Sarana Belajar Paling Mewah - KBQTDiary #21

Oleh: @ziatuwel

Tiap sekolah favorit tentu memiliki kebanggaan tersendiri terhadap fasilitas penunjang belajar di lingkungannya. Bahkan hal itu menjadi daya tawar yang kerap diiklankan kepada masyarakat agar mau menyekolahkan anak-anak mereka di sana. Berupa fasilitas olahraga, multimedia, kantin, laboratorium bahasa, hingga musholla. Bukan rahasia jika pembangunan fasilitas-fasilitas tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan kerap dibebankan kepada wali siswa sebagai ‘uang gedung’.

Fasilitas penunjang utama di KBQT adalah Ruang Komputer (RK) dengan jaringan internet cepat untuk warga belajar. Jaringan internet ini menjadi fasilitas mewah pertama yang dimiliki KBQT sejak awal mula berdiri. Pada tahun 2003, ketika masih berupa SMP Terbuka, warga belajar saat itu dimanjakan dengan jaringan internet gratis yang difasilitasi oleh Roy Budhianto, karib Pak Din. Untuk ukuran saat itu tentu fasilitas ini menjadi previlige anak-anak KBQT sehingga mereka bisa berselancar menggali wawasan kemanapun, hingga ke ujung dunia.

Selain komputer dan jaringan internet, hampir tidak ada fasilitas fisik lain sebagaimana umumnya sekolahan. Kebutuhan ruang kelas tercukupi dengan pemanfaatan ruang tamu rumah Pak Din, rumah warga, serambi masjid, atau di gubuk pinggir sawah. Kebutuhan kantin tercukupi oleh warung sederhana Mbah Lam. Kebutuhan gelora olahraga tercukupi oleh halaman warga dan lapangan desa. Kebutuhan tempat ibadah tercukupi oleh masjid kampung, berbaur dengan warga. Kebutuhan perpustakaan tercukupi oleh jaringan internet 24 jam. Prinsip belajar di desa betul-betul diterapkan, hal ini dituliskan secara detil dalam tesis Mas Alfian Hasan, sarjana arsitektur, yang kemudian dibukukan dengan judul; Desaku Sekolahku.

Baru beberapa tahun belakangan, KBQT mendapat sumbangan dari lembaga donor luar negeri untuk membangun gedung. Awalnya, pihak KBQT enggan menerima sebab lembaga tersebut terlalu mengatur dengan berbagai syarat. Padahal pengelola KBQT hanya mau menerima jika penggunaan dananya diatur sepenuhnya oleh warga belajar KBQT. Akhirnya lembaga donor menyetujui, dana sepenuhnya dikelola KBQT dan jadilah gedung tiga lantai yang dinamai Resource Center (RC) alias ‘lumbung sumber daya’. Lantai pertama difungsikan sebagai aula dan perpustakaan, lantai dua kamar-kamar inap dan ruang musik, lantai tiga belum difungsikan optimal.

KBQT kerap mendapat bantuan dana dari beberapa pihak, semisal lembaga donor, wali siswa, tokoh, atau atas nama pribadi, yang kemudian dimanfaatkan untuk membeli sarana penunjang belajar. Selain beberapa unit komputer di RK, tersedia juga beberapa rak buku dan set alat musik lengkap di RC. Namun dari semua fasilitas tersebut, hal yang menjadi kemewahan fasilitas di KBQT bukanlah sarana fisiknya, melainkan konsep belajarnya. Yakni kemerdekaan belajar dan apresiasi penuh. Dua hal yang belum tentu dipraktekkan oleh lembaga pendidikan lain meskipun memiliki fasilitas fisik mewah.

Semua program belajar di KBQT adalah fasilitas mewah yang sangat mahal. Mereka belajar merdeka berekspresi di Gelar Karya, belajar bermusyawarah di Rembug Semester, belajar menuangkan gagasan di Hari Ide, belajar berkarya di Proyek Tugas Akhir, belajar berkomunitas dengan Studi Kunjung, dan banyak lagi. Pelajaran yang mereka dapatkan di KBQT pun terhitung mewah. Sebab dengan berbagai ‘fasilitas mewah’ ini, mereka belajar mengenali potensi dan kekurangan diri, belajar bermusyawarah sejak dini, serta belajar bertanggung jawab atas keputusan pribadi maupun kesepakatan bersama. Adakah yang lebih mewah dari semua itu?

Kalibening, 6 April 2019

No comments:

Powered by Blogger.