Li Zi Qi; Vlogger Masak Bernuansa Pedesaan yang Menenteramkan

00:38
Oleh: @ziatuwel

Salah satu saluran fanpage facebook favoritku adalah laman Li Zi Qi  李子柒 meskipun lebih enak kusebut ‘Bibi Lung’. Di situ, ia rutin mengunggah video-video singkat berdurasi lima menitan dengan tema dominan kuliner. Ya, semacam channel masak. Sampai hari ini (4/2/2019) sudah ada 1,2 juta followersnya di fanpage facebook-nya. Sedangkan di Youtube-nya, sudah ada 2,3 juta subscriber.

Belum pernah lihat videonya? Duh kasihan, coba tonton dulu yang ini, baru lanjut bacanya;


Meskipun dominan masak-memasak, kurasakan konten video-video ‘Bibi Lung’ ini menyajikan nuansa yang lebih dari itu. Ada nuansa ketangguhan dan kekuatan yang ditunjukkan saat gadis ini memanggul kayu, berburu jamur, bahkan membuat bangku bambu. Ada nuansa kelembutan dan keanggunan saat dia merajang bumbu dapur. Ada nuansa ketenteraman dan kedamaian oleh nuansa pedesaan dan pegunungan yang diambil sebagai setting video itu. Kurasa pemirsa lain juga merasakan hal yang sama, tak cuma aku.

Sebagai pengagum kedaulatan dan keberlimpahan pangan, aku tentu sangat bungah melihat konten-konten keren Li Zi Qi. Bagaimana dia menyediakan sendiri bahan pangannya dari kebun, hingga bagaimana ia mengolah dan berkreasi secara mandiri di dapur tradisional. Belum lagi dengan latar pedesaan yang masih begitu asri dan tenang. Entah natural atau sekedar ekting, video-video Li Zi Qi betul-betul jadi oase di tengah tontonan yang penuh kerlap kerlip dan hingar bingar.

Lalu siapakan Li Zi Qi itu? Ada sebuah artikel di situs Raknife yang secara panjang lebar membahas sosok Li Zi Qi. Mulai dari latar belakangnya, aktivitasnya, gaya busananya, hingga jenis bahan-bahan masakannya. Tapi di artikel ini, kita intip sedikit saja.

Li Zi Qi terlahir pada era ‘90-an di desa terpencil wilayah pegunungan Sichuan, daerah Pingwu, Mianyang, China. Masa kecilnya tak seindah anak-anak lain. Orang tuanya bercerai, lalu ayahnya meninggal. Setelah itu dia hidup bersama kakek-neneknya yang miskin tapi cukup stabil untuk hidup. Kakeknya bekerja sebagai juru masak yang kerap disewa ketika ada acara hajatan. Dari situlah Li Zi Qi ikut belajar memasak berbagai jenis makanan. Begitu juga keterampilannya berkebun dan membuat perabotan, semuanya dipelajari dari sang kakek.

Pada usia 14 tahun Li Zi Qi putus sekolah sebab harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dia mulai merantau ke kota, sering kelaparan dan tidur di kolong jembatan. Berbagai jenis pekerjaan dia lakoni, mulai dari pelayan restoran, tukang listrik, berjualan hanfu (busana tradisional Tiongkok), hingga jadi DJ di sebuah klub malam. Setelah 7-8 tahun bekerja, ia menjadi gadis yang matang dan betul-betul mandiri.

Tahun 2012 sang nenek sakit, maka Li Zi Qi memutuskan untuk pulang kampung untuk merawatnya. Tentu saja momen ini sangat bertolak belakang dengan kehidupan kota yang serba gemerlap, pengap, dan serba terburu-buru. Hidup di desa begitu menenangkan bagi Li Zi Qi. Ia pun menetapkan hati untuk tinggal di desa, merawat neneknya, sambil bekerja di ladang dari pagi hingga sore sebagaimana umumnya warga.
Li Zi Qi dan neneknya

Selain berjualan hasil panen kebun, Li Zi Qi juga berjualan online melalui Taobao (semacam marketplace online di China). Pada tahun 2015, muncul Meipai, sebuah aplikasi video pendek di China yang digandrungi muda mudi di sana, semacam TikTok. Li Zi Qi tak mau ketinggalan, dia pun ikut mengunggah beberapa video pendek di sana untuk memasarkan produk-produknya di Taobao. Namun sayang, video-videonya tidak berhasil populer. Bahkan belakangan dia menutup toko onlinenya sebab tidak laku. Di toko onlinenya itu hanya tersisa tautan ke website donasi, agaknya memang ia gemar menyisihkan hasil penjualannya untuk berbagi.

