Makin Tinggi Pendidikan, Makin Jauh dari Desa? - KBQTDiary #14

Oleh: @ziatuwel

Sabtu kemarin ada tamu dari kaki Gunung Prau. Serombongan keluarga yang bergiat di komunitas Gayeng Sinau Bareng (GSB) desa Bringinsari, Sukorejo, Kendal. Sejak semalam mereka menginap di sini. Paginya mereka ngobrol dengan Pak Din dan mengamati kegiatan anak-anak KBQT yang sedang mempersiapkan Gelar Karya.

Tiap ada tamu yang datang ke KBQT aku selalu penasaran. Sebab sebelum terjerumus di sini, dahulu akupun tamu. Ada semacam pandangan di benakku bahwa setiap tamu yang datang ke sini setidaknya punya ketertarikan sama terhadap tema pendidikan manusiawi. Entah dsri kalangan akademisi maupun pegiat sosial. Atau bahkan mereka bergerak dalam bidang yang seirama di lingkungan komunitas masing-masing.

Maka setiap tamu yang datang biasanya kuajak ngobrol sekedarnya. Selain untuk menyerap inspirasi, juga bisa jadi wasilah berjejaring. Termasuk tamu siang itu. Kuajak ngobrol Pak Rozi yang merupakan kepala rombongan sekaligus kepala keluarga GSB.
Pak Rozi dari Gayeng Sinau Bareng Sukorejo

Pak Rozi ini mantan kepala sekolah yang sudah mengabdi selama 17 tahun di sebuah sekolah swasta. Dia bilang, MI Al-Islam tempatnya mengabdi dahulu sangat diremehkan warga. Kualitasnya pun seadanya, hidup enggan mati tak mau. Ia berjuang mengubah kondisi itu, hingga sekolah tersebut kini bisa menjadi sekolah favorit dan sanggup membuka 12 kelas (paralel 2 kelas untuk tiap tingkat).

Sebagai kepala sekolah, Pak Rozi kerap melancong untuk studi kunjung secara pribadi ke sekolah-sekolah lain yang dianggap maju. Ia melihat bahwa ada sesuatu yang musti diubah untuk meningkatkan kualitas sekolahnya. Ada salah satu saran dari hasil diskusi bahwa sekolah bagus biayanya mahal, maka naikkan saja biayanya.

Ia kemudian menaikkan syahriyah (uang bulanan) sekolah. Yang mulanya hanya Rp15.000,- (lima belas ribu) perbulan ia naikkan beberapa kali lipat. Hasilnya; wali murid protes. Guru pun mengadu padanya. Tapi memang itulah tujuannya, yakni agar terjadi dinamika antara guru sebagai representasi sekolah dan wali murid.

Dengan naiknya syahriyah, muncul tekanan dan tagihan sosial dari wali murid. Dengan adanya tekanan, muncul tuntutan agar guru mengajar dengan prima dan optimal. Dengan optimalnya proses pembelajaran, kualitas sekolah pun secara natural meningkat, baik prestasi anak secara akademik maupun non-akademik.

Kabar terakhir, syahriyah di sekolah itu sudah mencapai 300-450 ribu perbulan. Tentu ini angka yang lumayan tinggi untuk ukuran MI di pelosok desa. Angka itupun masih opsional, bahkan tak sedikit wali murid yang tidak memilih opsi syahriyah yang disediakan sekolah. Mereka malah secara sukarela membayar lebih dari itu, hingga dua kali lipatnya. Sebab mereka sudah begitu percaya dengan kualitas sekolah.

Dari kasus ini, Pak Rozi mengiyakan bahwa memang ada korelasi antara sekolah bagus dengan biaya. Meskipun itu bukan tolak ukur utama. Dan itulah -kata Pak Rozi- yang menjadi paradigma masyarakat secara umum tentang dunia persekolahan. Paradigma yang menurutnya pragmatis namun tidak sehat bagi mental masyarakat.

Setelah 17 tahun mengabdi, Pak Rozi mengundurkan diri. Ia merasa kreativitasnya kurang tersalurkan di lingkungan lembaga pendidikan formal dengan segala birokrasinya. Maka ia pun memulai gerakan nonformal di desanya dengan nama Gayeng Sinau Bareng. Salah satu bentuk kegiatannya adalah ruang belajar anak bernama; Sanggar Pringgondani.

Setahun berjalan, Pak Rozi merasa perlu meneruskan tradisi lamanya; studi kunjung. Ia pun datang ke Kalibening setelah mendengar kabar tentang KBQT, sebuah komunitas belajar nonformal yang sanggup menyelenggarakan pendidikan murah berkualitas.

Apalagi setelah ngobrol dengan Pak Din dan mengetahui bahwa falsafah dasar KBQT adalah kedaulatan desa. Di Sanggar Pringgondani yang digiatkannya, Pak Rozi memang juga menggelorakan semangat berdaya di desa. Anak-anak remaja ditumbukan kepercayaan dirinya terhadap desa. Sebab sudah menjadi hal yang lumrah saat ini ketika desa dipandang tak menjanjikan bagi anak-anak muda.

