Qudwah: Bedanya Ngaji dan Nyantri

07:26
Oleh: @ziatuwel

Dalam praktek beragama, baik tata ritual maupun laku sosial, santri tidak hanya menyandarkannya kepada dalil yang ia kaji dari kutubussalaf, tetapi juga kepada uswah yang bisa ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan nurnya secara langsung, yakni tingkah polah para kiai.

Kiai yang dimaksud di sini jangan kau batasi dengan pengertian 'muballigh' alias penceramah. Kiai yang kumaksud adalah mereka yang 'muallim' (mapan sisi keilmuannya) dan 'murobbi' (dengan setia membimbing secara tulus), sehingga betul-betul berperan sebagai 'muaddib' (pendidik sejati).

Kami ngaji tentang qira-atul Qur'an, kami menyimak beliau-beliau membaca Qur'an. Kami ngaji tentang ikromud dhuyuf, kami melihat beliau-beliau ngajeni dayoh. Kami ngaji tentang shalat, zakat, puasa, haji, kami saksikan uswah pada diri beliau-beliau. Kami ngaji tentang sabar dan syukur, kami rasakan itu dalam problematika yang beliau-beliau hadapi sehari-hari. Bahkan tak sedikit para kiai yang tak perlu banyak berceramah, karena perilakunya setiap hari sudah jadi 'kitab' yang bisa diapsahi para santri.

Kultus? Bukan. Cobalah baca kitab-kitab siroh nabawiyyah itu, tentang bagaimana para sahabat memperlakukan guru mereka; Baginda Muhammad 'alayhis sholatu was salaam. Namun bukan berarti santri memosisikan guru-gurunya setara nabi, oh tidak. Betapa banyak kisah para santri salaf maupun khalaf yang berbeda pendapat dengan kiainya, namun tetap tak kehilangan ta'dzim dan khidmah mereka. Tak perlulah kiranya kusebut satu-satu di sini.

Tentu saja para kiai kami juga mengambil qudwah (teladan) dalam hal ilmu dan amal dari guru-gurunya, terus ke atas hingga para sahabat, sampai Rasulullah. Dan ada hal lain selain ketersambungan sanad yang membuat kami mantap. Yakni bukti riil tentang apa yang mereka capai melalui jalan ini; banyak di antara kami -para santri- yang melihat (dalam makna harfiah) para kiai kami begitu istiqomah dalam ibadah mahdhah, begitu mengayomi masyarakat dengan segala macam masalah yang kadang aneh-aneh, begitu berbinar-binar cahaya wajah yang tak bisa kuungkapkan dengan tulisan, begitu adem kalimat-kalimat sederhana yang mungkin kelihatannya biasa saja bila dibandingkan orasi para motivator. Banyak dari kami yang juga menyaksikan hal-hal yang sulit dinalar pada kiai-kiai kami, seiring dengan haliyyah manusiawi pada umumnya, hingga akhir kehidupan beliau-beliau yang begitu indah dengan kalimah thayyibah.

Mereka mengamalkan syariat dengan ketat, mengajak masyarakat secara bertahap, tidak terburu-buru. Mereka pengamal tasawuf dengan berbagai jenis tarekat masing-masing, dengan disiplin ritual yang beraneka rupa. Mereka menghormati ahlul bayt, serta bertawasul dengan jah para sahabat yang mulia. Mereka mengajak kami mengaji karya-karya para pendahulu, sekaligus tak kurang-kurangnya mengirim fatihah kepada para awliya.

Maka wajar bila kami -para santri- tidak goyah dengan tuduhan-tuduhan dangkal tentang bid'ah dan semacamnya. Sebab, selain kami punya dalil nash yang bisa dipertanggungjawabkan, baik yang 'aam maupun khaash, kami juga punya qudwah, pembuktian nyata berupa kehidupan dan kewafatan kiai-kiai kami yang begitu indah. Seperti kata Imam al-Ghazali, bahwa ilmu tasawwuf juga termasuk sains, karena di situ ada unsur eksperimen atau pembuktian, dan banyak orang yang ternyata berhasil mencapai hasilnya dengan jalan ini. Dan kiai-kiai kami, kami saksikan, termasuk di dalamnya.

Hal ini perlu kuungkapkan, sebagai santri, karena mulai banyak tuduhan subyektif bahwa kiai-kiai adalah orang gila hormat, gila posisi, hingga gila amplop. Belum lagi ada kecenderungan pembanding-bandingan antara kiai dengan habib, Jawa dengan Arab, dan semacamnya. Bahwa ada indikasi persaingan dalam menggaet massa dan berbangga-bangga dengan banyaknya jamaah. Masyaallah.

Mungkin memang ada orang-orang semacam itu. Tapi entah kenapa, bagi kami -para santri- bisa mengendus mana kiai-kiaian dan mana kiai tenanan. Jangan suruh kami menjelaskannya secara deskriptif analitis. Ini lebih kepada 'rasa', dan nyantrilah dulu kalau mau memahami itu. Tentang siapa yang bisa kami ngaji ilmunya saja, lalu siapa-siapa yang musti kami hormati meski tak bisa kami ambil ilmu maupun tiru, serta siapa saja yang bisa jadi qudwah dan harus kami patuhi komandonya. Mana yang untuk ta'allum, mana yang untuk tabarruk, dan mana yang harus tahkim.

Urusan qudwah inilah yang mungkin hanya ada dalam budaya nyantri, baik muqim maupun kalong. Sangat berbeda dengan model ngaji liberal, ngaji liar. Orang-orang hanya hadir majlis pengajian, ta'lim, tabligh, tapi tak punya ikatan batin dan intensitas interaksi yang cukup dengan guru-gurunya. Padahal hal terpenting dalam sinau hidup ini, seperti kata Gus Miek, adalah keteladanan. Di situlah bedanya nyantri dengan ngaji.

Terakhir, selamat nyantri wahai para santri. Dan selamat Hari Guru untuk para kiai.

Krapyak Yogyakarta, 25 November 2015

*Foto: guru kami di Madrasah Huffadh Al Munawwir Krapyak Yogyakarta, KHR. Muhammad Najib Abdul Qodir Munawwir.

No comments:

Powered by Blogger.