Halal Bihalal dan Bincang Pendampingan Intensif - #KBQTDiary 29

Oleh: @ziatuwel

Siang ini keluarga besar Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah menggelar halalbihalal atau syawalan. Tradisi khas muslim Nusantara yang sangat kental nilai sosial sekaligus spiritual. Acara ini dihadiri seluruh wali murid, pendamping, para murid, dan pengurus yayasan.

Halalbihalal ala KBQT tak sekedar formalitas dan maaf-maafan, tetapi juga menjadi momen sosialisasi kegiatan belajar maupun pemantapan spirit pendidikan humanis. Dalam sambutannya, Pak Din menegaskan tentang trek KBQT sejak awal berdiri yakni memerdekakan warga belajar sebagai dirinya sendiri. Menegaskan bahwa tugas pendamping hanyalah memfasilitasi dan memotivasi anak untuk belajar dan berkarya sesuai minat masing-masing.

Ia menyinggung kebijakan baru Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Non-Formal dan Pendidikan Anak Usia Dini (BAN PNF PAUD) di mana ia bekerja. Yakni adanya aturan baru tentang komponen akreditasi yang lebih melihat performa satuan belajar, bukan sekedar dari kelengkapan administratif. Artinya, ketika asesor mengunjungi suatu satuan belajar maka ia akan menilai performa proses belajar atau karya yang dibuat siswa. Bukan melulu memeriksa kelengkapan dokumen maupun fasilitas fisik.

Kebijakan ini merupakan gebrakan positif bagi dunia pendidikan. Harapannya ke depan langkah ini tidak hanya diterapkan di lingkungan PNF-PAUD, tetapi juga di lembaga-lembaga pendidikan formal, sehingga akan betul-betul berdampak secara keseluruhan. Bayangkan saat anak-anak lebih fokus belajar dan berkarya sesuai pilihan mereka daripada dipaksa untuk mempelajari apa yang tak disukai demi nilai. Atau saat para guru tak lagi diribetkan dengan tetek bengek dokumen, dan lebih total dalam pendampingan belajar.

Selain itu Pak Din juga mengajukan ide tentang program pendampingan intensif. Yakni ketika seorang pendamping di KBQT menjadi 'pengasuh' bagi beberapa anak secara intensif. Artinya ia tak sekedar mendampingi kegiatan belajar anak ketika di KBQT, tetapi juga memantau perkembangan diri anak secara keseluruhan, kegiatan kesehariannya di dalam maupun luar KBQT. Sehingga proses pendampingan bisa total. Tentu saja program ini perlu dukungan penuh dari orang tua, khususnya dukungan finansial sebagai sebentuk kompensasi jasa bagi pendamping.

Sebenarnya praktik pendampingan intensif sudah berjalan di KBQT. Yakni dengan adanya 'wali kelas'. Saya sendiri sejak awal tahun ini menjadi wali bagi kelas paling bontot, Bonus Res, yang beranggotakan delapan anak. Tentu saja saya musti mengamati perkembangan setiap anak dengan potensi dan kecenderungannya yang khas. Tentu saja aktivitas ini bisa disebut pendampingan intensif, hanya saja memang tidak merambah kehidupan pribadi anak dan kegiatan kesehariannya.

Ide ini ditanggapi wali murid. Bu Abyz, orang tua Zikri yang juga praktisi parenting asal Malang, menyatakan dukungannya terhadap gagasan pendampingan intensif. Namun juga musti mewaspadai jangan sampai program pengasuhan total ini membuat orang tua pasrah bongkokan kepada pendamping. Pak Din mengiyakan kekuatiran itu. Ia mengkritik praktik pasrah bongkokan dan nir-pengasuhan yang kerap terjadi di lingkungan persekolahan.

Guru, kata Pak Din, idealnya tidak sekedar mengajar, tetapi lebih ke pengasuhan atau pendampingan bagi siswa. Orang tua idealnya juga tidak pasrah bongkokan, tetap harus ada interaksi pengasuhan antara orang tua dan guru. Sayangnya, yang kebanyakan terjadi adalah orang tua pasrah bongkokan kepada guru, kemudian guru tidak melakukan pengasuhan, hanya sekedar mengajar. Ini adalah fenomena pendidikan yang berbahaya dan sangat fatal.

