Ma Eroh; Memahat Tebing dan Menggali Parit 5 Kilometer Demi Desanya

Oleh: @ziatuwel

Ini adalah kisah tentang Ma Eroh, perempuan tangguh bersemangat baja yang menggali parit selama 2,5 tahun, untuk membuat saluran air sepanjang 5 kilometer demi desanya. Atas upayanya ini, 60 hektar sawah terselamatkan, dan puluhan keluarga di 3 desa bisa menikmati pasokan air.

Ma Eroh (tengah) saat diundang presiden ke istana negara, 1988, foto: FB Paguyuban Urang Banjar Patroman
Ma Eroh adalah warga asli Kampung Pasirkadu, Desa Santana­mekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Pendidikan formalnya hanya sampai kelas 3 sekolah dasar, ia hidup bersama seorang suami dan tiga orang anak. Pada tahun 1982 Gunung Galunggung meletus dan menyisakan timbunan pasir dan abu di lahan pertanian warga. Kondisi ini tentu membuat warga Pasirkadu dan perkampungan lain di Tasikmalaya pun mengalami masa susah, terutama bagi para petani.

Sebagai usaha memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ma Eroh yang suaminya sakit, mencari janur kelapa di hutan dan singkong untuk dijual atau ditukar dengan beras. Rutinitas masuk-keluar hutan ini membuat Ma Eroh paham betul kondisi hutan. Ia menemukan sumber air yang berasal dari curug di Pasirlutung yang tidak tertutup material letusan Gunung Galunggung. Penemuan ini membuat Ma Eroh berpikir untuk kembali bertani di sawahnya seluas 400 meter persegi. Ia berpikir bagaimana caranya agar air tersebut bisa disalurkan ke perkampungan.

Maka pada bulan Juni tahun 1985 perjuangannya pun dimulai. Di usianya yang ke-45, Ma Eroh mulai menggali parit yang ia impikan. Berbekal belencong dan linggis, tiap hari Ma Eroh memapas perbukitan dan lereng curam sendirian. Seorang ibu paruh baya dengan impian besar demi kemakmuran keluarga dan kampungnya. Peluh dan penat, lelah dan perih, tak menghalangi tekadnya yang sudah bulat. Begitu pula olok-olok dan cibiran sebagian warga yang menganggap usahanya sia-sia.

Ma Eroh bergelantungan seorang diri menggunakan tali areuy di tebing cadas lereng Gunung Galunggung. Saat itu sebagian warga mencemooh usahanya. Saat itu, warga nyaris tidak percaya dengan hasil kerja wanita yang tak lulus SD tersebut. Setelah 47 hari bekerja tanpa henti, saluran sepanjang 45 meter lebar 2 meter tinggi 17 meter pun terwujud. Ia menunjukkan hasil kerjanya kepada ketua RT setempat. Ia juga menunjukkan cara memapas bukit cadas. Melihat hal ini, 19 pemuda tergerak hatinya untuk membantu, namun setelah seminggu 8 orang berhenti.

Dalam waktu 2,5 tahun, yakni pada Desember 1987, pekerjaan lanjutan itu tuntas. Saluran air dengan lebar satu meter, kedalaman seperempat meter, dan panjang 5 kilometer itu mulai mengairi sawah dan kampung mereka. Aliran air tak hanya dinikmati lahan sawah desa Sentana-mekar, tetapi juga  dialirkan ke desa Indrajaya dan Sukaratu. Proyek pribadi yang melelahkan itu menghabiskan 10 belincong, 15 kapak, 10 martil, 25 golok, 30 pahat, dan 40 cangkul. Semua peralatan seharga 400 ribu rupiah itu didapatkan dari hasil menjual perhiasan dan berutang kepada warga. Total biaya yang dikeluarkan untuk membuat saluran air itu ditaksir mencapai enam juta rupiah.
Tugu Ma Eroh dan Abdul Rojak di Alun-alun Tasikmalaya
Pada tahun 1988 itu pula Ma Eroh mendapatkan penghargaan Kalpataru dari Presiden Suharto. Setahun kemudian, penghargaan ia dapatkan dari PBB. Bahkan tugu berupa patungnya dibuat di alun-alun Tasikmalaya sebagai wujud penghargaan pemerintah daerah. Namun bukan itu semua yang ia harapkan.

Di usia senjanya, Ma Eroh tetap hidup sederhana. Ia berharap pemerintah mengusahakan pipa saluran air ke desanya, juga berharap ada pembangunan masjid di kampungnya. Pada 18 Oktober 2004 lalu ia wafat di usianya yang ke-68, dengan membawa jasa besar bagi anak cucunya, serta amal ibadah sosial yang tak ternilai pahalanya. [ziatuwel.com]

Sumber: Pikiran Rakyat & Ini Tasik

No comments:

Powered by Blogger.