Kelahiran Putri Pertamaku


Oleh: @ziatuwel

Rabu malam Kamis (27/2) bakda isya, istriku -Fina- mulai merasakan sensasi pra-bersalin. Yaitu rasa mules yang bukan sebab ingin berak, juga nuansa fisik mirip orang mens. Kami pun mulai siaga sebab ini pertanda si jabang bayi sebentar lagi lahir.


Malamnya, sensasi semakin menjadi. Istriku merasa perutnya kencang, bocah yang kepalanya sudah masuk panggul terasa makin merangsek ke bawah. Sensasi semacam itu mendera sekira beberapa detik, lalu kembali normal. Selang beberapa jam, mulai lagi, lalu reda lagi. Praktis, ia tak bisa tidur nyenyak malam itu. Aku yang berbaring di sebelahnya pun turut merem-melek semalaman.

Jam 2 pagi aku terbangun, istriku juga terjaga. Kulihat ia sudah lumayan segar dan menyadari bahwa ia dalam fase kontraksi pre-natal. Ibu mertua menyarankan kami untuk siap-siap berangkat ke klinik. Aku menyiapkan semua keperluan bayi. Namun setelah rembugan, kami batalkan keberangkatan. Kami tepis rasa panik, memahami bahwa kontraksi adalah gejala awal yang wajar dan tak perlu dipaniki.

Secara intensif istriku berinteraksi dengan para bidan pendampingnya di grup watsap. Sejak awal hamil, istriku memilih untuk bersalin di klinik swasta Ibu Alam yang dikelola Bidan Prita dkk. Sebuah tempat pendidikan dan persalinan ibu hamil dengan konsep gentle birth; persalinan alamiah instingtif tanpa panik.

Sejak bulan ketiga/empat kami rutin kontrol ke klinik ibu alam di daerah Mangunsari, tiga kilometer dari rumah kami di Kalibening. Tentu saja kami tetap kontrol rutin di puskesmas kecamatan. Istri juga mengikuti kelas senam hamil relaksasi di klinik ini, tapi cuma satu kali. Selebihnya ia coba praktek senam sendiri di rumah.

Sejak bulan ke tujuh/delapan, mulailah dibuatkan birthplan. Ada grup watsap khusus untuk istriku dan para bidan pendamping Ibu Alam. Di grup itu bumil bisa curhat apapun kondisi yang sedang dialami, kemudian para bidan akan memberikan saran terbaiknya. Termasuk pada saat awal terasa kontraksi.

Istriku disarankan untuk tetap tenang. Hitung berapa frekuensi kontraksi yang terasa. Jika masih jarang-jarang, cukup alihkan perhatian dengan jalan-jalan atau jongkok. Kalau frekuensi kontraksi sudah tiga kali per sepuluh menit dengan durasi kontraksi hingga 40 detik lebih, serta sudah tak tertahankan, baru dipersilakan berangkat ke klinik.

Kamis siang (28/2) bakda dzuhur kontraksi makin menjadi. Aku sungguh tak tega melihat ekspresi kesakitan istriku. Tiap tiga menit ia kontraksi, dengan durasi hampir satu menit. Setelah itu normal lagi dan bisa ketawa-ketawa. Melihat kondisinya memprihatinkan begitu, maka jam 13.30 aku pun minta tolong sepupuku, Mas Hilmi, untuk mengantar kami ke klinik.

Sepuluh menit perjalanan di mobil, tiga kali istriku kontraksi. Bahkan saat turun dari mobil menuju pintu klinik, ia kontraksi lagi. Para bidan jaga langsung menyambut kedatangan kami dan mengantar istriku ke salah satu kamar istirahat, Maryam Room. Pelayanan di klinik Ibu Alam memang bertarif, namun sebab istriku hapal surat Maryam, kami pun mendapat tarif istimewa; infaq sukarela.

Suasana di klinik ini sangat nyaman. Memang bangunannya tidak luas, namun penataannya sungguh apik. Ada dua ruang istirahat/nifas yang dipasangi lampu aromaterapi, ada satu ruang bersalin yang dihiasi lantunan murottal bernada santai, ada saftu ruang senam, tiga ruang konsultasi, dan ruang tunggu pasien yang mungil namun cozy.









