Bhutan; Negara Pencinta Alam Dengan Kementerian Kebahagiaan

18:04
Oleh: @ziatuwel

Sejak tahun 2008 di Bhutan ada Kementerian Kebahagiaan yang mendata kebahagiaan perkapita warganya. Di kuosioner pengisian sensus penduduk, ada kolom untuk mengisi taraf kepuasan warga atas kehidupannya. Ukuran kualitas kebahagiaan hidup ini dilihat dari keseimbangan antara ketercukupan finansial dan kondisi mental.

Di Bhutan tidak ada tunawisma (gelandangan). Jika ada warga yang tak punya rumah, ia cukup datang ke istana dan menghadap raja. Kemudian raja akan memberinya sebidang tanah untuk dibangun rumah dan bercocok tanam. Selain itu, setiap warga Bhutan berhak mendapatkan pelayanan kesehatan gratis dari negara. Meski demikian, pengobatan tradisional masih sangat populer di Bhutan dibandingkan pelayanan medis rumah sakit. Di samping jaminan kesehatan gratis, pemerintah Bhutan juga melarang produksi dan konsumsi rokok. Turis yang hendak melancong dan membawa rokok diharuskan membayar biaya yang tidak sedikit.

Pemerintah Bhutan sangat memperhatikan kelestarian lingkungan. Pada tahun 2015 lalu, 100 relawan di Bhutan telah memecahkan rekor dunia dengan menanam 49.672 pohon dalam waktu satu jam. Acara penanaman pohon ini sebagai bentuk hadiah ulang tahun ke-60 mantan Raja Jigme Singye Whangchuk yang memang terkenal sebagai pencinta lingkungan. Bahkan pada 2016, sebanyak 108.000 pohon ditanam dalam rangka kelahiran putra pertama Raja Jigme Khesar Namgyel Wangchuck dan Ratu Jetsun Pema.

Bhutan termasuk salah satu dari 10 negara teratas dalam hal sebaran hutan dan alam liar. Melalui undang-undang, pemerintah Bhutan secara resmi menetapkan kebijakan untuk mengkover 60% dataran Bhutan dengan hutan. Hingga saat ini, 51% dataran Bhutan sudah terkover hutan dengan segala keanekaragaman hayatinya, ini tentu prosentase terbesar di Asia, kira-kira seluas 2 juta hektar. Dengan hutan seluas ini, Bhutan menjadi penyumbang air tanah bagi seperlima penduduk bumi, serta membantu mengurangi pemanasan global dan menyerap karbondioksida. Bhutan bahkan mengklaim dirinya sebagai negara tanpa emisi karbon.

Ada banyak hal lain yang unik di Bhutan yang terletak di antara India dan China ini. Negara kecil ini pernah tidak menerima turis hingga tahun 1974. Televisi dan internet sempat dilarang sampai kemudian kebijakan ini dicabut pada tahun 1999. Sampai saat ini, di Bhutan masih ada larangan mengimpor atau menggunakan produk kimia sintetis dari luar. Semua produk yang digunakan merupakan hasil produksi dalam negeri dan sepenuhnya alami.

Warganya mengenakan pakaian tradisional di kehidupan sehari-harinya. Status sosial seseorang bisa dilihat dari warna selendang yang dikenakan di bahu kirinya. Rakyat jelata biasanya memakai selendang berwarna putih, sedangkan kalangan ningrat atau pendeta memakai selendang kuning. Uniknya, di ibukota Bhutan tidak ada lampu lalu lintas di setiap persimpangan jalan. Sebagai gantinya, ada petugas polantas di tengah persimpangan yang mengatur lalu lintas kendaraan. Dari sekian banyak keunikan budaya dan kebijakan politiknya yang ketat, warga Bhutan nampaknya baik-baik saja dan hidup bahagia.

Sumber: Brightside, BBC, Treehugger

No comments:

Powered by Blogger.