Sembilan Maziyah Pendidikan Pesantren

21:26
Oleh: @ziatuwel

Maziyah berarti keistimewaan yang khas, atau 'keutamaan'. Bagi penyintas sistem pendidikan sekolah umun yang kemudian kecemplung di lingkungan pesantren, aku berani menyimpulkan bahwa pendidikan pesantren punya maziyahnya sendiri. Yakni keistimewaan sistem pendidikan ala pesantren yang timeless dan menjadi ruh bagi pendidikan itu sendiri.

Setidaknya ada sembilan maziyah pesantren yang bisa kurekam dengan mengamati praktik pendidikan di pesantren-pesantren salaf. Sembilan maziyah ini kulihat sulit ditemukan di sistem persekolahan umum.


1. Konsep Pawiyatan.

Yakni model full day education sebagaimana ditawarkan oleh Ki Hajar Dewantara, di mana para siswa tinggal bersama gurunya dalam satu lokasi. Belajar tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga di kamar, dapur, toilet, lapangan, dan semua tempat. Tidak hanya dua-tiga jam pelajaran, tetapi setiap saat dari bangun tidur hingga mata terpejam.

Belakangan mulai banyak bermunculan sekolah berbasis pawiyatan berupa asrama (boarding school). Sebab proses pendidikan yang efektif memang harus komplit sehari semalam. Namun ternyata pemondokan tidaklah cukup. Ada hal yang harus ada di setiap lembaga pendidikan berbasis asrama, yakni poin kedua berikut ini.

2. Keteladanan.

Pendidikan karakter menjadi tren belakangan ini, yakni tentang bagaimana mendidik siswa menjadi pribadi berakhlak mulia. Kemudian disusunlah berbagai rancangan kurikulum dan instrumen pembelajaran untuk merealisasikan pendidikan karakter. Padahal langkah utama yang paling jitu dalam pembelajaran karakter adalah keteladanan, bukan pengajaran.

Di pesantren ada sosok kiai sebagai guru yang meneladankan akhlak. Untuk menjadi kiai tentu ada prasyarat formal maupun informal. Syarat formal berkaitan dengan kapabilitas keilmuan, baik ilmu lahir maupun ilmu batin. Sedangkan syarat informal berupa peran kemasyarakatan dan pengakuan dari masyarakat di mana ia berkiprah.

Dahulu, orang pergi mondok yang dituju adalah kiainya, bukan institusinya. Magnet utama pesantren dahulu adalah sosok gurunya, ilmu yang dibawa, dan wibawa yang diembannya. Sama sekali tidak ada pertimbangan kenyamanan fasilitas, titel, atau ijasah. Sebab metode pembelajaran utama di pesantren -bahkan sejak jaman Nabi- adalah keteladanan sosok. Keteladanan ini menumbuhkan hubungan emosional-spiritual antara kiai-santri yang bertahan seumur hidup. Tiap lebaran sowan, tiap haflah hadir, bahkan tiap shalat kirim fatihah. Hal semacam ini kiranya sulit ditemukan di sistem persekolahan umum.

3. Penguasaan Ilmu Alat

Dalam hal kognisi, salah satu ilmu dasar yang diutamakan adalah ilmu alat. Yakni ilmu yang menjadi alat untuk membedah ilmu-ilmu lain dalam kitab-kitab berbahasa Arab. Ilmu alat ini berupa tata bahasa, mulai dari gramatika hingga sastra. Mulai dari level paling pemula sampai level mahir. Selain itu juga diiringi penguasaan ilmu alat lain berupa logika (manthiq) sebagai alat bedah bagi teks-teks turats. Belum lagi ditambah ilmu alat presentatif berupa pelatihan retorika untuk menyampaikan gagasan dalam forum khitobah atau musyawarah. Ilmu alat ini dalam terma Barat dikenal sebagai 'liberal arts' atau ilmu-ilmu instrumen pembebasan.

Selain ilmu alat kognisi, ada juga ilmu alat afeksi. Yakni kemapanan mental spiritual yang menjadi alat untuk menghadapi realita kehidupan kemasyarakatan. Santri biasa ditempa mentalnya, biasa dilatih jiwanya, biasa diasah sisi spiritualnya. Inilah ilmu alat batiniah yang tak kalah penting dengan ilmu alat ilmiah. Dalam kondisi-kondisi khusus, santri juga dibekali ilmu alat amaliyah berupa amalan-amalan penuntas problem kehidupan. Berupa doa dan wirid-wirid tertentu.