Setelah rebah di kasur, para bidan dengan segala keramahannya memeriksa istriku. Dari pemeriksaan itu, baru kami tahu bahwa ia sudah masuk bukaan 2 dari 10 bukaan. Ia pun dibimbing relaksasi dengan bola karet, jalan-jalan, dan pengalihan lain. Sesorean itu istriku terus mengalami kontraksi tanpa ada peningkatan bukaan.

Orang tua di Tegal kukabari kondisi terbaru kami. Ibuku yang jam segitu memang sedang menemani ngaji anak-anak TPQ mengirimkan pesan suara. Isinya suara beliau bersama anak-anak kecil membaca surat Maryam bersama-sama, demi kelancaran persalinan istri. Sejak ashar, kumulai membaca Al-Baqarah, dengan harapan sebagaimana sabda Nabi,

اقرؤوا البقرة فإن أخذها بركة وتركها حسرة ولا تستطيعها البطلة السحرة. رواه مسلم

Ketika istriku kontraksi, kuhentikan bacaan. Kulakukan metode meringankan nyeri yang diajarkan bidan, yakni dengan menekan bagian tulang ekor istri dengan telapak tangan. Setelah kontraksi usai, kulanjutkan bacaan hingga usai di akhir surat pas bakda maghrib. Lalu kulanjut dengan tahlil dan hadiah Fatihah untuk para wali dan leluhur, utamanya kakek kami; Mbah Soleh, Mbah Mufti, Mbah Abdul Halim, Mbah Miskiyah, dan Mbah Rofi'i.

Bakda isya gantian sepupuku, Mbak Fani, yang menemani istri. Tak lama, ibu dan bapak mertua datang menjenguk kondisi terbaru. Beliau berdua menyemangati kami untuk tetap sabar dan kuat, sambil terus komat-kamit melafalkan wirid rutin mereka, Dalailul Khairat. Aku dan Mbak Fani bergantian menemani istri sampai pukul 22.00 ia pamit pulang.

Kini giliran para bidan jaga yang menemani istriku dengan begitu perhatian. Mereka tak seperti pegawai klinik, melainkan lebih seperti teman bagi istriku. Ada empat bidan, ada yang memijat kaki, ada yang membenahi posisi bantal, ada yang memijat punggung, ada yang mengajak ngobrol dan afirmasi positif. Nyaman betul bagi orang yang sedang kontraksi.

Melihat kondisi yang terkendali, aku pun rebah sofa depan kamar. Dari pagi belum rehat membuat tubuhku panas. Aku pun tertidur jam 23.00, lalu terbangun jam 01.00, dua jam yang cukup mendinginkan badan. Aku langsung masuk kamar dan menggantikan tugas para bidan jaga yang nampak sudah kelelahan.

Istriku dalam kondisi begitu lemah. Ia kontraksi sejak siang tanpa rehat. Tidur pun sekedar ngiyep 1-2 menit sebelum akhirnya kontraksi lagi. Dini hari itu ia sudah sampai bukaan 6, dan tentu saja sensasi kontraksinya lebih dahsyat dibanding sebelumnya. Di musola klinik, aku salat hajat sejenak, memohon kemudahan dari Allah atas persalinan istriku. Dengan panjatan doa yang diajarkan Mbah Ali Maksum,

اللّهُمَّ سَهِّلْ وِلاَدَةَ زَوْجَتِيْ وَسَلِّمْهَا وَطَوِّلْ عُمْرَهَا وَصَحِّحْ جَسَدَهَا وَنَوِّرْ قَلْبَهَا وَ وَسِّعْ اَرْزَاقَهَا وَ اجْعَلْ وَلَدَهَا سَالِمًا وَ وَسِّعْ أَرْزَاقَهَا وَاجْعَلْ وَلَدَهَا سَالِمًا كَامِلاً عَاقِلاً عَالِمًا صَالِحًا مُوَحِّدًا بِكَ وَمُؤْمِنًا بِنَبِيِّكَ سَيِّدِنَا  مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِجَاهِ سَيِّدِنَا عِمْرَانَ بْنِ حُسَيْنٍ رَضِيَ الله عَنْهُ

Kembali kutemani istri yang sudah sangat sayu dan tak bisa senyum lagi. Sambil menggenggam tangannya, kubaca amalan Fatihah empat puluh kali dan bait-bait terakhir sajak Burdah yang berisi tawassul dengan berkat Kanjeng Nabi. Sampai berkumandang adzan Subuh, belum ada kemajuan bukaan. Namun istriku nampak sudah lebih berenergi.

