Belajar Menyampaikan Pendapat - KBQTDiary #17

Oleh: @ziatuwel

Tiap Senin ada agenda upacara di KBQT, saat itu bocah-bocah akan saling mengevaluasi kegiatan masing-masing. Kritik, usulan, pendapat, diajukan dan ditanggapi. Senin kemarin cukup tegang, sehingga momen evaluasi berlangsung cukup lama. Banyak masalah yang dibahas dan dirembug solusinya.

Satu hal yang kuperhatikan adalah cara mereka menyampaikan pendapat dan idenya. Kulihat banyak anak yang masih belum bisa menyatakan ide secara efektif. Boro-boro mempengaruhi kawan bicara, memahamkan pun belum. Maka kuniatkan untuk mengajak anak-anak mengasah skill berpendapat.

Selasa ini aku belajar bersama kelas El-Farabi dan Rainbow. Ada Izza, Fredi, Chevo, Bayu, Dinar, Bowo, dan Zada. Kutemani mereka merancang kegiatan observasi ke Senjoyo esok Rabu. Setelah itu kuajak mereka belajar bagaimana menyampaikan pendapat secara efektif.

"Sebagus apapun ide kita," kubilang, "Jika tidak bisa menyampaikannya dengan baik, ya percuma. Malah bisa jadi salah paham."

Mereka manggut-manggut paham. Hal ini berlaku dalam penyampaian secara lisan maupun tulisan. Maka kemampuan penyampaian pendapat merupaka skill mutlak bagi pelajar. Tujuan menyampaikan pendapat adalah agar ide kita dipahami, kemudian lebih jauh lagi agar ide kita bisa mempengaruhi.

Demi menggapai tujuan itu, maka pendapat musti dinyatakan secara teratur. Tidak amburadul dan loncat-loncat. Pertama, sampaikan secara gamblang masalah riil yang dihadapi tanpa berpanjang lebar. Kedua, ungkapkan solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

Hal lain yang tak kalah penting adalah gestur atau bahasa tubuh. Yakni bagaimana anggota tubuh kita bersikap, serta bagaimana cara menatap kawan bicara. Kutekankan urusan gestur ini, sebab kulihat mereka masih belum pede ketika menyampaikan pendapat.

Setelah membahas semua poin itu, mulailah kami praktik menyampaikan pendapat. Dimulai dari Fredi yang punya ide tentang ngaji Quran satu-satu (setoran), untuk memperbaiki bacaan anak-anak KBQT. Izza melengkapi dengan perlunya buku catatan mengaji yang mengukur pencapaian bacaan anak.

Kemudian Zada menyampaikan idenya tentang penggunaan pupuk organik sebagai ganti pupuk kimiawi yang merusak tanah. Dilanjut Bowo yang mengungkapkan masalah perdagangan ilegal satwa endemik, serta perlunya pengawasan yang ketat dari masyarakat.

Chevo mengeluhkan susahnya transportasi antarkota dari dan menuju Salatiga, ia mengusulkan pengaktifan stasiun kereta api yang baru. Bayu mengkritisi perilaku merokok di lingkungan pom bensin mini dan perlunga ketegasan si pemilik pom terhadap perokok di area tersebut.

Jujur saja, aku tak mengira ide mereka akan sejauh itu. Kukira yang akan mereka ajukan adalah pendapat tentang hal-hal abstrak. Tetapi tidak. Ternyata mereka betul-betul memperhatikan realita sekitar, memikirkannya, kemudian bisa merumuskan solusinya.

Namun di momen ini kami tidak membahas isi idenya, melainkan sekedar menanggapi cara penyampaian ide tersebut. Secara umum sudah cukup baik, namun memang harus terus diasah, dibiasakan untuk berbicara dan menyimak.

Kuperhatikan masih kurangnya penghormatan terhadap pihak yang sedang berpendapat. Memotong omongan, mengomentari hal-hal yang tak perlu, atau sekedar tak acuh masih terlihat jelas. Belum lagi beberapa anak yang masih kesusahan merangkai kata, menyusun logika yang runtut, dan menatap kawan bicara.

Tentu saja hal semacam ini bisa diatasi dengan pembiasaan diskusi. Membiasakan mereka menyimak, berbicara, menanggapi, menyanggah, dan mengafirmasi. Diskusi termoderasi akan kujadikan metode default untuk belajar di kelas remaja ini. Agar anak-anak bisa berpikir runtut, menyimak liyan dengan hormat, serta menyatakan pendapat secara efektif.

Logic, rhetoric!

Kalibening, Selasa 26/3/2019

No comments:

Powered by Blogger.