuamini seratus persen. Memang demikian adanya. Langsung berkelebat di kepalaku tentang berbagai teori dan praktik pendidikan efektif ala pesantren salaf yang belum sempat kutulis.

"Terlebih lagi orang mondok itu yang diharapkan ilmunya manfaat. Syukur buat masyarakat sekitar. Alumni Kalibening sini rata-rata jadi kiai di daerahnya, ilmunya bermanfaat. Mengaji Quran, hadits, dan ilmu syareat itu memang baiknya dengan cara tradisional. Jangan melulu harus dimodernkan. Harus berguru, tidak boleh jalan sendiri."

Kulihat beberapa tamu sudah mulai gelisah, kemudian menyela obrolan dan pamit pulang. Mbah Yasin melanjutkan nasehatnya,

"Setan itu cerdasnya bukan main. Orang dirayu untuk meninggalkan yang dianggap kuno, kemudian berkurang berkahnya, lalu tidak kerasan dan hilang manfaatnya. Nanti ada saatnya orang ziarah kuburan bapak ibu, akhirnya disetelkan tahlil yasinan pakai hape. Karena dia nggak bisa ngaji. Kalau sekarang baru ada suara bacaan Quran pakai kaset saat ada orang meninggal."

"Orang tahlilan yang dulu dapat berkat matengan, sekarang beralih mentahan. Tamunya disuruh masak sendiri. Nanti lama-lama nggak ada tahlilan, nggak usah muludan, nggak perlu rajaban. Makanya kalian yang mondok di pondok salaf harus mempeng. Keadaan seadanya ya harus dijalani, meskipun berat. Tapi besok panen buahnya di masyarakat."

Sekitar setengah jam kami duduk menyimak. Anakku sudah ugat-uget nangis dari tadi sebab sumuk. Dia digendong ibunya di teras rumah biar silir. Akupun pamit sambil matur protokoler sowan ala Kalibening, kalimat badan yang tak pernah kudengar selama di Tuwel,

"Pakdhe. Kulo sa'keluargi sowan mriki sepindah bade silaturahim. Kaping kalihipun ngaturaken sugeng riyadi, nyuwun agunging pangapunten sedoyo kelepatan kulo sakeluargi. Utaminipun nyuwun tambahing dungo pangestu.."

"Ya, ta' pangestoni. Kamu kumaafkan, tapi besok harus lanjut lagi setoran. Sing ajeg, dirampungkan," jawabnya.

Nggih, Pakdhe. Insyaallah.


Kalibening, Sabtu 4 Syawal 1440

No comments:

Powered by Blogger.