Upacara Woles Tanpa Baris Berbaris - KBQTDiary #16

Oleh: @ziatuwel

Terakhir kali aku ikut upacara ya di Krapyak. Sejak adanya pemetapan Hari Santri, banyak pesantren berduyun-duyun menggelar upacara bendera. Entah pas Hari Santri atau Hari Proklamasi.

Sebelum adanya gelora Hari Santri, sangat jarang ada upacara bendera di lingkungan pesantren salaf. Meski demikian, patriotisme kalangan santri tak usah dipertanyakan. Zaman kuliah aku malah tak sekalipun ikut upacara, baik saat ngampus 2 tahun di STAN Jakarta maupun 7 tahun di UIN Yogyakarta.

Zaman sekolah (SD-SMP-SMA) upacara kuikuti tiap Senin. Formatnya jelas sangat formal dengan segala protokolernya. Selain menjadi upaya penanaman rasa kebangsaan, upacara juga menjadi media sosialisasi kebijakan sekolah dan semacam kuliah umum. Kadang juga diakhiri pengumuman siswa nakal atau pelanggar aturan.

Lalu bagaimana dengan Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah? Adakah upacara rutinnya?

Ya, ada! Tiap Senin digelar agenda upacara di KBQT. Tapi formatnya sangat berbeda dengan upacara yang pernah kualami semasa sekolah dahulu. Tak ada pemeriksaan seragam, baris berbaris, pengibaran bendera, lagu kebangsaan, amanat pembina, istirahat di tempat, mengheningkan cipta, dan seterusnya. Lha terus ngapain?

Upacara di KBQT diisi dengan musyawarah besar. Biasanya dimulai jam 9 sampai 11 siang. Para siswa beserta semua pendamping berkumpul di ruangan Resource Center, lesehan, melingkar. Dalam kesempatan ini ada satu kelas yang ditunjuk menjadi moderator musyawarah.

Mereka memusyawarahkan agenda kegiatan bersama KBQT. Yakni mengevaluasi kegiatan yang sudah dilaksanakan selama seminggu kemarin, serta merancang kegiatan yang akan dilakukan seminggu ke depan. Moderator mempersilakan setiap penanggung jawab agenda untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban, berupa kelangsungan agenda maupun kendalanya.

Setelah penanggung jawab tuntas melapor, selanjutnya ditanggapi oleh bocah-bocah lain. Jika sesi ini sudah usai, barulah moderator mempersilakan teman-temannya mengusulkan idenya untuk agenda kegiatan seminggu ke depan. Di momen evaluasi dan rancangan agenda ini sering kulihat keseruan saat bocah-bocah adu argumen. Sangat dinamis. Kalau sudah terlalu tegang dan buntu, biasanya pendamping menengahi dengan memosisikan diri sebagai penasehat.

Di momen upacara inilah pelajaran bermusyawarah terendapkan di alam bawah sadar bocah. Mereka belajar berdiskusi tentang hal yang riil, yakni kegiatan bersama. Sekaligus belajar mempertanggungjawabkan apa yang sudah mereka tanggung. Sungguh pembelajaran yang tak ternilai harganya, apalagi bagi anak-anak remaja yang masih labil emosinya.

Mereka belajar mendengar, sekaligus belajar menyampaikan. Mereka belajar dikritik, sekaligus menyampaikan kritik tanpa celaan. Mereka belajar mempertahankan argumen, sekaligus belajar menerima masukan orang. Dan proses ini tidak hanya berlangsung sekali setahun dalam LPJ Pengurus, melainkan seminggu sekali sepanjang tahun.

___
Kalibening, 27 Februari 2019

No comments:

Powered by Blogger.