Tolok Ukur ‘Kesuksesan’ Alumni KBQT – KBQTDiary #25

Oleh: @ziatuwel

Sesorean ini kucoba mendata penelitian yang lahir dari lingkungan KBQT. Dengan sedikit upaya dan bantuan Google, berhasil kudata 29 skripsi, 13 tesis, 14 jurnal, dan 2 disertasi. Artinya, komunitas belajar yang berangkat dari ide sederhana ini telah membantu lahirnya puluhan cendekiawan dengan berbagai karya ilmiahnya. Dan semua itu masih terus bertambah, sebab tiap pekan pasti ada tamu yang harus kami temui.
Tamu dari Kanada dan Australia

Setiap kali ada tamu berkunjung ke KBQT, terutama jika yang datang bertujuan meneliti, ada satu pertanyaan yang tak pernah luput diajukan. Yakni; bagaimana pencapaian alumni KBQT? Bagaimana kehidupan mereka sekarang? Di mana mereka melanjutkan karya? Kuliah apa yang diambil? Kerja apa yang digeluti? Apa kiprah mereka di masyarakat?

Pertama, perlu diketahui bahwa secara prinsip tidak ada istilah alumni di KBQT. Seorang anak bisa tetap merasa jadi siswa KBQT selama dia masih berproses bersama di lingkungan KBQT. Adapun jika ada siswa yang telah pindah lokasi, tidak lagi belajar di lingkungan KBQT, maka ia sekedar dianggap pindah belajar. Meski demikian, secara teknis memang anak-anak yang tak lagi wira-wiri setiap hari di KBQT bisa kita sebut sebagai ‘alumni’, ya harus tetap pakai tanda petik.

Kedua, perlu dipahamkan dulu bagaimana cara pandang warga belajar di KBQT tentang apa tujuan pendidikan, dan bagaimana proses belajar semestinya. Kita tentu akan berdebat panjang tak berujung jika tidak menyamakan persepsi dalam hal ini. Misal, jika kau berpandangan bahwa tujuan pendidikan adalah pendapatan materi, maka tentu ukuran kesuksesan adalah jenjang karir dan perolehan harta bendawi. Maka ukuran-ukuran semacam jabatan, gaji, mobil, atau rumah bisa jadi standarnya. Jika memang begitu pandanganmu maka mending berhenti baca sampai di sini.

Lalu bagaimana pandangan KBQT tentang tujuan pendidikan dan makna kesuksesan? Proses pendidikan di KBQT bertujuan untuk belajar dan berkarya, titik. Tagline di website resmi KBQT yang belakangan kupoles, menyatakan bahwa KBQT adalah; lembaga pendidikan yang konsisten memerdekakan warga belajar, berbasis konteks kehidupan. Artinya, tujuan pendidikan dalam kacamata KBQT adalah memerdekakan warga belajar agar otentik sesuai dengan bagaimana dirinya, untuk mengembangkan potensi khasnya, serta melek dan bertindak atas realita di lingkungannya.

Lalu bagaimana kriteria kesuksesan alumni sebagai ukuran ketercapaian tujuan pendidikan tersebut? Sebagai pendiri dan pendamping senior di KBQT, Pak Din kerap memberikan jawaban sederhana ketika ditanya pertanyaan semacam itu. Yakni; tidak menyusahkan orang lain (terutama orang tua), mandiri dalam hidup, dan berdaya di masyarakat. Tentu ini jawaban sederhana yang berat.

Mengapa kubilang berat? Untuk lulusan kuliah sekalipun kita masih bersusah payah mencari sarjana yang bisa memenuhi tiga kriteria itu. Tapi ternyata tolak ukur ini bisa tercapai di lingkungan KBQT yang hanya berjenjang SMP-SMA. Salah satu penelitian FISIPOL UGM menyebutkan bahwa tantangan yang musti dijawab oleh alumni KBQT adalah keterlibatan mereka dalam aksi kemasyarakatan. Namun untuk melihat hal ini tentu butuh waktu, sebab alumni angkatan pertama KBQT masih berusia 25-30, belum bisa diteropong secara konsisten peran sosialnya di masyarakat.

Adapun untuk ukuran kemandirian hidup agaknya KBQT memang musti bangga. Anak-anak angkatan pertama yang dahulu berproses di KBQT kini sudah bisa hidup mandiri tanpa mengandalkan ijasah. Juga pantas bangga dengan para alumni yang terus melanjutkan proses belajar mereka di kampus-kampus pilihan masing-masing. Jika didata satu persatu tentu butuh energi yang tak sedikit.

Kita cukupkan dengan melihat sampel alumni KBQT asal Kalibening saja. Hilmi, putra pertama Pak Din, kini beternak ayam petelor. Maghfur juga beternak telor bebek. Hanif yang kini jadi pendamping belajar, bisnis budidaya jamur. Istrinya, Zulfa yang juga jadi pendamping belajar, bisnis perlengkapan bayi dan gamis. Isma usaha jahit celana, Ipung membuka bisnis sablon kaos, Taqi menggarap usaha kemeja batik bayi. Dewi bisnis kaos kaki, Qonaah usaha video shooting, Sofian terima order sketsa, Zati bergelut di bisnis jajanan. As’ad dan istrinya, Iffah, yang sama-sama alumni, usaha jamu. Ais pegang konveksi, Emi bisnis cilot dan reparasi sofa, Eni produksi susu murni, dan istriku Fina menekuni perdagangan buku online. Mereka tidak merantau, berdaya di kampungnya sendiri.

Belum lagi jika kita sebutkan alumni yang kini bekerja sebagai bidan, voice over televisi, scriptwriter, guru, dosen, dan seterusnya. Secara umum, alumni KBQT masih dalam rentang usia meniti karir, merintis usaha, atau memulai keluarga. Belum bisa diukur bagaimana kiprah sosial mereka di tengah masyarakat. Namun yang pasti dan perlu digarisbawahi, adalah bahwa kemandirian dan keberdayaan diri warganya betul-betul tercapai dari komunitas belajar ini.

Tentu saja beda urusan jika yang kau tanyakan adalah; kok nggak ada yang juara olimpiade? Mana yang jadi caleg?

Kalibening, 14/4/2019

No comments:

Powered by Blogger.