Mereka lebih memilih merantau ke kota. Apalagi bagi mereka yang sudah kadung bersekolah tinggi-tinggi. Ada kecenderungan tidak mau (atau tidak bisa) lagi kembali ke desa. Sehingga muncullah suatu tesis bahwa; semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin jauh ia meninggalkan desanya.

Secara sinis Pak Rozi mencontohkan; seorang anak yang disekolahkan oleh orang tuanya dengan menjual tanah. Lalu dia bekerja membangun 'kerajaan uang' orang lain, bukannya kembali ke desa, membangun usahanya sendiri di kampung halaman. Tentu contoh semacam ini -menurutku- terlalu menggeneralisasi.

Dulu aku juga pernah berpandangan semacam itu. Namun setelah lama kurenungkan, tiap orang punya jalan takdirnya masing-masing. Ada kondisi dan situasi khas yang mengharuskan seseorang pergi dari kampungnya. Bagiku berdiaspora tak jadi masalah, yang paling penting adalah; di manapun pergi, ia harus berkiprah di lingkungannya masing-masing.

Tapi secara garis besar aku sepakat dengan ide utama Pak Rozi. Bahwa suatu ruang belajar musti bisa mengenalkan anak-anak tentang desanya. Musti berupaya menumbuhkan semangat untuk berdaulat di desanya, memperbaiki desanya, memajukan desanya. Entah dimanapun desa yang ia tinggali kelak.

Obrolan ini nyambung dengan obrolanku beberapa jam sebelumnya dengan Mas Hilmi dan Mas Hanif. Kami membicarakan potensi marketplace bagi produk-produk para 'alumni' KBQT. Lalu kami mulai mendata produk apa saja yang bisa dipasarkan secara online melalui satu pintu marketplace.

Ternyata sangat banyak! Ada yang usaha telur ayam, telur bebek, kaos, konveksi, celana kolor, jamu tradisional, pijat refleksi, batik anak, jamur, buku, gamis, kaos kaki, susu murni, video shooting, sketsa, band, snack, cilot, hingga reparasi sofa. Setelah kuamati, ternyata para alumni KBQT mayoritas menetap dan berdaya di kampung masing-masing. Data produk di atas adalah produk mereka yang mukim di Kalibening dan sekitarnya.

Sebenarnya bukan berarti mereka tidak boleh merantau dan berkarir ke kota. Hanya saja ikatan terhadap kampung halaman dengan segala keayemannya sudah sangat erat. Istriku dulu juga berkali-kali mendapat tawaran bekerja jadi scriptwriter acara-acada televisi. Tapi dia tak mau dan lebih memilih 'seadanya' di desa.

Pernah ada salah satu anak KBQT yang diterima bekerja di stasiun televisi swasta (kalau tak salah; TransMedia). Ia bekerja sebagai pengisi suara beberapa program. Setelah beberapa lama, ia pun tak betah dengan nuansa persaingan dan hiruk pikuk ala kota. Ia pun mundur, namun jasanya masih dibutuhkan. Maka dia bikin studio khusus di kampung untuk rekaman, kemudian dikirim hasilnya ke pihak televisi.

Sejak mula, Pak Din memang menitikberatkan ikatan yang kuat dengan desa terhadap anak-anak KBQT. Hal ini dibuktikan sendiri olehnya. Meskipun sekarang sudah jadi anggota Badan Akreditasi Nasional (BAN) yang harus dinas di ibukota, ia tetap mukim di Kalibening. Jadi tiap pekan ia musti bolak-balik Salatiga-Jakarta. Selasa-Kamis di Jakarta, Jumat-Senin di Salatiga.
Pak Ahmad Bahruddin (Pak Din) dan saya.

Oiya, tambahan. Tentang posisinya sebagai anggota BAN, sempat kutanyakan apa yang sedang ia perjuangkan. Katanya, perlu ada perubahan dari pusat terhadap variabel-variabel akreditasi. Secara ekstrim Pak Din sering menyayangkan banyak sekali poin akreditasi yang membuat sekolah hanya meributkan urusan remeh temeh. Seperti jumlah kursi, plang nama, hingga warna kaos kaki dan seragam. Bahkan seringnya melahirkan kepalsuan-kepalsuan dokumentatif ketika ada kunjungan akreditasi dari dinas ke sekolah.

KBQT beberapa kali mendapat tawaran akreditasi. Namun tidak serta merta diterima sebab kami tidak mau terjebak formalitas. Kecuali jika sudah ada reformasi variabel akreditasi menjadi lebih waras, mungkin kami akan menyambutnya dengan suka cita. Itulah, simpulku, yang sedang diperjuangkan Pak Din di lingkaran birokrasi formal. Ya semoga terwujud, kita doakan saja.

___
Kalibening, Ahad 10 Februari 2019

1 comment:

  1. Entah kenapa hati ini merasa harus kembali ke KBQT. Ada banyak hal yang mau saya bawa ke lereng gunung prau.Salam anak desa mas. Dari teman GSB PRINGGONDANI .

    ReplyDelete

Powered by Blogger.