4. Pendalaman Turats

Pesantren sangat perhatian terhadap referensi keilmuan, yakni berupa kitab-kitab babon rujukan (turats) dalam berbagai fan ilmu. Mulai dari yang paling dasar sampai yang paling rumit. Dalam ilmu tata bahasa Arab atau Nahwu, santri belajar mulai dari kitab Jurumiyah, naik ke Imrithi, naik lagi ke Alfiyyah, hingga Uqudul Juman. Begitu pula dalam fan-fan ilmu lainnya, sangat tertata rapi.

Pembacaan kitab-kitab pun dilaksanakan secara intensif. Setiap huruf dan kata di dalam kitab, dari awal sampai akhir, pasti dibaca. Kaum santri juga sangat perhatian terhadap kredibilitas penulis kitab yang dikaji maupun ketersambungan sanad kepadanya. Tidak sembarang orang dikaji kitabnya, dan tidak sembarangan orang pula yang mengajarkannya. Ada legitimasi sanad ilmu untuk menjaga tanggung jawab intelektual sekaligus hubungan emosional antara siswa kepada penulisnya. Hal semacam ini kiranya sulit ditemukan di sistem persekolahan umum.

5. Proses Belajar Dialogis

Selain metode bandongan yang searah (guru membacakan isi kitab dan santri menyimak) yang monolog, ada pula metode sorogan (santri membaca isi kitab di hadapan guru) yang dialogis. Dalam metode sorogan ini santri dituntut sudah mempelajari isi kitab secara mandiri sebelum maju di hadapan guru. Ketika giliran membacakannya di depan guru, santri tak sekedar membaca sesuai tata bahasa, tetapi juga menjelaskan maksud dari apa yang dia baca.

Biasanya dalam proses sorogan ini pembacaan tetap dengan bahasa Jawa khas pesantren, kemudian disusul penjelasan dengan bahasa Indonesia. Jika ada pembacaan atau penjelasan yang kurang tepat, guru akan menanggapi dengan pertanyaan atau koreksi. Sorogan ini bisa disebut metode belajar semi otodidak sebab diawali dengan proses belajar mandiri siswa, kemudian dimantapkan dengan afirmasi dari guru.

Selain sorogan, ada juga metode belajar dialogis lain di pesantren, yaitu Musyawarah dan Bahtsul Masail. Agenda Musyawarah biasanya digelar tiap malam, yakni diskusi isi kitab tertentu sesuai dengan pelajaran yang dipelajari di kelas, misalnya 'Musyawarah Fathul Qarib'. Sedangkan Bahtsul Masail lebih komplek, yakni pembahasan satu atau beberapa tema tertentu dengan rujukan kitab-kitab otoritatif para ulama.

6. Kecakapan Hidup

Santri terbiasa hidup mandiri di lingkungan pesantren salaf. Kecakapan-kecakapan dasar dalam kehidupan menjadi menu sehari-hari bagi mereka. Semisal mencuci, masak, bahkan keterampilan rumah tangga lain seperti bertukang, berladang, dan beternak. Dalam kultur pesantren salaf jaman dulu, kegiatan santri berladang di sawah gurunya bukanlah hal yang aneh. Meskipun tak masuk dalam kurikulum, sebenarnya mereka telah belajar basic life skills secara praktek langsung.

Di pesantren salaf masa kini, beberapa kecakapan hidup tersebut masih bisa dipelajari santri. Misalnya saat roan (kerja bakti), berupa bersih-bersih lingkungan hingga pembangunan pondok. Atau saat mayoran (masak-makan bersama) di dapur umum. Sayangnya di beberapa pesantren, hal ini tidak disadari sebagai pendidikan basic life skills, justru dianggap sebagai 'pengganggu belajar' sehingga diciptakanlah sistem laundry dan catering.

Beberapa orang tua juga kadang naif, maunya anak mereka mondok dengan fasilitas yang senyaman mungkin, tidak menyadari bahwa anak mereka juga butuh belajar hidup mandiri, gerak, dan sedikit rekasa. Bukannya menolak modernisasi dan kemudahan teknologi, tapi kukira ada masa-masa dimana anak perlu belajar tentang tanggung jawab atas kebutuhan mereka sendiri. Terutama anak perempuan yang akan bertanggung jawab urusan dalam rumah, dan anak lelaki yang berurusan dengan luar rumah. Tentu kita tak mau anak-anak santri itu lanyah hapalannya tapi ketika mudik tak bisa apa-apa untuk sekedar membantu pekerjaan rumah orang tuanya.

