Interaksi dengan Quran Setiap Hari

Oleh: @ziatuwel

Malam ini pertemuan terakhir pelajaran Musthalah Tajwid untuk kelas 1 Tsanawiyah Madrasah Hidayatul Mubtadiin Kalibening. Akhir bulan ini mereka sudah masuk pekan ujian semester, kemudian bulan depan menyambut muwada'ah.

Kitab kecil Musthalah Tajwid yang kami pelajari bersama selama dua semester ini sungguh 'jimat' bagi pelajar pemula ilmu membaca Quran. Kitab ringkas dan praktis ini adalah karya Kiai Abdullah Umar Kauman Semarang, sosok ulama ahlul-Quran yang sangat perhatian terhadap dakwah Quraniyyah khususnya di Semarang. Semoga suatu saat bisa ziarah ke makam beliau.

Kiai Abdullah Umar menyusun kitab ini dalam bentuk nazham. Di awal kitab ada pengantar dari dua guru beliau, yakni Kiai Arwani Kudus dan Kiai Umar Mangkuyudan. Penulisan dimulai pada 10 Januari 1971 dan selesai pada 7 Dzulhijjah 1390 / 11 Februari 1971, pas satu bulan.

Ada 18 tema bahasan dalam kitab tipis ini yang kubuat mindmapnya tiap akhir semester. Semua tema ini -dalam hematku- wajib dipahami oleh setiap muslim yang mendakwa cinta Quran. Mushthalah Tajwid ini jadi ilmu lanjutan setelah mempelajari Iqra, Tajwid, dan Gharib. Isi kitab ini ialah;

1. Pengertian Musthalah Tajwid dan faidah mempelajarinya.
2. Nama-nama lain Quran.
3. Surat-surat di dalam Quran.
4. Ayat-ayat di dalam Quran.
5. Bacaan Gharib.
6. Alif yang Bukan Mad.
7. Rumus Waqaf.
8. Saktah.
9. Dilarang Waqaf.
10. Hukum Basmalah.
11. Hukum Ro'.
12. Qad - Idz - Ta' Ta'nits.
15. Illa - Kalla - Bala.
16. Lafazh Gharib.
17. Doa Akhir Ayat dan Surat.
18. Wirid Quran.

Dari sekian belas pekan kami lalui selama dua semester ini, kusampaikan permohonan maaf kepada anak-anak atas segala khilaf. Serta rasa terima kasih sebab sudi menemaniku belajar lagi Musthalah Tajwid. Pesanku, kepada diriku sendiri dan mereka, hanya satu; jangan sampai satu haripun dalam hidup kita tidak berinteraksi dengan Quran.

Interaksi itu bisa berupa mentadabburi ayat, mengaji tafsir, nderes hapalan, atau cukup membacanya walau hanya satu halaman. Syukur kalau bisa satu juz perhari. Syukur kalau bisa khatam seminggu sekali, dengan menerapkan jadwal 'fami bisyauqin'. Tapi paling tidak, sehari satu lembar juga sudah bagus, asalkan istiqamah.

Dalam pertemuan tiap malam Senin ini kerap kuceritakan kisah-kisah nyata yang berkaitan dengan Quran. Tentang bagaimana wirid para sahabat yang sehari bisa khatam 3-4 kali. Tentang bagaimana Abuya Dimyathi Banten mengkhatamkan Quran 30 juz dalam shalat tarawih setiap malam Ramadan.

Tentang bagaimana guru kami di Krapyak, Kiai Najib, kerap 'ngelindur' berupa bacaan Quran sampai dua juz dalam tidurnya. Tentang Mbah Munawwir yang menghapal Quran selama perjalanan di atas kapal menuju Tanah Suci. Tentang kawan kami di Krapyak yang menghapal Quran sangat cepat sebab terbiasa nderes sejak dini.

Tentang Mbah Munajat yang giat bolak-balik Salatiga-Jogja untuk mengaji Quran kepada Mbah Munawwir. Tentang Mbah Arwani yang tak sengaja menghapal Quran. Tentang bagaimana senior kami di Krapyak sembuh dadi tumor setelah riyadhoh Quran. Tentang bagaimana kerabatku yang juga sembuh dari penyakit kronis setelah diriyadhohi Quran oleh keluarganya.

Tentang banyaknya orang-orang memeluk Islam setelah mengorek isi Quran. Tentang khasiat mendawamkan bacaan-bacaan Quran tertentu, semisal Yasin, Al-Waqiah, Al-Mulk, Al-Baqarah, As-Syams, Al-Lail, Al-Falaq, An-Nas, dan lainnya. Serta sedikit tentang keindahan makna ayat-ayat Quran dalam kacamata sains, sosial, seni bahasa, dan lainnya.

Intinya aku mencoba agar menumbuhkan tresna dalam hati kami -aku dan anak-anak- terhadap Kalam Tuhan ini. Entah jadi apapun kelak, tetaplah berinteraksi dengan Quran dalam kapasitasmu masing-masing, bagaimanapun model interaksimu, sesuai kemampuanmu. Entah sebagai akademisi, ibu rumah tangga, aktivis, pegawai, enterpreneur, seniman, apapun. Jangan sampai satu haripun lepas dari Al-Quran.

Kalibening, 10 Maret 2019

No comments:

Powered by Blogger.