Hari Kasih Sayang ala Rasulullah

Oleh: @ziatuwel

Pada bulan Ramadan tahun 8 hijriah, sepuluh ribu kaum muslimin berbondong-bondong berangkat dari Madinah menuju Mekah. Hari itu adalah momen besar yang telah mereka nantikan. Terbayang bagaimana beratnya tahun-tahun yang mereka lalui sebelumnya. Teringat bagaimana kaum muslimin diboikot, disiksa, hingga harus hijrah dari kampung halamannya, meninggalkan keluarga dan penghidupan mereka.


Selama tahun-tahun itu pula mereka lalui perang demi perang yang melelahkan. Perang untuk mempertahankan kemerdekaan sebagi kaum beriman. Perang yang tentu saja berujung tumpahnya darah para pejuang. Hari itu mereka terkenang saudara dan kerabat mereka yang telah syahid. Hari itu mereka kembali ke kampung halaman untuk merebut kembali kedaulatan mereka sebagai manusia.

Kaum muslimin berangkat menuju Mekah dengan posisi siap perang. Mereka siap jika harus berhadapan dengan kaum musyrikin di manapun dalam perjalanan. Jika itu terjadi, maka akan jadi peperangan habis-habisan bagi mereka. Apalagi banyak kejadian pengkhianatan yang mereka alami sebelum keberangkatan. Suasana psikologis inilah yang melingkupi emosi kaum muslimin saat itu.

Mungkin emosi semacam itu yang membuat seorang sahabat Anshar, Sa’ad bin ‘Ubadah, melontarkan ancaman saat bertemu Abu Sufyan. Saat itu Abu Sufyan baru saja menjadi muallaf. Ia begitu gentar melihat begitu banyak umat Islam hendak masuk kota Mekah. Ketika berpapasan di suatu lembah sebelum masuk Mekah, Sa’ad yang membawa bendera kaum Anshar berkata kepada Abu Sufyan,

اليوم يوم الملحمة اليوم تستحل الكعبة

“Hari ini adalah hari pembantaian! Hari ini adalah hari dihalalkannya Ka’bah!”

Ucapan Sa’ad kepada Abu Sufyan ini sampai juga ke telinga mulia Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Sebagai komandan tertinggi pasukan, beliau menyanggah ucapan Sa’ad seraya mengatakan hadits mulia ini;

اليوم يوم الرحمة اليوم يعظم الله الكعبة

“Hari ini adalah hari kasih sayang!
Hari ini Allah mengagungkan Ka’bah!”
(HR. Bukhari)

Rasulullah secara tegas dan terang-terangan menyebut bahwa hari penaklukan itu adalah ‘hari kasih sayang’ (Yawm ar-Rahmah, di redaksi lain; Yawm al-Marhamah). Beliau juga melarang seluruh pasukan melakukan penyerangan –apalagi pembantaian, kecuali jika diserang terlebih dahulu. Komando Rasulullah ini jelas menjadi peredam emosi para sahabat yang sudah bersiap untuk perang. Bahwa misi mereka bukanlah membantai, melainkan menebar kasih sayang Islam.

Ucapan Nabi tentang hari kasih sayang tidak sekedar retorika. Beliau membuktikannya saat memasuki kota Mekah. tidak ada balas dendam, tidak ada caci maki dan penghinaan terhadap hak-hak kemanusiaan. Setelah membersihkan Ka’bah dari tiga ratusan berhala yang mengotorinya, Rasulullah melantangkan takbir di setiap sudut ruangannya. Kemudian Bilal beliau perintah mengumandangkan adzan. Lalu di hadapan penduduk Mekah yang ketakutan, Rasulullah berdiri di pintu Ka’bah dan berpidato;

لا إله إلا الله وحده لا شريك له، صدق وعده، ونصر عبده، وهزم الأحزاب وحده، ألا كل مأثرة أو دم أو مال يدعى فهو تحت قدمي هاتين إلا سدانة البيت وسقاية الحاج

“Tiada Tuhan selain Allah, yang Mahaesa dan tiada sekutu bagi-Nya. Sungguh benar janji-Nya, sungguh Ia telah menolong hamba-Nya, dan mengalahkan para musuh. Ingatlah, seluruh peninggalan, darah, atau harta (pada masa jahiliyah kaum Quraisy di Mekah) terkubur di bawah kedua telapak kakiku, selain pemulasaraan terhadap Baitullah dan penyambutan ibadah Haji.”

يا معشر قريش، إن الله قد أذهب عنكم نخوة الجاهلية وتعظمها بالآباء، الناس من آدم وآدم خلق من تراب

“Wahai kaum Quraisy, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesombongan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyang. Manusia dari Adam dan Adam dari tanah.”

يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقاكم

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13)

يا معشر قريش ما ترون أني فاعل بكم؟ خيرا، أخ كريم، وابن أخ كريم.

“Wahai kaum Quraisy, menurut kalian apa yang akan kulakukan terhadap kalian?” Merekapun menjawab, “Hal yang baik! Sebagai saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia!”

فإني أقول لكم كما قال يوسف لإخوته‏:‏ ‏{‏لاَ تَثْرَيبَ عَلَيْكُمُ‏}‏ اذهبوا فأنتم الطلقاء

Rasulullah melanjutkan, “Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan Yusuf kepada saudara-saudaranya: ‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian.’ Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian telah bebas!”

Demikianlah Rasulullah mewujudkan makna kasih sayang dalam bentuk pengampunan, kemanusiaan, dan kemerdekaan. Cinta kasih dalam kacamata Rasulullah bukanlah perihal melampiaskan, melainkan merelakan diri untuk merangkul dan berdamai.

Padahal saat itu beliau bersama sepuluh ribu pasukannya sangat berkuasa untuk mencaci maki, menistakan, membantai, dan merampas kehormatan orang-orang yang pernah menyiksa mereka. Tapi bukan itu ajaran Islam. Kasih sayang adalah inti risalah Nabi, sebab beliau sendiri diutus sebagai kasih sayang bagi semesta alam. Rahmatan lil ‘alamin.

___
Kalibening, Kamis 14 Februari 2019
*Rujukan: Fiqh as-Sirah an-Nabawiyyah, Syaikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthy, hal. 262-267.

No comments:

Powered by Blogger.