7. Komunal

Hidup secara pawiyatan berarti hidup bersama secara komunal, tidak individual. Satu kamar berisi minimal lima orang, satu pondok dihuni ratusan kepala dengan ratusan karakter berbeda. Kehidupan santri menjadi proses belajar bermasyarakat. Itulah mengapa proses belajar di pondok tak sekedar di ruang kelas atau di hadapan guru. Santri bersosialisasi, berbagi ruang, memahami karakter, hingga bersitegang dengan sesama penghuni pondok, menjadi proses belajar teramat mahal yang tak didapatkan dari kenyamanan kos-kosan.

Fasilitas bersama yang digunakan secara bergiliran juga melatih budaya antri dan disiplin. Serta menanamkan pemahaman tentang batas ruang maupun batas waktu. Pemahaman tentang batas inilah yang akan sangat bermanfaat di dunia nyata sebagai anggota masyarakat. Tentu pelajaran semacam ini tak bisa didapatkan jika seorang siswa masih tinggal bersama orang tuanya, atau tinggal di kontrakan yang lengkap dengan segala fasilitasnya. Kehidupan santri adalah kehidupan proletar yang sosial, bukan kehidupan elit yang serba privat.

8. Khidmah

Satu hal yang sangat khas dan mungkin hanya ada di lingkungan pesantren adalah doktrin khidmah (pelayanan). Sebagai guru, aktivitas kiai mengajar adalah bentuk khidmahnya kepada agama dan masyarakat. Sebagai santri, segala kepatuhannya terhadap arahan guru adalah bentuk khidmahnya kepada ilmu dan ahli ilmu. Mengais dan menebar ilmu, dalam doktrin santri, adalah aktivitas mulia tanpa tendensi laba duniawi. Maka semua itu dilakukan secara sukarela dengan semangat khidmah.

Bahkan dalam tradisi santri, level khidmah ini mengungguli level belajar itu sendiri. Santri ahli khidmah dipercaya lebih berpotensi manfaat ilmunya ketimbang santri yang hanya ngaji. Maka tak lengkap jika santri yang sudah purna ngaji tidak berkhidmah sebelum boyong. Entah khidmah dalam hal kerumahtanggaan kiainya, khidmah dalam kepengurusan pesantren, atau sekedar khidmah among tamu dan rewang-rewang saat ada acara pondok. Pembiasaan khidmah di lingkungan pesantren ini menempa karakter santri sehingga siap berkhidmah di tengah masyarakat. Bisakah kita temukan hal semacam ini di sistem pendidikan sekolah umum?

9. Berbasis Potensi

Sepemahamanku, santri mondok di pesantren tidak harus 'pintar', dalam artian menguasai semua pelajaran yang diajarkan. Sebab yang dituju adalah keberkahan dan kebermanfaatan ilmu. Memang tugas utama santri adalah mengaji, namun agar ilmu berbuah manfaat dan berkah pintunya tak sekedar kepintaran.

Bagi santri berotak cemerlang, ia bisa meraih perkenan (ridha) guru dengan rajin belajar. Bagi santri yang tak mampu, ia masih punya pintu tirakat batiniah berupa wirid dan puasa. Bagi yang santri yang tak kuat, ia punya jalan pintas berupa khidmah. Bagi yang sanggup semuanya, ya rajin belajar, ya tirakat, ya khidmah. Masing-masing santri bisa meraih kebermanfaatan ilmu dengan potensinya masing-masing, entah potensi akal, potensi jiwa, atau potensi fisik.

Betapa banyak kisah-kisah para kiai yang saat di pondok hanya khidmah, namun itulah yang menyebabkan ilmunya manfaat. Betapa banyak pula kisah para tokoh yang saat mondok ahli tirakat, dan itu yang meyebabkan kesuksesannya di kemudian hari. Betapa banyak pula kisah para kiai yang begitu rajin ngaji saat mondok, sehingga ia menjadi penerus para ulama terdahulu. Semua pintu yang mereka lalui menuju ke muara yang sama; manfaat dan berkah.

Itulah setidaknya sembilan maziyah pendidikan pesantren yang bisa kucatat. Tentu saja kita tak busa menutup mata terhadap berbagai kekurangan pesantren yang musti diperbaiki. Namun perlu ditekankan bahwa pemahaman tentang sembilan maziyah ini penting bagi pengelola pesantren, agar bisa tetap mempertahankan maziyahnya di tengah modernisasi. Juga penting bagi para orang tua agar paham tentang pendidikan yang akan dilalui anak-anaknya di pesantren. Sehingga tidak melakukan hal-hal yang justru kontraproduktif dengan maziyah-maziyah tersebut.

___
Kalibening, Selasa 7 Syawal 1440

No comments:

Powered by Blogger.