Sesi sarasehan bersama Pak Din berlangsung cukup seru dan hidup. Pak Sudarmoko, salah satu tamu yang merupakan rekan Pak Din dalam program Integrated Farming System juga memberikan tanggapannya. Ia yang merupakan pendiri pabrik yogurt Yoforia dan mendampingi 200 peternak sapi di lereng Ceremai menyebut proses belajar ala KBQT ini adalah masa depan pendidikan dunia. Ia menyebutkan bahwa pola pendidikan humanis kontekstual yang dilihatnya di KBQT sama seperti yang dilihatnya di Selandia Baru.

Setelah sarasehan, acara dilanjutkan dengan obrolan kelompok sesuai dengan kelas. Wali murid mengelompok dengan pendamping sesuai dengan kelas di mana anak mereka jadi anggotanya. Saya melingkar dengan para wali murid kelas Bonus Res. Ada Pak Saidi orang tua Nanda, Pak Hadi orang tua Raka, Pak Noval orang tua Kayla, Bu Rina orang tua Abel, dan Bu Anif orang tua Daffa. Orang tua Bara dan orang tua Danial tidak hadir dalam kesempatan ini.

Sebagai pendamping baru, saya awali dengan perkenalan. Kemudian menyampaikan beberapa hal penting terkait proses belajar di KBQT. Apa saja hal penting itu? Apakah pembayaran uang gedung? Atau peraturan sekolah? Tidak. Melainkan poin-poin pendampingan dan perkembangan anak yang perlu kerjasama antara orang tua dan pendamping.

Pertama, saya sampaikan tentang hasil rembug pendamping mengenai kurikulum KBQT. Bahwa untuk kelas kecil seusia SMP, termasuk Bonus Res, yang menjadi poin pendampingan adalah kemampuan komunikasi dan sosialisasi, tanggung jawab, serta keaktifan dalam kegiatan komunitas. Sedangkan untuk kelas besar seusia SMA arahnya adalah pengasahan passion dan penciptaan karya.

Kedua, saya sampaikan catatan pendampingan tiap anak selama beberapa bulan terakhir berdasarkan pengamatan pribadi. Saya bercerita tentang Nanda yang sangat presentatif, punya kemampuan tutur yang baik, dan memiliki potensi leadership, karyanya kemarin adalah kostum mermaid. Saya juga sampaikan catatan tentang Raka yang sangat enerjik, komunikatif, ekspresif, dan disiplin. Ada juga catatan tentang Kayla yang imajinatif, berbakat dalam menggambar, dan moody. Perkembangan Abel cukup bagus sebab ia sudah bisa bersosialisasi dengan teman-temannya. Juga ada Daffa yang lebih cenderung belajar dengan suasana guyon daripada serius.

Masing-masing orang tua menanggapi pemaparanku sekaligus menyampaikan perkembangan yang mereka lihat dari anaknya masing-masing. Tentu dialog semacam ini sangat bermanfaat bagi pendamping maupun orang tua. Sehingga terjadi sinergi dan kerjasama demi terciptanya proses pendidikan yang efektif. Kami juga menyepakati membuat grup WhatsApp khusus wali murid kelas Bonus Res untuk mempermudah komunikasi dan sosialisasi.

Tanggung jawab pendamping kepada wali murid adalah melaporkan setiap pencapaian belajar anak. Tentang apa saja taget mingguan mereka, kegiatan apa yang mereka ikuti, apa saja yang mereka sampaikan di forum, ide apa yang mereka tulis, hingga karya apa yang mereka jadikan proyek pribadi. Praktik ini, saya kira, sudah menjadi aplikasi pendampingan intensif.

Satu jam kami berdiskusi tentang progres belajar anak, teknik yang digunakan, serta arah yang dituju. Penyamaan persepsi ini penting agar orang tua tidak menagih hal-hal yang terlampau tinggi. Kami sepakat bahwa kecakapan yang dituju anak-anak Bonus Res adalah kecakapan sosialisasi dan komunikasi, juga kepercayaan diri dan tanggung jawab. Adapun bagi anak yang sudah menemukan passion dan berkarya, menjadi nilai plus tersendiri yang tentu saja akan terus difasilitasi.

Jujur saja, kesempatan berdialog dengan para wali murid ini memekarkan kebungahan di hati saya. Menyadari bahwa saat ini saya betul-betul tengah nyemplung dalam praktik pendidikan humanis yang dulu hanya saya pelajari, wacanakan, dan diskusikan bersama teman-teman seperjuangan.

_
Kalibening, Sabtu 15 Juni 2019

No comments:

Powered by Blogger.