Mengikat dan Mempresentasikan Ide - KBQTDiary #18

Oleh: @ziatuwel

Seminggu sekali, tiap Kamis, ada momen di mana warga belajar di KBQT berbagi ide. Hari itu disebut sebagai Hari Ide. Tujuan utamanya adalah untuk memantik daya pikir dan daya kritis anak-anak, serta berlatih menuangkan ide baik dalam rupa tulisan maupun penyampaian lisan.

Di momen ini, anak-anak diberi setengah jam kesempatan menuliskan idenya, kemudian tuangan ide tersebut disetorkan kepada penanggung jawab Hari Ide untuk dicek. Lalu lembaran itu di-scan ke bank data komunitas. Satu jam berikutnya mereka melingkar dan saling mempresentasikan idenya masing-masing.

Selain presentasi, anak-anak juga saling menanggapi. Mulai dari bertanya tentang detil ide tersebut, mengkritisi, atau bahkan menambahi dan mewacanakan realisasinya. Jika ada ide yang memang relatif realistis dan terjangkau untuk dieksekusi, mereka pun akan membahas teknis eksekusinya.

Kamis kemarin (28/3/2019), kusaksikan ide-ide menarik muncul dari pikiran teman-teman. Alfay mengajukan ide perlunya layar digital di titik-titik strategis kota yang khusus menampilkan program pemkot, juga khusus menampilkan baliho digital caleg secara bergantian selama 24 jam. Hal ini perlu untuk mengurangi polusi visual berupa baliho fisik di jalanan. Abel, dari kelas paling bontot, menyampaikan perlunya kegiatan bersih-bersih selokan dari sampah di sekitar KBQT untuk mencegah banjir di musim hujan begini. Raka, dari kelas yang sama, mengusulkan bersih-bersih rumput liar yang sudah sangat mengganggu pemandangan di halaman gedung Resource Centre.

Izza mengajukan ide perlunya bukti video bagi teman-teman KBQT yang ijin tidak hadir. Hasni, dari kelas tertua, mengajukan usul agenda masak satu menu dengan bahan-bahan dari tempat belanja yang berbeda, semisal pasar dan supermarket, untuk membandingkan harga produksi dan rasanya. Yudha, sekelas dengan Hasni, mengusulkan –atau lebih tepatnya menganjurkan- agar semua kelas bisa produktif dalam setiap kegiatan masing-masing, bisa berupa tulisan atau video. Sehingga produk kegiatan kelas itu bisa jadi bahan belajar bagi teman-teman lainnya, bahkan bisa diunggah di website dan medsos KBQT.

Sebelumnya, Bayu menyampaikan perlunya ketegasan pemilik pom mini agar menegur pelanggan yang merokok. Bowo usul agar teman-teman yang bertetangga dengan para pemilik hewan endemik langka mau melapor ke pihak berwenang. Chevo ingin menyampaikan ide kepada pemkot Salatiga agar mengaktifkan kembali stasiun kereta api demi kemudahan warga luar kota. Semua ide ditanggapi oleh teman-teman dengan sangat gayeng.

Meskipun tidak semua ide ditindaklanjuti, momen Hari Ide ini sangat bermanfaat dalam banyak aspek. Pertama, mengasah nalar kritis anak. Mereka melihat realita di sekitarnya, menyadari masalah yang terjadi, kemudian menelaah solusi praktisnya. Kalau sekedar dibayangkan memang gampang, tapi menelurkan dan menuangkan ide bukan hal sepele dan mudah bagi orang yang tidak terbiasa berpikir. Di sini, anak-anak terbiasa menalar realita dengan kritis.

Kedua, mereka belajar menuangkan ide di alam pikiran ke dalam tulisan. Bukan hal yang mudah menuliskan abstraksi ke dalam bahasa tulis yang utuh. Butuh latihan dan pembiasaan. Dalam proses ini, mereka juga mengasah ketepatan tata bahasa dan efektivitas kalimat. Ketiga, mereka belajar mengemukakan pendapat, mempertahankan ide, menyampaikan kritik, serta menerima saran.

Tiga aspek ini jelas menjadi unsur yang sangat bagus dalam budaya belajar anak. Mereka belajar berpikir kritis, menuangkan abstraksi, hingga mempresentasikan gagasan. Mereka berperan sebagai manusia yang mandiri dalam pikiran, konsep utama dalam pendidikan pedagogik. Pembelajaran pedagogis semacam ini bisa efektif dan membekas dengan pembiasaan. Nah, di lingkungan belajar KBQT, metode belajar emas semacam ini tak hanya satu-dua kali dilaksanakan, melainkan berlangsung tiap pekan sepanjang tahun.

Momen Hari Ide ini mengingatkanku pada satu pepatah; "Orang dungu membicarakan orang lain, orang biasa membicarakan kejadian, orang hebat membicarakan gagasan."

___
Kalibening, 29 Maret 2019

No comments:

Powered by Blogger.