Selepas Subuh, kulanjutkan wirid rutin shalawat rahmat seribu kali dan Hizb Jailani. Lalu atas saran Bu Prita, istri kuajak jalan-jalan cepat ke luar klinik untuk merangsang kontraksi agar bisa bertambah bukaan. Kami pun menurut.

Jumat pagi bakda subuh (1/3), kutemani istri jalan-jalan di halaman dan sepanjang jalan Mangunsari depan klinik. Pagi itu masih sepi maka aku tak kuatir lalu lalang kendaraan. Sampai 50 meter, kami kembali ke klinik. Jika kontraksi kumat, istri duduk jongkok di pinggir jalan sambil kupegang kedua tangannya agar tak terjerembab ke belakang.

Kembali ke klinik, pukul 05.30, istriku minta mandi. Bidanpun menyiapkan air hangat. Sambil menunggu istri mandi, aku rebah sejenak di kasur lantai ruang nifas untuk meredakan gejala masuk angin. Entah bagaimana, akupun tertidur.

Jam 07.05, aku terbangun sebab mendengar erangan kesakitan, "Yaa Allaah! Allaaah! Hasbunallaaah! Astaghfirullaaah!" Erangan yang kudengar ratusan kali semalaman ini, apa lagi kalau bukan erangan istriku yang sedang menahan nyerinya kontraksi. Namun ia tak kutemukan di kasur, sumber suara berasal dari ruang bersalin. Wah, aku girang betul!

Kumasuki ruang bersalin dan kulihat istriku berbaring di ranjang pasien dikelilingi empat bidan semalam yang sudah nampak segar. Berdasarkan informasi, sejak jalan cepat tadi, kemudian mandi, kontraksi istriku semakin menjadi. Durasinya makin panjang dan frekuensinya makin sering. Artinya, ia sudah siap menghadapi proses selanjutnya; melahirkan. Dalam tahapan ini, istriku sudah begitu lunglai dan tak bisa diajak komunikasi. Tatapannya kosong, erangannya jauh lebih lepas dan nyaring.

Jam 07.30 perutku kemruyuk pertanda lapar. Istriku yang sudah paham aku tak kuat lapar, menyuruhku sarapan dulu. Tentu saja kuiyakan, aku tak mau menemani istriku berjuang dalam keadaan keringetan dan menggigil menahan lapar. Akupun keluar dan makan nasi kotak semalam di bawah sorot matahari pagi halaman klinik, untuk menghangatkan diri.

Setelah sarapan, kusempatkan peregangan badan dan senam ringan untuk melancarkan aliran darah. Aku tak mau ngedrop dalam kondisi begini. Setelah agak segar, aku salat dluha sejenak, memohon ampunan kepada Allah atas segala dosa dan kesalahan, baik bagiku maupun istriku. Keluar dari musola klinik, seorang bidan menemuiku, ia mencari set baju bayi.

"Sudah lahir, Mbak?!" tanyaku.
"Belum, Pak."
"Bukaan berapa?"
"Sudah komplit. Tinggal proses mengejan agar bayinya keluar. Tadi sudah kelihatan rambutnya. Ini saya siapkan baju-bajunya dulu."

Girang betul hatiku. Langsung kususul bidan itu ke ruang bersalin dan melihat istriku yang sudah terkulai menghadapi tahap yang tak kalah melelahkan; mengejan. Kulihat selang infus tertancap di pergelangan tangannya. Pemasangan infus terpakksa dilakukan sebab tenaga istriku yang terlalu lemah sebab kelelahan. Ia juga selalu mual dan muntah tiap kali makan.

