Syarah Hikam Tematik dan Syarah Burdah Karya Syaikh Nawawi Banten

Oleh: @ziatuwel

Tadinya aku sedang iseng cari naskah kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Athaillah yang disusun secara sistematis sesuai bab tertentu. Selama ini yang kutemui adalah kitab Hikam dalam bentuknya yang masih berupa tebaran poin-poin kalam hikmah. Ada 264 mutiara kalam hikmah di dalam kitab tasawuf fenomenal itu. Tentu saja akan sangat memudahkan jika ratusan poin itu disusun secara tematik sesuai bahasan yang sewarna.

Lalu aku ketemu satu kitab tebal (308 halaman) berupa syarah (penjelasan) atas kitab Hikam susunan Ibnu ‘Abbad an-Nafzi ar-Randi. Di halaman 43 disebutkan bahwa ada satu kitab yang berisi penyusunan ulang kalam hikmah dalam kitab Hikam secara tematik. Judul kitab itu; An-Nahju al-Atamm fi Tabwibi al-Hikam susunan Syaikh ‘Alauddin Al-Muttaqi ‘Ali bin Hisamuddin Abdul Malik bin Qadhi Khan al-Harawi al-Hindi (w.977 H).

Maka kucarilah naskah itu dengan bantuan Mbah Google. Sayangnya belum kutemukan naskah asli kitab tersebut. Yang kutemukan malah syarah atas kitab An-Nahju al-Atamm itu. Judulnya; Mishbahu az-Zhalam Syarh an-Nahji al-Atamm fi Tabwibi al-Hikam susunan Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani. Ya, penyusunnya tak lain adalah Sang Sayyidu Ulama Hijaz, Bapak Kitab Kuning Nusantara!

Kitab Mishbahu az-Zhalam ini terdiri atas 122 halaman. Di pembukaan, Syaikh Nawawi mengisahkan bahwa beliau diminta orang untuk menulis penjelasan atas kitab Hikam. Namun syarah Hikam sudah sangat banyak, apalagi beliau –mengakui- bukan ahli dalam tema tasawuf. Lalu ketika berada di Madinah, beliau ketemu kitab An-Nahju al-Atamm karya Al-Muttaqi al-Harawi. Maka beliaupun kepikiran untuk menulis syarah kitab itu saja.

Dalam menulis kitab tasawuf ini, Syaikh Nawawi berpegangan pada dua hal untuk berhati-hati. Sebagaimana beliau menyatakan bahwa dirinya bukanlah pakar dalam bidang tasawuf, namun tetap memberanikan diri menulis syarah atas kitab tasawuf kelas tinggi. Maka beliau merasa perlu mengungkapkan dua hal ini.

Pertama; ada pepatah bahwa dunia pasti sudah hancur tanpa adanya orang riya’ atau tukang pamer amal. Sebab mereka inilah yang rajin membangun masjid-masjid dan sekolah-sekolah. Kalaupun memang mereka membangunnya diiringi riya’, maka semoga saja kaum muslimin yang tulus mendoakannya bisa bermanfaat untuknya. Disebutkan ada seseorang membangun pesantren, namun ia gundah; “Amalku ini kukerjakan benar-benar karena Allah atau tidak?” Kemudian ia mimpi didatangi sesosok bijak yang berkata; “Kalaupun amalmu itu bukan karena Allah, maka doa mereka yang mendapatkan manfaat dari amalmu jelas tulus karena Allah!” Mendengar ucapan ini, jadi lapang dan gembiralah hatinya.

Kedua; diriwayatkan bahwa Imam as-Syadzili pernah mengadu kepada Rasulullah atas tugasnya sebagai seorang ulama tasawuf; “Duhai Tuanku, hamba ini hanya ‘pengintip’ dalam ilmu tasawuf.” Kemudian disahut oleh Baginda Nabi, “Teruslah bicara di hadapan masyarakat. Sebab seorang ‘pengintip’ di dalam ilmu ini adalah wali. Sedangkan orang yang betul-betul alim dalam ilmu ini adalah bintang yang tak nampak lagi.”