Akhir 2015 Li Zi Qi mulai berpikir untuk kembali memulai membuat video. Ia melihat kakaknya bisa begitu populer dengan bermain gitar di aplikasi Meipai. Li Zi Qi berpikir apa tema video yang bisa dia buat, padahal dia tak bisa bernyanyi maupun bermain musik? Bagaimana kalau membuat video tentang apa yang biasa dia kerjakan, memasak? Bukankah bahan-bahannya sudah ada di kebun belakang rumah? Bukankah itu bisa menunjukkan gaya hidup sehat? Bukankah itu bisa menunjukkan kepada anak-anak kota tentang darimana makanan mereka berasal? Bukankah itu bisa menunjukkan kepada orang-orang bagaimana bahan pangan mentah itu disulap jadi santapan yang lezat?

Itulah yang terpikir di benak Li Zi Qi. Maka iapun mulai membuat serial video berjudul ‘Menu Makan Sesuai Perubahan Musim’. Namun judul ini dikritik editor di Meipai, sebab kurang greget. Setelah berpikir semalaman, ia mengunggah judul baru; ‘Keharuman Makanan Dengan Rasa Klasik’. Awalnya, video-video Li Zi Qi tidak mendapat perhatian dari khalayak Meipai. Kemudian ada beberapa pakar masakan melihat videonya di sana, lalu mulai tertarik dan mem-forward-nya. Dari situlah popularitas channel Meipai Li Zi Qi menanjak. Bahkan pada April 2016 ia juga mulai mengunggah video-videonya di Weibo (semacam Twitter-nya China).

Pada September 2016 perusahaan media sosial ternama China, SINA Weibo, menggaet para konten kreator untuk mengembangkan potensi mereka. Li Zi Qi termasuk salah satu kreator yang mendapat perhatian dari mereka sebab ciri khasnya.  Belakangan ia juga diajak kerjasama oleh perusahaan Weinian Technology.

Mulailah pada 2017 ia menjadi selebriti online seantero China, yang selalu berpenampilan tradisional dan nuansa kuno pedesaan yang unik. Memang di dalam setiap videonya, Li Zi Qi selalu nampak anggun dan resik dengan busana tradisional era Dinasti Han dan Dinasti Tang. Meskipun sebenarnya ia juga berpakaian kasual di luar aktivitas syuting. Dalam sebuah wawancara, Li Zi Qi mengatakan tentang tema videonya, “Yang kurekam adalah bayangan kehidupanku di masa depan.”

Semua video direkam sendiri oleh Li Zi Qi. Memang ada tim yang terdiri dari tiga orang; Li Zi Qi, seorang fotografer, dan seorang asisten teknis. Namun secara keseluruhan, Li Zi Qi sendirilah yang merekam videonya hingga melakukan editing dengan ponselnya (IPhone-6). Setelah bisa membeli kamera DSLR, kualitas videonya meningkat. Ia mulai merekam dengan kamera itu dibantu tripod. Jika posisinya sulit, dia akan minta bantuan warga sekitar yang sedang lewat. Lalu hasil rekaman itu diedit menggunakan hapenya. Ya, pakai hape!

Sebagai mantan DJ, Li Zi Qi juga piawai memilih backsound yang sesuai dengan tema videonya. Siring waktu, ia kerap belajar kepada kameramen maupun editor profesional sehingga kualitas videonya semakin membaik sebagaimana bisa kita dilihat saat ini. Setelah tahun 2017, Li Zi Qi sudah betul-betul piawai dalam urusan rekaman dan editing video. Oiya, urusan make up juga ia kerjakan sendiri lho!

Menonton video-video masak Li Zi Qi memang ada sensasi tersendiri. Kedamaian, ketenteraman, ketenangan, kebersahajaan, diracik dengan sangat pas. Video semacam ini bagaikan ‘pelarian’ bagi orang-orang kota yang sumpek dengan kebisingan dan segala polusinya. Tak hanya bagi orang kota, bagi orang desa sepertiku video-videonya juga cukup menenteramkan.

Sekelumit profil ‘Bibi Lung’ Li Zi Qi ini memberi kita banyak pelajaran. Ia tumbuh dari atar belakang yang tidak instan. Dia menjalani pematangan watak dalam kehidupan yang keras sejak kecil. Dia memilih untuk merawat nenek tuanya di desa ketimbang berkarir di kota. Dia memilih untuk bertahan dan terus belajar secara mandiri untuk meningkatkan keterampilannya. Dan dia menunjukkan kepada kita, bahwa kegigihan tentulah akan ada hasilnya. [ziatuwel.com]

Video pertama di Channel Youtube Li Zi Qi:


Sumber: Raknife

2 comments:

  1. Aku termasuk orang yang juga sangat bungah dengan channel ini. 😁 matur suwun reviewnya mas...

    ReplyDelete
  2. Mkshhh mas sdh review.. Sy juga pengemar berat Li Ziqi.. Videonya menentramkan😍😍😍😍

    ReplyDelete

Powered by Blogger.