Penjelasan Hadits Nabi; “Aku Diperintahkan Untuk Memerangi Manusia ...”

Oleh: @ziatuwel

Ada sebuah ‘hadits kontroversial’ dengan derajat shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Hadits ini sering disalahpahami oleh ekstrimis maupun orientalis. Bagi teroris ekstrimis, hadits ini jadi tameng bagi sikap mereka yang gampang sekali membunuh orang-orang yang dianggap kafir. Bagi orientalis, hadits ini dijadikan alat untuk menuduh bahwa Islam adalah agama pembantai. Begini bunyi haditsnya, Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

أمرت أن اقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله، ويقيموا الصلاة، ويؤتوا الزكاة، فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحق الإسلام، وحسابهم على الله تعالى
“Aku diperintahkan (oleh Allah) untuk memerangi manusia hingga mereka; bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka melakukannya, maka darah dan harta mereka terpelihara dariku selain menurut hukum Islam, dan perhitungan amal mereka terserah kepada Allah Ta’ala.”

Untuk memahami hadits yang sangat rawan penyalahgunaan ini, juga hadits-hadits lainnya, setidaknya butuh dua hal utama; pengetahuan tentang tata dan rasa bahasa Arab, serta pengetahuan tentang hukum Islam secara menyeluruh. Jika dua hal ini tidak dipenuhi, maka siapapun yang membaca hadits ini –apalagi hanya terjemahnya- pasti akan salah paham.


Salah Paham

Ada dua jenis golongan yang salah paham terhadap hadits ini. Pertama, ekstrimis-teroris. Mereka adalah orang-orang yang tumbuh bukan pada lingkungan keilmuan yang kental. Tidak mendalami ushul dan furu’ syariah secara intensif melalui bimbingan para ulama yang jernih. Namun mereka memiliki semangat yang tinggi untuk ‘berjuang demi Islam’. Perjuangan tanpa landasan ilmu yang kokoh membuat mereka memahami hadits ini dengan sembarangan.

Akibatnya, hadits ini dijadikan senjata untuk melakukan aksi teror yang bisa kita lihat di sepanjang sejarah umat Islam di berbagai belahan bumi. Betapa banyak darah yang telah tertumpah, betapa rugi wajah kaum muslimin telah tercoreng sebab aksi-aksi biadab tak manusiawi. Di zaman ini, aksi semacam itu biasanya didasari oleh motif perlawanan dan ‘balas dendam’ terhadap dunia Barat –tema yang bisa kita diskusikan. Namun yang jelas salah adalah menggunakan hadits di atas sebagai pembenar atas aksi keji mereka.

Kedua, golongan orientalis. Yakni orang-orang nonmuslim yang memiliki agenda meruntuhkan citra Islam. Mereka menuduh umat Islam sebagai kaum arogan dan haus darah dengan menunjuk hadits ini. Bahwa misi Islam adalah memaksa semua orang menjadi muslim, kalau tidak mau maka halal darahnya. Sayangnya tuduhan keliru ini seakan terbukti dengan adanya golongan yang pertama; ekstrimis-teroris. Maka jadilah dua golongan ini saling melengkapi.

Apakah benar kaum muslimin diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mau memeluk Islam, sebagaimana dipercayai para ekstrimis-teroris? Apakah benar bahwa Islam adalah agama arogan dan haus darah sebagaimana disangkakan para orientalis Barat?

Pemahaman Lafal

Di dalam hadits tersebut, redaksinya menggunakan lafal اقاتل (uqatil) bukan اقتل (aqtul). Hanya beda satu huruf alif namun pembacaan dan maknanya jauh berbeda. Kata ‘aqtul’ merupakan bentuk kata kerja aktif searah, yakni aktivitas agresif satu pihak (aktif) terhadap pihak lain (pasif). Sedangkan kata ‘uqatil’ merupakan bentuk kata kerja kesalingan (shighah mufa’alah), yakni aktivitas yang diperbuat dua pihak secara aktif satu sama lain.

Lafal الناس (an-nas; manusia, orang-orang) di dalam hadits tersebut juga tidak bermakna seluruh manusia di dunia. Kata tersebut berbentuk umum namun bermakna khusus. Banyak disebutkan di dalam Quran kata الناس yang bermakna khusus. Misalnya dalam surah Ali Imran;

ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدْ جَمَعُوا۟ لَكُمْ فَٱخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَٰنًا وَقَالُوا۟ حَسْبُنَا ٱللَّهُ وَنِعْمَ ٱلْوَكِيلُ
“Orang-orang beriman yang kepada mereka ada ‘manusia’ yang mengatakan: ‘Sesungguhnya ‘manusia’ telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.’ Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab; ‘Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.’”
Maksud lafal الناس yang pertama adalah Abu Sufyan, sedangkan maksud lafal الناس kedua adalah kaum musyrikin Quraisy dan sekutunya. Jadi makna lafal الناس di dalam ayat tersebut berbeda-beda dan tidak bermakna keseluruhan manusia. Begitu juga di ayat-ayat lain dalam Quran yang menggunakan lafal الناس.

Dengan memahami dua lafal ini, kita bisa melihat bahwa istilah ‘memerangi’ bukanlah aksi agresif, melainkan aksi defensif dalam kondisi saling menyerang satu sama lain. Juga bisa kita pahami bahwa istilah ‘manusia’ tidak semua orang di muka bumi, melainkan orang-orang yang terlibat dalam aktivitas peperangan tersebut.

