Siapa Sih Kiai Maimoen Zubair Itu?

Oleh: @ziatuwel

Belakangan santer berseliweran obrolan politik dengan membawa-bawa nama ulama sepuh asal Rembang, Kiai Maimoen Zubair. Sebagaimana kita tahu, beberapa hari lalu beliau mendeklarasikan dukungan politiknya untuk salah satu calon di pemilu 2019 ini, yakni kubu petahana. Pada pemilu 2014 lalu, beliau juga meng-idzhar-kan dukungannya ke salah satu calon yang kini jadi oposisi.

Terserah sih bagi para pendukung dua kubu calon untuk terus membicarakan dan meributkan hal itu. Toh Mbah Maimoen memang sudah sejak lama terjun ke politik praktis yang pasti tidak selamat dari gunjingan dan cibiran. Di sini, kita hanya akan mengenal sedikit tentang profil sosok sepuh kita ini, yakni tentang keluarganya, pendidikannya, serta kiprah dan kepribadiannya. Setidaknya dengan mengenal profil beliau, kita bisa mengukur diri dan tidak sembarangan berkata-kata tentang beliau.

PERTAMA, KELUARGANYA.

Mbah Maimoen lahir di kampung Karangmangu, Sarang, Rembang, pas di Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Ayah beliau adalah Kiai Zubair putra Kiai Dahlan. Ibu beliau adalah Nyai Mahmudah putri Kiai Ahmad bin Kiai Syuaib. Beliau keturunan ulama soleh baik dari jalur ayah maupun ibunya.

Mbah Maimoen menikah dengan Nyai Fahmiyah putri Kiai Baidhowi Lasem. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai tujuh orang anak, yakni Kiai Abdullah Ubab, Kiai Muhammad Najih, dan Nyai Shabihah, sedangkan yang empat wafat waktu kecil. Lalu beliau menikah lagi dengan Nyai Mastiah putri Kiai Idris Blora.

Dari pernikahan ini dianugerahi enam orang anak; Gus Majid Kamil, Gus Abdul Ghofur, Gus Abdur Rouf, Gus Muhammad Wafi, Gus Taj Yasin, Gus Idror, dan Ning Rodhiyyah. Semua putra-putri beliau dari kedua istrinya menjadi tokoh ulama dan berperan aktif dalam dakwah Islam.

Lihatlah, mulai dari orang tua, kakek nenek, istri-istri, mertua, bahkan sampai ke semua anaknya adalah orang-orang yang punya ghirah keislaman di atas rata-rata. Semua turut andil dalam dakwah Islam dan kepesantrenan.






KEDUA, PENDIDIKANNYA.

Mbah Maimoen mulai mengaji kepada ayahnya sendiri. Di usia 17 tahun beliau sudah menguasai kitab-kitab dasar berbagai fan ilmu keislaman, mulai Nahwu-Shorof, Fikih, Tauhid, Manthiq, dan Faroidh. Setelah itu, di masa remajanya, beliau lanjut mengaji di Pesantren Lirboyo selama 5 tahun kepada Kiai Abdul Karim, Kiai Mahrus Ali, dan Kiai Marzuqi Dahlan.

Seusai mengaji di Lirboyo, pada usia 21 tahun Mbah Maimoen berangkat ke Tanah Suci dan mengaji di sana selama 2 tahun. Beliau mengaji kepada banyak ulama hijaz, di antaranya Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syaikh Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Kutbi, Syaikh Yasin al-Fadani, Syaikh Abdul Qodir al-Mandily, dan Syaikh Imron Rosyadi di Darul Ulum Mekah.

Sepulang dari Tanah Suci pada usia 23 tahun, Mbah Maimoen masih lanjut mengaji kepada para ulama besar di Nusantara. Yakni kepada Kiai Zubair (ayah beliau sendiri), Kiai Baidhowi Lasem, Kiai Ma’shum Lasem, Kiai Ali Ma’shum Krapyak, Kiai Bisri Musthofa Rembang, Kiai Abdul Wahhab Hasbullah, Kiai Muslih Mranggen, Kiai Abbas Buntet, Kiai Ihsan Jampes, Kiai Abul Fadhol Senori, Kiai Abul Khaer Senori, Kiai Wahib Wahab, Kiai Bisri Syansuri, Kiai Hamid Pasuruan, Kiai Thohir Rohili Jakarta, Kiai Chodhori Tegalrejo, Kiai Asnawi Kudus, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Malang, dan Habib Ali bin Ahmad Alatthas Pekalongan.







KETIGA, KIPRAHNYA.

Pada tahun 1386H/1964M (usia 36 tahun), Mbah Maimoen mendirikan musholla kecil untuk mengajar masyarakat di desa  Sarang. Dua tahun kemudian, 1966, beliau membangun kamar di sebelah musholla untuk santri yang menghendaki mondok. Mulai tahun 1970, saat usia beliau genap 40 tahun, banyak santri yang berduyun-duyun datang dari berbagai daerah untuk belajar. Maka sejak saat itu berdirilah pesantren yang kini dikenal dengan nama Al-Anwar.

