Manajemen Sampah Rumah Tangga; Liang Kompos, Kandang Ayam, Tong Komposter, Ecobrick

06:53
Oleh: @ziatuwel

Sampah dapur memang bikin puyeng, apalagi jika sudah menggunung. Ilmu dan praktek manajemen sampah rumah tangga agaknya wajib jadi menu belajar manusia modern. Sebab hal itu sangat riil dihadapi setiap keluarga.

Bagi rumah tangga yang memasrahkan sampahnya ke pihak lain, misalnya KLH, mungkin tak perlu pusing mengurusi sampahnya sendiri. Tapi bagi orang yang memilih jadi warga desa semacamku jelas musti kreatif. Dan ternyata kreativitas memenej sampah bisa memberikan manfaat daur ulang.

Sampah organik bisa didaur ulang menjadi kompos, kembali ke bumi. Sampah plastik bisa dibuat ecobrick. Setidaknya ada 3 langkah dalam manajemen sampah rumah tangga mandiri. Yakni pilah, olah, dan pakai.

LANGKAH 1; PILAH

Memilah sampah menjadi kewajiban, yakni mana sampah organik, mana sampah anorganik. Itupun masih ada pemilahan lagi sesuai dengan peruntukannya, sampah organik bisa dipilah lagi menjadi organik hijau dan organik coklat. Sampah anorganik bisa dipilah sesuai bahannya, semisal plastik, kertas, popok, dan lainnya.

LANGKAH 2; OLAH

Ada banyak metode pengolahan sampah dapur, sesuai dengan skala olahan maupun ketersediaan sarana. Dalam tulisan ini, metode pengolahannya adalah cara sederhana skala rumah tangga. Kita bisa menggunakan metode liang kompos, kandang ayam, hingga ecobrick.

A. Liang Kompos (2-3 bulan)

Adalah metode pembuatan kompos dari sampah dapur dengan membuat lubang di tanah. Tentu saja metode ini berlaku jika kita punya cukup lahan untuk membuat liang-liang kompos. Ini dia langkahnya;

1. Buat lubang di tanah ukuran kurang lebih 80x60x70 cm.

2. Masukkan sampah dapur organik; kulit buah, sayur, sisa makanan, dedaunan kering, sampah pemangkasan pohon, juga dus dan kertas yang tidak ketempelan plastik atau lakban.

3. Tunggu 2-3 bulan sambil sesekali siram dengan air bekas cucuian beras (leri) yang sudah diinapkan 1-2 hari. Lebih sering disiram leri, lebih oke.

4. Panen. Temanku, Mas Haji Huda Tegal, punya 8 liang kompos (4 di halaman depan rumah, 4 di kebun belakang). Ia bisa panen 20 ember kompos dari 1 lubang. Ada yang ia gunakan untuk menyuburkan tanaman sendiri, ada pula yang dibagikan atau dijual.

B. Kandang Ayam (3-4 bulan)

Adalah metode pengubahan sampah dapur menjadi kompos dengan bantuan ayam peliharaan. Metode ini juga membuat kita tak perlu memberi pakan khusus untuk ayam, sebab sudah makan sampah organik dari dapur asalkan jumlahnya memang cukup. Si ayam juga akan aktif mengoreh tumpukan sampah di dalam kandang.

Jika ada jenis sampah dapur yang kurang disuka sehingga tida dimakan ayam (kurang palatable), maka proses pembusukan sampah tetap akan terjadi dan memunculkan hewan renik kecil yang menjadi pakan lezat bagi si ayam. Dengan metode ini, kita bisa panen daging, telur, bahkan kompos! Ini langkahnya;

1. Siapkan ruang khusus di kandang ayam untuk menempatkan sampah, berupa sekat-sekat. Kalau bisa, buat sampai 6 sekat.

2. Masukkan/letakkan sampah organik (apapun, selama mudah membusuk) ke dalam sekat pertama. Tiap 2 minggu, pindahkan sampah organik tersebut ke sekat berikutnya.

3. Setelah sampai di sekat ke-6 atau 10 minggu (3-4 bulan), ayak sampah organik tersebut untuk memanen kompos yang sudah jadi.

