Mengendalikan Krenteg Hati

@ziatuwel

Pernah dahulu krenteg jelek dalam hati melihat kawan yang ringkih fisiknya, tak kuat begadang dan meriangan. Pernah pula krenteg jelek kepada kakak kelas semester 12 yang masih ikut kuliah, waktu itu aku semester 2. Pernah juga krenteg jelek terhadap santri senior yang belum juga khatam hapalannya padahal sudah bertahun-tahun mondok.

Memang hanya krenteg jelek dalam hati, tidak kugunjingkan dengan orang lain. Namun efeknya ngeri. Pertama, tumbuh benih takabbur dalam hati yang sangat susah untuk dipangkas. Sebab rasa sombong musti dicerabut dari akar-akarnya, yakni kebanggaan dan perasaan 'lebih' yang sangat halus. Butuh bertahun-tahun ditampar keadaan untuk proses pencerabutan ini. Kedua, 'dikerjai' takdir untuk mengalami semua hal yang dikrentegi jelek itu.

Belakangan, semua pengalaman itu kusyukuri, sebab kuanggap sebagai didikan Tuhan yang sangat nyata. Serta kuyakini sebagai bagian ta'dib dari guru kami yang terwujud dalam lingkungan magnetis beliau.

Pengendalian krenteg hati ini bukan ilmu yang sekedar dipelajari, tapi musti dialami dan diresapi. Meskipun ia banyak dibicarakan dalam literatur-literatur kitab, tetap saja krenteg-krenteg sebangsa sabar, syukur, nrima, optimis, eling, waspada, pasrah, hanya bisa diperoleh melalui eksperimen riil di laboratorium kehidupan.

Pemapanan krenteg ini menjadi pondasi penting dalam menghadapi episode-episode kehidupan selanjutnya. Entah dalam urusan pekerjaan, rumah tangga, hingga kiprah kemasyarakatan.

Dari sini aku mulai paham mengapa kebanyakan kiai-kiai kharismatis yang diajeni masyarakat itu punya riwayat pernah jadi khadim bagi gurunya dahulu. Sebab selama khidmah, krenteg hatinya ditempa terus menerus sehingga ketika tiba saatnya terjun di masyarakat, ia sudah bermental khidmah. Kalau dahulu kepada kiainya, kini kepada umat.

Proses tempaan semacam ini nampaknya hanya ada dalam interaksi antara guru dan murid, ya meskipun tidak selalu dalam nuansa formal. Kalaupun tanpa guru, mungkin butuh waktu belasan tahun melalui berbagai pengalaman hidup. Untuk menuju satu kondisi yang disebut di dalam Quran sebagai 'qalbun saliim', hati yang selamat. Ya selamat dari krenteg-krenteg jelek, baik kepada makhluk apalagi kepada Khaliq.

Satu dari sekian banyak pelajaran yang bisa kupetik adalah doa dan pengharapan. Bahwa ketika krenteg jelek itu hendak bersuara dalam hati, kepada siapapun atau kondisi bagaimanapun, langsung blokir dengan panjatan doa kebaikan.

Sebisa mungkin kita jaga jangan sampai terbusukkan dengan krenteg-krenteg jelek. Apalagi dengan angkuh kau berujar, "Hal semacam itu takkan terjadi padaku." Sebab, hidup punya cara yang sungguh lucu untuk membuktikan bahwa ucapanmu itu keliru.

___
Krapyak, Jumat Wage 17 Rajab 1438 / 14 April 2017

No comments:

Powered by Blogger.