Pemahaman Ajaran Islam

Setelah memahami aspek kebahasaan, kita juga musti memahami aspek ajaran Islam secara keseluruhan. Terutama tentang tiga hal; (a) pesan utama Islam, (b) cara dakwah, dan (c) teladan Nabi dalam muamalah dengan nonmuslim.

Pesan utama Islam setelah tauhid adalah rahmah (kasih sayang) dan akhlak (etika) mulia. Di dalam Quran jelas dinyatakan bahwa Rasulullah tidaklah diutus melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam. Bukan hanya bagi kaum muslimin, bahkan bukan hanya bagi ras manusia. Inilah pesan utama yang dianut kaum muslimin dan menjadi tema dakwah untuk kalangan nonmuslim.

Lalu bagaimana cara mendakwahkan tauhid dan akhlak tersebut? Cara dakwah –mengajak manusia kepada tauhid dan memeluk Islam- juga sudah sangat jelas dipandu di dalam Quran. Yakni dengan tiga pendekatan; (1) hikmah; keteladanan sikap dan akhlak, (2) mauizhah hasanah; bahasa tutur yang baik, dan (3) jidal; argumentasi yang elegan.

Lalu bagaimana jika ajakan tauhid dan akhlak tersebut ditolak? Maka kaidahnya juga sudah jelas di dalam Quran; tidak ada paksaan dalam agama. Dalam hal ini, kita musti melihat bagaimana Rasulullah bergaul dengan nonmuslim yang menolak dakwahnya. Di awal masa dakwah saat berposisi lemah, beliau mendoakan orang-orang yang mengganggu dakwahnya. Di masa akhir dakwah saat berposisi kuat, beliau memaafkan dan menjamin keamanan orang-orang nonmuslim yang mau bersepakat damai.

Islam sangat rinci memandu pemeluknya untuk beretika dalam pergaulan, termasuk dengan nonmuslim. Tidak ada larangan untuk berbuat baik (birrun) kepada nonmuslim selama mereka tidak memerangi kita, sebagaimana ditegaskan di dalam Quran. Lalu apa makna kontekstual hadits tentang ‘perintah memerangi manusia’ di atas?

Makna Hadits

Setelah memahami aspek kebahasaan hadits dan aspek ajaran Islam, maka hadits ‘uqatil’ ini jika disyarahi berbunyi;

“Aku diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikan dakwah dengan hikmah dan mauizhah hasanah. Jika mereka menentangku dan memerangiku untuk mengekang orang-orang dalam memilih keimanan, maka aku akan memerangi mereka sampai orang-orang merdeka dari kekangan mereka. Sehingga dakwah ini bisa berbuah, yakni sampai mereka menganut dakwah Islam; bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, serta menunaikan zakat. Jika dakwah Islam ini sudah mereka anut, maka mereka masuk dalam wilayah perlindunganku, baik nyawa maupun hartanya, sesuai dengan aturan Islam. Adapun perkara hisab atas amal perbuatan masing-masing hamba adalah urusan Allah Ta’ala.”
Dari pemahaman yang sesuai dengan konteks kebahasaan maupun keseluruhan ajaran Islam ini, bisa kita ambil beberapa poin pelajaran di dalam hadits tersebut. Yakni;


  1. Merupakan kewajiban bagi umat Islam untuk menyebarkan cahaya iman, tauhid, dan keharuman akhlak dengan metode dakwah yang digariskan oleh Quran dan sunnah Rasulullah.
  2. Penentangan terhadap dakwah pasti akan selalu ada, kapanpun dan dimanapun. Jika penentangan itu sudah dalam wujud ancaman terhadap nyawa, maka wajib bagi kita untuk mempertahankan diri dengan melakukan perlawanan.
  3. Perlawanan dalam wujud peperangan ini ditujukan kepada pihak yang melakukan penyerangan. Tidak kepada semua orang nonmuslim. Bahkan dalam perang pun Islam punya aturan formal dan etika-etikanya.
  4. Peperangan ini dilakukan sampai umat Islam tidak lagi ditindas, diserang, dan dipaksa untuk kufur. Sehingga perang ini tidak dilakukan selamanya, sifatnya adalah mempertahankan diri, bukan mengagresi.
  5. Proses dakwah tauhid dan akhlak berlanjut hingga mereka (pihak nonmuslim yang memerangi maupun selain mereka) menerima tauhid dan syariat Islam. Hal ini bisa terwujud menjadi buah dari etika dakwah dan jihad qital yang sesuai dengan tuntunan Quran dan sunnah Rasulullah. Jika tidak sesuai, maka yang timbul justru kerusakan.
  6. Ketika orang-orang sudah menerima Islam, maka mereka masuk ke dalam wilayah perlindungan kaum muslimin, baik nyawa maupun hartanya sesuai dengan syariat Islam. Adapun perkara amal perbuatan masing-masing hamba adalah urusan Allah Ta’ala.

Dengan pemahaman semacam ini, hadits ini sama sekali tidak bernuansa garang sebagaimana dipercaya para ekstrimis-teroris. Tidak pula bermakna keji sebagaimana disangka para orientalis. Hadits ini mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi kaum muslimin sepanjang masa, terutama kaitannya dengan kegigihan dalam dakwah terhadap nonmuslim, serta kewajiban syariat bagi kaum muslimin. Wallahu a'lam bis shawab.

Kalibening, 13/02/2019
*Disarikan dari artikel; Raf’u al-Iltibas ‘an Ma’na Haditsi Umirtu an Uqatila an-Nas keluaran Sanad Network

No comments:

Powered by Blogger.