Maling Kelas Coro

Oleh: @ziatuwel

"Ampun! Ampun!" lengking bocah kurus itu sambil melambai tak berdaya. Tubuhnya doyong tak mampu menahan amukan warga. Seorang lelaki bermuka geram melayangkan helm tepat ke ubun-ubunnya, "Duaaak!"

Kerumunan makin meramai. Eksekusi brutal terhadap copet pasar itu menjadi tontotan yang begitu menghibur. Pojok pasar yang biasa jadi ring sabung ayam kini jadi arena jagal. Para penghajar pun mulai bertambah. Seruan kerumunan makin riuh menyuruh bunuh.

Bocah itu lunglai meringkuk di atas tanah, darah segar dari kepalanya mengucuri muka dan bahunya. Tendangan bertubi-tubi menghujam perutnya. Sabetan bambu menggebuk punggungnya. Ia hanya mengerang lirih, tak lagi punya tenaga untuk sekedar minta ampun.

"Sudah! Sudah!" Hentakku coba menahan amuk pria-pria kalap itu, "Dia sudah sekarat! Cukup!"

"Bocah guoblok! Minggir!" hardik salah seorang. Tenagaku tak cukup kuat untuk melerai mereka, justru badanku yang terhempas jatuh begitu gampangnya. Percuma, nampaknya mereka takkan berhenti kecuali bocah ini mati.

"Priiiiit! Priiiiiiit!" Beruntung, hansip pasar disertai perwira dari polsek terdekat datang. Para penghajar langsung bubar. Copet sekarat itu diangkut ke atas pikap. Aku turut naik kendaraan polisi itu untuk jadi saksi.

"Makanya, kalau mau jadi maling, jangan kelas coro. Jadi cukong sekalian!" bentak hansip berkumis tebal itu. Si copet hanya bisa mendengus, napasnya berat, hingga akhirnya ia berbisik lirih di telingaku, "Su.. suwun.. su.. suwun.." dan mengembuskan napas terakhirnya.

Reorganisasi IMAN-STAN di Musolla Mujahidin Jl. H. Sarmili, Ceger.

______
Cerpen modifikasi atas kejadian nyata di Jalan Haji Sarmili, Ceger, Tangerang Selatan pada 2007-2010 lampau. Saya lupa tahun tepatnya. Sejak saat itu saya menyadari bahwa kecenderungan kita memang berbantai-bantai, di samping berbantah-bantah. Gambar: Angry, by Antoine Stevens. Krapyak, Rajab 1438.

No comments:

Powered by Blogger.