C. Tong Komposter

Adalah metode pembuatan kompos dengan alat dan bahan tambahan. Metode ini perlu modal sebab harus membuat tong dan menyediakan bioaktivator. Sudah banyak pegiat pertanian yang menjual tong-tong komposter maupun bioaktivatornya.

Dengan metode ini, kita bisa mendapatkan produk kompos berupa pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Terutama jika kita memang tak punya lahan luas. Ini dia langkahnya;

1. Siapkan tong komposter. Benda ini biasanya berupa tong plastik dengan modifikasi desain, berupa sekat, paralon berpori, serta penambahan selang sehingga bisa mengalirkan pupuk cair.

2. Masukkan sampah dapur ke dalam tong. Hindari sampah dapur berupa tulang, daging, telur, atau susu, sebab bisa mengundang belatung dan berbau.

3. Semprotkan bioaktivator, biasanya menggunakan cairan EM4. Takarannya disesuaikan dengan jumlah sampah yang dimasukkan, biasanya berupa prosentase antara air dan cairan bioaktivator. Oiya, perhatikan juga jenis tong dan jenis bioaktivator. Cairan EM4 cocok dipakai untuk tong komposter anaerob (rapat), sedangkan tong komposter aerob (ada lubang aerasi) bisa gunakan cairan IMO3. Hal ini perlu diperhatikan sebab jika tidak cocok, bisa menimbulkan belatung.

4. Tutup rapat tong komposter. Sampah di dalam tong masih bisa ditambahi sampai penuh. Bisa juga menambahi serbuk kayu bekas gergaji di atas sampah yang sudah disiram bioaktivator, untuk meminimalisasi bau dan belatung.

5. Setelah 1 minggu, pupuk organik cair akan mulai keluar. Lalu setiap 2 hari pupuk organik cair bisa dipanen. Jika sudah penuh, tutup rapat selama 2-3 minggu, lalu buka untuk memanen pupuk organik padat.

D. Ecobrick

Adalah metode daur ulang sampah anorganik, khususnya botol dan bungkus plastik. Sampah plastik menjadi momok bagi bumi dan segenap penghuninya. Memang belum ada solusi efektif untuk mengurangi sampah plastik, semisal membatasi produksinya atau penguraian ramah lingkungan.

Pembuatan ecobrick atau proses daur ulang kreatif semisalnya mungkin belum bisa disebut sebagai penanganan plastik ideal. Namun setidaknya bisa meminimalisasi peredaran sampah plastik di lingkungan sekitar. Ini caranya;

1. Keringkan semua sampah plastik dan botol-botol plastiknya. Pastikan plastik-plastik bersih dari kotoran serta betul-betul kering.

2. Gulung atau lipat sampah plastik sekecil mungkin, lalu masukkan ke dalam botol plastik sampai penuh.

3. Mampatkan isi di dalam botol plastik sampai benar-benar padat, bisa menggunakan kayu atau lainnya. Lalu tutup permukaan botol, kalau tutupnya sudah hilang bisa ditutup dengan plastik yang diikat tali rafia.

LANGKAH 3; PAKAI

Setelah memilah dan mengolah sampah rumah tangga sesuai dengan jenis dan skalanya, selanjutnya adalah pemakaian. Untuk hasil kompos padat maupun cair tentu bisa langsung diaplikasikan ke tanaman di kebun atau lahan lainnya. Untuk ecobrick bisa dibuat beragam jenis perabot dan kerajinan, bahkan bisa difungsikan sebagai pengganti batu bata. Untuk sampah popok atau pembalut belakangan banyak yang menggunakannya sebagai media tanam, dengan memanfaatkan bahan penyerap air yang ada di dalamnya.

Tentu saja, semua produk itu juga bernilai ekonomis, yakni bisa dijual dan menghasilkan uang sebagai pemasukan tambahan. Selamat mencoba dan berkreasi dengan sampah rumah tanggamu! Saya juga masih melatih kesadaran manajemen sampah.
___
Salatiga, 9 Maret 2019

No comments:

Powered by Blogger.