Pukul 08.15, kugenggam tangannya,  kuelus rambutnya, sambil kuajak ngobrol ringan. Matanya sayu, keningnya berlinang keringat. Proses mengejan bukan hal yang gampang untuk pengalaman pertama melahirkan. Para bidan begitu sabar membimbing istriku melakukan pernapasan yang benar, napas perut, merangsang puting, hingga mengejankan bayi. Sekali mengejan, ubun-ubun bayi terlihat. Selesai mengejan, menutup lagi. Begitu berulang-ulang.

Sambil menyaksikan peristiwa sakral ini, kurapalkan doa yang diajarkan guruku Mbah Kiai Najib Krapyak, yang juga terpampang di kaligrafi ruang bersalin ini,

حنا ولدت مريم, ومريم ولدت عيسى اخرج ايهاالمولود بقدرة الملك المعبود

Tepat pukul 09.00, kepala si jabang bayi sempurna keluar. Mulutnya yang baru bertemu udara segar langsung bersuara, tercampur suara ketuban. Istriku yang tadinya sudah berwajah menyerah langsung berbinar muka. Ia tersenyum bersemangat dan melanjutkan perjuangannya. Lima menit kemudian, bayi perempuan yang terlilit tali pusar itu terlahir sempurna ke alam dunia. Ia merengek sejenak, lalu bersin, dan diam. Melihat peristiwa ajaib ini spontan aku bergumam haru dan mengecup kening istriku, "Allahu Akbar!"

Sesuai prosedur klinik Ibu Alam, sekejap usai proses melahirkan, ibu dan bayi diikat dalam tahap IMD (Inisiatif Menyusui Dini). Bayi yang masih belepot air ketuban, darah, dan lemak itu ditengkurapkan memeluk ibunya. Kulit bertemu kulit. Di pelukan sang ibu, tak ada tangisan pun rengekan. Hatiku mengharu biru.

Sambil memeluk dan mencandai putrinya, gerbang kelahiran sang ibu dijahit dan dibersihkan. Sungguh bukan proses yang nyaman. Memang betul bahwa para wanita adalah ksatria tangguh. Tak berlebihan jika disebut sebagai makhluk terkuat di muka bumi. Mereka merasakan pedih berdarah-darah sejak remaja, saat menikah dan hubungan pertana, hingga saat melahirkan bahkan setelahnya.

Pelayanan klinik Ibu Alam sangat profesional. Ruangannya bersih dan nyaman. Bidan-bidannya mendampingi pasien dengan begitu perhatian. Tak ada tekanan atau instruksi-instruksi memburu. Semua proses persalinan dilalui secara instingtif dana alami sebagaimana namanya; gentle birth. Seusai IMD dan pembersihan sisa persalinan, bayi perempuan seberat 3 kilogram dan panjang 50 sentimeter itu disandangi baju, lalu baru bisa digendong oleh ayahnya ini.


Ya, detik itu aku resmi jadi ayah. Langsung kualunkan adzan di telinga kanannya, iqamat di telinga kirinya. Kutambahi membaca surah al-Qadr tiga kali, yang faedahnya agar ia terjaga dari segala perilaku keji seumur hidupnya. Lalu kututup dengan membaca ayat 63 surat Al-Furqan,

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Ayat inilah yang kuambil berkahnya untuk menamai anakku. Dua kata di ayat tersebut kuambil sebagai nama anakku; 'haunan' (dengan andhap asor) dan 'salama' (kedamaian). Haunan Salama.

Sejak awal hamil, istriku ngebet menamai anaknya jika terlahir perempuan; Tsuraya (gugusan bintang gemerlap). Aku setuju, tapi bila yang lahir lelaki akan kunamai Armiya (nama nabi Bani Israil dan juga nama seorang wali agung di Tegal). Ternyata yang terlahir bayi perempuan nan cantik, melebihi kecantikan ibunya. Maka ia dinamai sesuai kehendak ibunya, ditambah dua kata dari surat Al-Furqan, menjadi;

Tsuraya Haunan Salama.

Selamat datang, Raya. Bintang berpijar yang rendah hati dan menebar kedamaian. Selamat datang di alam dunia.
___
Kalibening, Jumat Kliwon 1 Maret 2019
www.ibualam.com

No comments:

Powered by Blogger.