SohibStory #12 ~ Guru Keayeman Bernama Budi Mulyawan

Oleh: @ziatuwel

Budi adalah guruku dalam hal keayeman dan ke-los-an. Dalam hal duniawi dia tak pernah menggenggam erat-erat. Banyak sekali kesempatan baginya untuk jadi 'orang penting', 'kaya raya', 'sukses besar', dan kategori-kategori semisalnya ala dunia modern. Namun dia emoh.
November 2014, Kandang Menjangan, Krapyak Jogja
Pertama kali aku kenal Budi adalah saat masih kuliah di STAN, Tangerang Selatan, antara 2008-2010. Kala itu aku sering wira wiri Depok, sambang teman-teman yang kuliah di UI, untuk kemudian bersama-sama hadir Majelis Rasulullah yang diasuh almarhum Habib Munzir Al-Musawa tiap Senin malam.

Masa itu aku tak terlalu kenal Budi. Aku lupa kapan dan bagaimana tepatnya kok kami bisa akrab beberapa tahun kemudian, yakni saat aku sudah hijrah ke Jogja, mondok di Krapyak. Saat itu ia sering bolak-balik Tegal-Jogja untuk urusan perbatikan. Meski lulus sebagai sarjana geografi, ia memilih nyemplung di dunia batik dan total di sana. Dia banyak bergaul dengan seninan batik, berproses, berdiskusi, bahkan kemudian menulis bukunya sendiri tentang batik Pekalongan. Dia tipe orang yang total dan fokus dalam hal yang diminati.
Peluncuran buku Batik Pekalongan di Menara BCA, Jakarta
Aku masih ingat beberapa kali diberi proyek menggambar pola batik olehnya, dibayar cukup banyak untuk ukuran santri saat itu, namun tak kelar sesuai pesanan. Tapi tak ada komplain darinya, sebab kutahu sebenarnya dia hanya ingin membantu. Di Krapyak, kuajak dia menginap di kantor pondok, kadang kuajak tidur atap pondok beselimut langit. Setelah aku punya kos di luar pondok, dia selalu menginap di sana yang ia sebut dengan 'hotel bintang tujuh'.

Tahun 2012, dia bersama kawan-kawan alumni UI sepakat membuat program donasi beasantri yang dinamai Santri Foundation. Kemudian aku yang belum bisa ikut berdonasi coba membantu di lini publikasi media online. Maka kami buat situs web Santrijagad. Saat itu seingatku belum begitu ramai media online berbasis santri. Sejak saat itu, kami bahu membahu ngopeni program Santri Foundation dan media Santrijagad dengan riang gembira, tulus, dan seadanya hingga hari ini.

Dari sekian lama pergaulanku dengannya, banyak sudah situasi genting yang kami lalui. Kasus-kasus terkait uang, bisnis, prinsip, asmara, dan sebagainya sudah kami lewati. Aku menyaksikan bagaimana dia menjadi orang dewasa dengan prinsip yang kokoh, tekad yang kuat dan langkah yang jelas. Proyek yang ia kerjakan selalu digarap dengan tuntas dan fokus, apalagi jika berkaitan dengan pihak lain.

Pernah suatu kali kami berproyek bareng berupa penerbitan buku. Hampir saja modal investor sekian puluh juta kandas jika tanpa kesigapannya mengatasi keadaan. Aku masih begitu culun saat itu, dan baru menyadari betapa gentingnya keadaan setelah kejadian berlalu. Firasatnya perihal bisnis dan para pelakunya sangat tajam, ia sering mengendus ketidakberesan dalam suatu hubungan kerja.
Januari 2015, Makam Raja-raja, Imogiri Jogja
Seiring waktu, kami banyak berinteraksi di Komunitas Santrijagad yang saat itu masih berupa wadah diskusi dan kini jadi ruang pemberdayaan. Melalui komunitas ini, Budi mengumpulkan banyak teman yang sebenarnya cukup merepotkannya. Ia membangun markas, menata sistem kerja, hingga memodali kawan-kawannya itu. Bukan modal finansial yang kuperhitungkan, tapi modal waktu, tenaga, dan pikiran yang tentu sangat terkuras darinya. Padahal ia sangat bisa bersolo karir sebagai wirausahawan muda dengan segudang jejaringnya yang -kutahu betul- sangat basah.

