Selandia Baru Negara Paling Islami?

22:43
Oleh @ziatuwel*

Muhamad Abduh, ulama asal Mesir pernah geram terhadap dunia Barat yang mengganggap Islam kuno dan terbelakang. Kepada Renan, filsuf Perancis, Abduh dengan lantang menjelaskan bahwa agama Islam itu hebat, cinta ilmu, mendukung kemajuan dan lain sebagainya.

Dengan ringan, Renan yang juga pengamat dunia Timur Tengah mengatakan,

“Saya tahu persis kehebatan semua nilai Islam dalam Al-Qur'an. Tapi tolong tunjukan satu komunitas Muslim di dunia yang bisa menggambarkan kehebatan ajaran Islam.”

Abduh pun terdiam, hingga muncul kalimat populer bernada sindiran ini darinya; al-Islamu mahjubun bil muslimin, nilai-nilai luhur Islam terhalangi atau tertutupi oleh para pemeluk Islam itu sendiri. Ya kukira maksud Abduh adalah kita-kita ini, para remukan rempeyek umat, para buih miskin ilmu miskin amal yang gampang diombang-ambing isu, bukan para awliya dan shalihin.

Satu abad kemudian, beberapa peneliti dari George Washington University ingin membuktikan tantangan Renan. Dipandegani oleh Hossein Askari Ph.D, mereka menyusun lebih dari seratus nilai-nilai luhur Islam, seperti kejujuran (shiddiq), amanah, keadilan, kebersihan, ketepatan waktu, empati, toleransi, dan sederet ajaran Al-Quran serta akhlaq Rasulullah.

Nilai-nilai keislaman itu kemudian disandingkan dengan empat indikator sosial lain. Yakni ekonomi, hukum dan pemerintahan, hak politik dan asasi manusia, serta hubungan internasional. Berbekal deretan indikator yang mereka sebut sebagai Islamicity Index itu, mereka datang ke 152 negara untuk mengukur seberapa islamikah negara-negara tersebut. Hasilnya? Islamicity Index tahun 2017 menyimpulkan bahwa Selandia Baru adalah negara paling Islami. Diikuti Belanda di posisi kedua dan Swedia di posisi berikutnya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Kita harus puas bertengger di urutan ke 73, masih diungguli Malaysia yang bertengger di nomor 43. Tak berbeda jauh dengan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya yang kebanyakan bertengger di angka gemuk. Posisi paling bontot ditempati Afghanistan, Sudan, dan Yaman. Ironis bukan?

Anda bisa lihat daftar tersebut di sini: ISLAMICITY INDEX 2017

Kita bisa saja tak setuju dengan hasil survey itu. Banyak kalangan yang meragukan akurasi survey tersebut. Silakan saja, toh indikator yang digunakan dalam survey tersebut juga bukan variabel tanpa bias. Bahkan lebih baik lagi jika kita melakukan penelitian serupa dengan indikator yang kita buat sendiri.

Dalam berkali-kali kesempatan di Krapyak, Gus Mus (KH Mustofa Bisri) kerap mengajukan saran. Beliau menganjurkan agar pihak-pihak yang peduli terhadap Islam di Indonesia, entah itu MUI, NU, ataupun Muhammadiyyah, kerjasama dengan lembaga survey.

Untuk apa? Sederhana saja; survey tentang al-Qur'an. Dari sekian juta orang Islam di Indonesia, hitung berapa yang punya kitab suci Al-Qur'an. Dari sekian persen orang yang punya al-Qur'an, hitung berapa yang bisa membacanya. Dari sekian yang bisa baca, hitung berapa yang tahu maknanya. Lalu dari data kuantitatif ini, selanjutnya dilakukan pengukuran-pengukuran kualitatif.

Nah, survey 'sederhana' semacam itu, menurut beliau, bisa menimbulkan dampak positif bagi kualitas keberagamaan umat Islam, tak sekedar kuantitas. Tapi ya mana sempat kita membuat penelitian semacam itu. Lagipula kita lebih suka formalisasi keislaman di tengah masyarakat dibandingkan internalisasi nilai-nilai luhurnya.

Berdasarkan hasil survey Islamicity Index di atas, peristiwa teror di Christchurch, Selandia Baru, cukup mengejutkan. Pasalnya, Selandia Baru merupakan negara yang paling ramah terhadap umat Islam, khususnya imigran. Sebagaimana disaksikan dan dinyatakan oleh Farid F Saenong, katib PCINU Australia & Selandia Baru, yang pernah bermukim di Belanda, Inggris, dan Australia. Belakangan kita tahu bahwa pelaku teror itu bukan warga asli Selandia Baru.

Namun setelah tragedi mengerikan yang disebut oleh Perdana Menteri Jacinda Ardern sebagai 'the darkest day' itu, dunia bisa membuktikan keakuratan Islamicity Index. Kita bisa saksikan bagaimana masyarakat menunjukkan solidaritas yang tak dibuat-buat kepada keluarga korban. Mulai dari para tetangga yang langsung menjenguk dan menawarkan bantuan, siswa sekolah yang berkabung berhari-hari, adzan yang dikumandangkan dimana-mana, geng motor yang merelakan diri menjaga masjid-masjid, hingga reaksi cepat tanggap pemerintah terhadap peraturan kepemilikan senjata api.

Sampai-sampai, dalam sambutannya yang emosional, Jacinda Ardern sambil mengenakan kerudung mengutip hadits Nabi; "Orang-orang beriman bagaikan satu tubuh. Ketika satu bagian terluka maka bagian yang lain turut merasakan sakitnya."

Dan reaksi warga Selandia Baru jelas menunjukkan bahwa mereka juga turut merasakan duka yang dialami kaum muslimin di sana. Mungkin Anda menyebut mereka bukan 'orang beriman', tapi perilakunya justru menunjukkan ciri orang beriman. Jika disebut-sebut bahwa (nilai-nilai) Islam akan bangkit dari 'timur', mungkin saja yang dimaksud adalah dari Selandia Baru.

Mungkin lho ya!

*Penulis adalah pegiat media keislaman Komunitas Santrijagad, Tegal.

No comments:

Powered by Blogger.