Seri Arkanuddin #3 - Kata Kunci Ihsan

Oleh: @ziatuwel

Puncak beragama, setelah berislam dan beriman, adalah berihsan. Jika secara bahasa kata 'islam' berarti 'mewujudkan kedamaian, 'iman' berarti 'mewujudkan keamanan', maka 'ihsan' berarti 'mewujudkan keindahan'.

Keindahan itu terwujud dalam rupa akhlak, yakni ukiran karakter dan sikap dari dalam diri kita terhadap segala 'di luar diri' kita. Jika berislam disebut punya lima rukun, beriman punya enam rukun, maka berihsan cukup satu rukun saja, yaitu;

"Mengabdi kepada Allah seakan-akan kau melihat-Nya. Jika tak bisa, maka Ia selalu melihat-Mu."

Melihat, atau dilihat. Begitulah kata kunci ihsan. Suatu kondisi saat kita selalu tunduk, khusyuk, dan beradab dalam setiap aktivitas ibadah, sebab senantiasa 'merasa' melihat atau dilihat oleh Allah. Dalam budaya Jawa, konsep ihsan ini terejawantahkan -dalam kaitannya dengan hubungan antarmanusia- berupa falsafah; "Sawang Sinawang" atau saling melihat satu sama lain.

Kau merasa jengkel dibohongi, maka jangan membohongi. Kau tak mau disakiti, maka jangan menyakiti. Kau sebal dicurangi, maka jangan mencurangi. Meskipun kau mampu membohongi, meskipun kau bisa lebih lihai menyakiti, meskipun kau sanggup lebih licik mencurangi.

Kepada Tuhan, kata kunci berakhlak kita adalah 'mengabdi'. Pengabdian merupakan hal yang kita persembahkan kepada suatu pihak yang mana pihak tersebut tidak mengambil sedikitpun manfaat. Maka mustinya kata 'mengabdi' hanya bisa tersemat kepada Tuhan. Adapun kepada sesama makhluk, bisa kita gunakan kata 'berbakti'.

Kepada diri sendiri, kata kunci berakhlak kita adalah 'mengembangkan'. Dimulai dengan mengenali diri dalam segala sisinya, baik sisi raga, jiwa, maupun akal. Kemudian mengembangkan semua sisi itu secara seimbang demi mencapai kebahagiaan. Raga dikembangkan dengan asupan yang sehat dan olahraga. Begitupun jiwa, musti diasupi input yang jernih dan olahjiwa melalui disiplin ritual. Juga akal, perlu terus melahap wawasan dan olahnalar agar tak beku.

Kepada bumi, kata kunci berakhlak kita adalah 'menjaga'. Kita tak menjadikan bumi beserta segala isinya ini sekedar sebagai 'sumber daya alam', melainkan sebagai saudara tua ciptaan Tuhan. Hubungan kita dengan alam tak sepatutnya eksploitatif, bahkan eksploratif pun tidak. Melainkan hubungan penjagaan satu sama lain. Ia menjaga keberlangsungan hidup kita di muka bumi, kita menjaganya dari pengrusakan agar tetap lestari.

Kepada manusia lain, kata kunci berakhlak kita adalah 'mengasihi'. Tentu saja wujud kasih yang dipersembahkan sesuai dengan bentuk hubungan kita dengan orang lain, sesuai dengan peran kita terhadap orang lain. Apakah sebagai anak, sebagai bapak, sebagai ibu, sebagai saudara, sebagai guru, sebagai murid, sebagai tetangga, sebagai kawan, sebagai orang asing, atau bahkan sebagai musuh dalam drama kehidupan. Semuanya harus dalam koridor mengasihi.

Mengabdi (kepada Tuhan), mengembangkan (diri), menjaga (lingkungan), dan mengasihi (sesama manusia). Itulah empat kata kunci dalam semesta ihsan.


___
Kalibening, 16 Ramadan 1440
Seri Arkaanuddin #3 - Ihsan
Ngaji Pasanan KBQT

No comments:

Powered by Blogger.