Tapi tidak, ia berkali-kali mengatakan padaku, "Melas kanca-kanca, Kang." Ia hanya ingin teman-temannya berdaya, mandiri, bangkit. Terutama saat beberapa kawan di lingkaran kami menghadapi problem cukup berat dalam hidup mereka. Dia selalu ada untuk membantu. Uang, tenaga, waktu, pikiran, emosi, tak kurang ia curahkan untuk teman-teman dan kerabatnya. Aku mungkin salah satu teman yang sering merepotkannya sejak di Jogja, namun kurang berterima kasih kepadanya, atau sekedar menawarkan bantuan padanya saat ia repot.

Untuk urusan materi duniawi, ia tak perhitungan jika memang ditujukan buat menolong teman atau siapapun. Bral brol bral brol. Ia berprinsip bahwa materi mudah dicari, apa yang ia dapatkan dan ia lepas memang bukan miliknya. Sekian ratus juta untuk membantu kerabatnya lepas dari hutang, untuk perbaikan pesantren, untuk pengobatan teman, dan banyak lagi yang tak kutahu. Uang sebanyak itu bagiku mending ditabung untuk modal nikah. Tapi dia justru merelakannya untuk membantu orang dan memilih menjual mobil-motornya untuk biaya pernikahan.

Aku tak mau melebih-lebihkan Budi Mulyawan sebagai orang yang begitu baik tanpa cela. Tidak. Tapi sejauh interaksiku dengan teman-teman yang lama bergaul dengannya, mereka mengakui bahwa sikapnya memang sebagaimana namanya, bahwa hidupnya adalah puisi, bahwa kata-katanya adalah seruling yang melengking.
Sketsa yang kubuat dan dibatik oleh Budi, 2015

Belakangan Budi memilih hidup soliter. Ia meninggalkan hingar bingar media sosial, kemudian juga menonaktifkan gawai teleponnya. Cara menghubunginya ya langsung datang ke rumah, atau mengirim email yang belum tentu dibaca atau dibalas. Ia membatasi pergaulan dengan hingar bingar dunia luar. Ia meremehkan eksistensi di saat kita memburunya atas nama agama, bangsa, dan negara. Ia menyepi saat kita berebut kenalan sebagai investasi masa depan. Ia menertawakan popularitas saat kita menganggapnya penting. Ia menepis godaan untuk 'menjadi besar' di saat kita berlomba-lomba menanjakkan diri menuju kesana.

Berladang adalah jalan hidup yang kini ia pilih. Kecenderungan ini sudah nampak sejak kami sama-sama berkunjung ke lahan permakultur seorang sufi di Imogiri. Akupun punya cita-cita yang sama, namun belum nampu melaksanakannya. Bersama istri dan putranya, ia kini tinggal di wilayah Pantura, dekat laut yang panas dan berangin. Makin jauh dari rumahku di wilayah Gunung Slamet yang dingin dan berkabut.

Aku bersyukur dia masih rajin curhat melalui blog wordpress usangnya, Budiografi. Di situ aku bisa menyimak perjalanan spiritualnya dan kesamaan cita-cita kami yang masih terpatri dalam sunyi. Ia menulis dari hati, sebagaimana tertuang dalam buku puisi dan karya-karyanya yang lain.

Kita memang tidak memilih untuk hidup, namun di dalam kehidupan penuh banyak pilihan. Budi memilih hidup ayem daripada hidup gemrungsung. Ia memilih menghidupi jiwa daripada sekedar memewahkan raga. Kalau kau membaca ini, Bud, jangan lupa panjatkan fatihah serta doa buatku dan keluarga kecilku. Sebagaimana kulayangkan jua untukmu dan keluarga kecilmu.

Salatiga, Jumat Kliwon 14 Juni 2019

No comments:

Powered by Blogger.