Meskipun Syaikh Nawawi mengatakan bahwa Mishbahu az-Zhalam ini ‘bukan syarah atas Al-Hikam’, tetap saja kitab ini sangat pantas disebut sebagai Syarah Hikam Syaikh Nawawi. Sebagaimana kita tahu ada Syarah Hikam karya ulama Jawa yang lain, yakni Syaikh Soleh Darat Semarang.

Di dalam kitab An-Nahju al-Atamm yang disyarah Mishbah az-Zhalam ini, kitab Al-Hikam bisa dibaca sesuai dengan temanya. Dari 264 kalam hikmah, dikelompokkan menjadi 30 bab/tema, plus satu bab terakhir berisi munajat Imam Ibnu ‘Athaillah. Pengelompokan tematis ini tentu sangat bermanfaat bagi siapapun peminat tasawuf, terutama bagi para dai bernuansa sufistik. Ketiga puluh bab itu ialah;

1. Ilmu
2. Taubat
3. Ikhlas
4. Hikmah Shalat
5. Uzlah dan Khumul
6. Menjaga Waktu dan Memanfaatkannya
7. Zikir
8. Pikir
9. Zuhud dan Keutamaannya
10. Kefakiran dan Keterbatasan
11. Melatih Jiwa dan Mewaspadai Perdayanya
12. Menyeimbangkan Khauf dan Roja
13. Adab Meminta
14. Pasrah Atas Keputusan Allah
15. Sabar
16. Karunia Allah
17. Pergaulan
18. Tamak
19. Tawadhu
20. Istidraj
21. Wirid dan Warid
22. Permulaan Hingga Pungkasan Martabat Salik
23. Menahan dan Memberi
24. Cahaya dan Rahasia
25. Kedekatan Kehambaan
26. Kedekatan Ketuhanan
27. Keistimewaan Orang Arif
28. Tanda-tanda
29. Nasehat dan Syarat Sampainya ke Dalam Hati
30. Syukur dan Tingkatannya
31. Munajat Imam Ibnu ‘Athaillah

Di bagian hamisy (catatan pinggir) kitab Mishbahu az-Zhalam yang usai ditulis pada Jumadil Ula 1305 hijriyah ini, Syaikh Nawawi mencantumkan karyanya lainnya. Yakni syarah atas Syair Burdah karya Imam Muhammad bin Said al-Bushiri. Satu hal yang menarik dan menyentuh buatku adalah kalimat pembuka yang digunakan oleh Syaikh Nawawi dalam syarahnya ini. Beliau mengatakan;

“Segala puji bagi Allah yang menjadikan cahaya Nabi Muhammad sebagai asal kewujudan segenap ciptaan. Selawat dan salam bagi ia yang diistimewakan oleh Allah dengan ucapan; ‘Jika bukan karenamu, tak Kuciptakan langit, bumi, dan angkasa raya!’ Serta bagi para keluarganya, mata air segala hikmah. Juga bagi para sahabatnya yang beruntung sebab meneguk dari telaga cintanya. Pun bagi seluruh pengikut mereka yang penuh kecintaan dan pengagungan. Sebagaimana diriwayatkan bahwa sesiapa mencintai suatu kaum maka akan dikumpulkan bersama kaum yang dicintainya, meskipun ia tidak beramal sebagaimana amal mereka.”

Nafa’anallahu bihim, wa lahum al-Fatihah.

Kalibening, 10/2/2019

*Foto: suasana bakda ngaji kitab Ikatan Mahasiswa Nahdliyyin (IMAN) STAN bersama Ustadz H. Bukhori Soleh, sekitar tahun 2008. Kitab yang dibahas; al-Ajwibah al-Ghaliyah, Minhajul Abidin, dan Al-Hikam. Link download kitab Mishbahu az-Zhalam dan Syarah Burdah Syaikh Nawawi Banten: klik di sini.

1 comment:

Powered by Blogger.