Di pesantren inilah Mbah Maimoen setiap hari mendamping santri belajar ilmu-ilmu keislaman. Khususnya kitab-kitab ilmu tingkat lanjut, yakni kitab Fathul Wahhab, Syarah Mahalli, Jam’ul Jawami’, Ihya ‘Ulumiddin, Uqudul Juman, Al-Asybah wan Nazhair, Syarh Ibnu Aqil, Lubbul Ushul, Mughni Labib. Di bulan Ramadan, beliau mengaji kitab-kitab hadits seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Muwattha, Riyadhus Shalihin, dan Adzkarun Nawawi. Sedangkan tiap hari Ahad, beliau membuka pengajian Tafsir Jalalain untuk masyarakat umum yang dihadiri ribuan orang.

Selain mengasuh pesantren, Mbah Maimoen juga pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Rembang selama 7 tahun. Beliau juga pernah menjadi anggota MPR RI utusan daerah selama 3 periode. Dalam dunia politik praktis, beliau sejak dahulu hingga kini istiqamah berjuang melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Di dalam tubuh Nahdlatul Ulama, beliau termasuk kiai khos yang sangat dihormati, menjadi mustasyar PBNU serta duduk di ‘majlis ifta wal irsyad’ Jamiyah Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN)

KEEMPAT, KEPRIBADIANNYA.

Mbah Maimoen dikenal sebagai sosok yang mandiri sejak muda. Semasa muda, beliau pernah melakoni banyak jenis profesi untuk mencari nafkah. Beliau pernah menjadi petugas koramil, kepala pasar, pengayong bulog, ketua koperasi, hingga bekerja di pelelangan ikan. Macam-macam pekerjaan itu beliau lakoni dengan ringan, untuk mengais rejeki halal dan mencari pengalaman.

Sebagai sosok kiai, beliau juga sangat berhati-hati dengan urusan nafkah. Saat menyimpan uang, Mbah Maemoen selalu membeda-bedakan lokasinya di lemari. Antara uang dari ceramah, atau dari partai, atau dari hasil penjualan warung, atau dari hasil pertanian. Tidak dicampur. Kalau ada keperluan ceramah, beliau gunakan uang dari hasil ceramah. Kalau ada keperluan politik, beliau pakai uang hasil berpolitik. Adapun untuk keperluan nafkah keluarga dan makan sehari-hari, beliau ambil dari hasil pertanian dan warung beliau sendiri.

Ketika menjadi anggota dewan, Mbah Maimoen tidak mau menikmati gajinya sama sekali.  Wesel gaji yang dikirimkan pun tetap utuh, dan digunakan untuk keperluan lain yang tidak berkaitan dengan nafkah. Hal ini beliau lakukan untuk menghindari harta yang syubhat. Bahkan saat pergi ke Jakarta untuk keperluan politik, beliau sekeluarga memilih membawa bahan makanan sendiri untuk dimasak.

Di usianya yang sudah lebih dari 90 tahun ini, Mbah Maimoen masih membuka pintu rumahnya untuk menerima tamu setiap hari. Penulis pernah berkesempatan sowan satu kali dan terpana dengan segala keramahan beliau. Semua tamu ditanya satu-satu yang bukan sekedar basa-basi, dijamu, dan didoakan dengan begitu mesra. Beliau juga kerap dikunjungi para ulama internasional dari berbagai penjuru dunia. Semisal almarhum Syaikh Rajab Dib Suriah, Syaikh Amin al-Jailani Libanon, Syaikh Muhammad Ismail al-Yamani Mekah, Syaikh Taufiq al-Buthi Suriah, Syaikh Muhammad Ali as-Shabuni Suriah, Habib Aydarus al-Aydrus Yaman, Syaikh Awad Karim Sudan. Ketika dikunjungi Dr. Abdun Nashir al-Malibari dari India, Mbah Maimoen berkata; "Thaala 'umrii wa qalla 'amalii; sudah panjang usiaku namun sesikit amalku. 'Umrii fawqat tis'iin, ud'u liian amuuta 'alaa diinil Islaam; usiaku sudah lebih dari 90 tahun, doakan aku agar mati dalam agama Islam."


Mbah Maimoen juga menyusun beberapa karya tulis. Misalnya kitab ‘Tarajim Masyayikh Sarang’ yang berisi biografi para kiai Sarang, kitab ‘Maslak at-Tanassuk al-Makki’, kitab ‘Ta'liqat Ala Jauharatit Tauhid’, kitab ‘Ta'liqat Ala Bad'i al-Amali’, kitab al-‘Ulama al-Mujaddidun’, dan lain-lainnya. Beliau memiliki pandangan-pandangan yang unik terkait keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Pandangan-pandangan unik beliau terrangkum dalam buku Oase Jiwa II yang pernah diterbitkan oleh Penerbit JagadPress, Komunitas Santrijagad, 2018 lalu. (Pemesanan buku bisa klik di sini)

Demikian sekelumit profil al-‘allamah Mbah Kiai Maimoen Zubair. Semoga bisa sedikit memberi gambaran kemuliaan dan keagungan sosok Mbah maimoen yang saat ini masih berada di tengah-tengah kita. Lebih lanjut lagi, agar kita yang mengaku muslim –apalagi santri- untuk selalu mengedepankan adab dalam hal apapun, apalagi kepada sosok ulama sepuh seperti Mbah Maimoen, hafizhahullah wa nafa'ana Allahu bihi. []

Salatiga, 7 Februari 2019

No comments:

Powered by Blogger.