Di Lahan Subur Ini, Tanam Benihmu! - KBQTDiary #20

Oleh: @ziatuwel

Belakangan ini sering kudengar kata 'suwung' dari bocah-bocah KBQT. Suwung yang dimaksud adalah campuran rasa bosan dan suntuk sebab ketiadaan aktivitas. Setelah kumpul kelas tak ada kegiatan lain, misal.

Dulu jaman awal kuliah akupun sering merasakan suwung. Sebab waktu terasa luang begitu banyak tanpa kegiatan berarti. Di akhir masa kuliah hingga sekarang aku sudah lupa rasanya suwung. Sebab hampir tak ada 'waktu luang' untuk bengong, apalagi jika sudah mikir butuh maupun beraktivitas sosial.

Lalu mengapa bocah-bocah bisa merasa suwung? Kukira mereka merasakan hal yang sama sepertik yang kurasakan jaman kuliah dulu. Pasalnya, secara teknis belajar di KBQT ini persis ngampus. Jam ngampus ditentukan sendiri, dan tak ada aturan semengikat sekolah formal. Kedewasaan manajemen waktu sangat dibutuhkan di sini.

Kebebasan waktu dan aturan yang dimiliki bocah KBQT ini bisa jadi pisau bermata dua. Bisa jadi fasilitas untuk mengembangkan bakat dengan leluasa. Tapi bisa juga jadi racun yang melalaikan. Kebebasan belajar ala KBQT musti diimbangi dengan tanggung jawab individu setiap anak.

Idealnya, keleluasaan ini bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan bakat diri. Misal; "Seminggu ini aku akan belajar tentang grammar. Sebulan ini aku akan berlatih juggling. Sesemester ini aku akan membuat tong komposter." Dan seterusnya. Bebas sesuai dengan minat dan bakat diri sendiri, tanpa paksaan dan aturan dari pihak lain. Sanksi yang diterapkan jika target itu tak tercapai pun bisa dibuat sendiri. "Jika seminggu ini aku tak mencapai target belajarku, aku akan push up 100 kali."

Nah, kebebasan semacam ini menjadi fasilitas yang bermanfaat untuk memantik produktivitas. Sebaliknya, kebebasan tanpa adanya target belajar (input) ataupun target berkarya (output) akan berbahaya. Menggerogoti masa muda dan menyunat produktivitas. Maka sebagai pendamping, salah satu tugas utamanya adalah memotivasi agar bocah membuat target belajar sesuai dengan minatnya.

Siang tadi Zada curhat. Ia bilang bahwa keminatannya tidak terfasilitasi di lingkungan KBQT. Kutanya apa minatnya, jawabnya; sepak bola. Katanya, di KBQT -terutama saat gelar karya- yang muncul adalah musik, teater, dance, dan 'kesenian' lain.

"Tak ada tempat untuk bola. Makanya aku lebih aktif di luar KBQT dengan ikut tim sepak bola kampung, sedangkan di KBQT ini sekedar menampung inspirasi saja."

"Lhoh siapa bilang?" sahutku.

"Di KBQT ini kamu bisa mengembangkan apapun bakatmu tanpa harus menjiplak teman lain. Kamu suka bola, ya jadikan KBQT ini sebagai tempatmu mengasah skillmu dalam hal perbolaan. Ada fasilitas internet berlimpah yang bisa kamu gunakan untuk menonton tutorial teknik dribbling, shooting, dan lainnya. Di RC atau halaman kamu bisa berlatih juggling. Kamu bikin target seminggu ini menguasai dribble zigzag misalnya, lalu setelah mahir kamu rekam, kemudian videonya tampilkan saat gelar karya. Justru kamu bakal menciptakan tren baru dalam gelar karya di KBQT," ungkapku.

"Oh iya juga ya," tanggap Zada.

"KBQT ini ibarat lahan tanam yang subur. Kalian datang ke sini membawa benih minat dan bakat masing-masing, yang berbeda-beda, untuk ditanam dan ditumbuhkan. Maka nanti yang tumbuh pun berbeda-beda, sesuai jenis benih yang ditanam. Dan semuanya tumbuh dengan bagus. Tak usah menjiplak minat teman lain dan mematikan minatmu sendiri," pungkasku melipur kesuwungan Zada.

Intinya, di KBQT bukan sekedar 'sekolah bebas untuk menghabiskan waktu daripada suntuk di rumah nggak ngapa-ngapain'. Kebebasan di KBQT musti diimbangi dengan tanggung jawab diri, berupa target belajar dan upaya berkarya. Berupa belajar hal-hal baru yang melimpah ruah, atau mengembangkan minat dan bakat yang sudah ada. Bebas dan tetap produktif!

Kukira itu resep memberantas kesuwungan di KBQT. Ciptakan kesibukan berdasar minat dan kesukaanmu, tentu saja dalam konteks belajar. Kalau masih saja suwung, ciptakan kegembiraan dengan teman-teman walau sekedar main gaple, jangan melulu pegang hape.
___
Kalibening, 2 April 2019

No comments:

Powered by Blogger.