Puber Kuper Beragama

17:09
Oleh: @ziatuwel

Ini bukan gambar orang karnaval kostum multikultural. Ini gambar ulama, pendeta dan tentara Republik Afrika Tengah sedang ngumpul rembug. Saya tidak bilang lagi doa bersama, nanti ada yang sensi. Kondisi negara mereka emang lagi gazwat.

Di sana, banyak pemuda-pemuda Islam labil yang mengelompok dalam satu kelompok paramiliter Seleka, mereka benci banget sama orang Kristen. Bantai! Bantai! Bantai! Adapula kelompok pemuda Kristen yang tak kalah alay; Anti-Balaka, mereka haus darah orang Islam. Bacok! Bacok! Bacok!

Kalau ditelusur, sebenarnya gerakan anarkis berbau agama itu muncul akibat pergesekan politik dan campur tangan asing. Seleka awalnya menjadi gerakan politis yang menggulingkan presiden Kristen Afrika Tengah, Francois Bozize. Penggulingan ini terjadi sesaat setelah Perancis menarik dukungannya terhadap Bozize karena telah membuka kesepakatan bagi Cina untuk mengeksplorasi minyak di Afrika Tengah.

Sebagai reaksi, Bozzie pun menginisiasi terbentuknya paramiliter Anti-Balaka sebagai tandingan dengan mengangkat isu rasial bahwa imigran Arab berupaya menghancurkan gereja-gereja dan mencoba mengatur pemerintahan.

Politis busukisme banget 'kan?

Mau tak mau, pemuka agama setempat musti jihad untuk mengampanyekan kedamaian. Mereka paham bahwa konflik antaragama yang terjadi hanya manipulasi politik. Imam Omar Kobine Layama (kiri) dan Uskup Dieudonne Nzapalainga (kanan) blusukan ke kampung-kampung untuk memberi pemahaman yang jernih kepada masyarakat. Mereka juga keliling Eropa dalam rangka mengais dukungan para negarawan.

Kita juga pernah punya pengalaman sama. Kepentingan politik dan penguasaan ekonomi dibumbui sentimen agama bikin kita saling tempur sesama bangsa. Kasus pembantaian kiai oleh oknum ninja, pemberantasan golongan kiri oleh santri, bentrok berdarah Poso, dan sebagainya adalah contoh nyata sejarah kita.

Umat beragama yang kuper dan puber akan mudah dibakar bagai ilalang kering. Kurang pergaulan dan homogen bisa membuat pikiran seseorang sempit. Masa-masa puber beragama, baru ngaji kemarin sore, bisa menggiring seseorang jadi sekarepe dhewe bila tanpa bimbingan yang tepat. Apalagi jika ada faktor dendam kesumat yang dikompori, baik isu global maupun lokal, respon keadaan aktual ataupun sentimen sejarah.

Sebaliknya, umat beragama yang dewasa dan luas pergaulan cenderung toleran. Kalaupun ada gesekan masalah antarpihak, yang dicari adalah solusi perdamaian, bukan strategi mengalahkan.

Kesejahteraan bersama semestinya didahulukan daripada eksistensi golongan. Tapi sepertinya isu Selamat Natal, Valentine, Maulid, Bid'ah, Khurafat, jauh lebih menggiurkan nafsu petarung kita daripada kotornya kali, kumuhnya pemukiman, kelaparan desa-desa pelosok, atau sekedar rusaknya jalan kampung.

Apa kita mau nunggu kepala tanpa badan bergelindingan dulu baru kepikiran tentang perdamaian? Kecuali kalau kau adalah dhemit haus darah atau memang terlahir alay.

LALALA YEYEYE LALALALA YEYEYE

Yogyakarta, 4 April 2014

No comments:

Powered by Blogger.