Bayi Ini Terlahir Tuli, Seluruh Tetangganya Belajar Bahasa Isyarat

01:59
Oleh: @ziatuwel

Ini adalah kisah romantis sederhana tentang suatu lingkungan yang sangat manusiawi. Kisah tentang bayi perempuan yang terlahir tuli bernama Samantha. Tentang para tetangga yang penuh suka cita menggelar kelas bahasa isyarat agar Samantha tak merasa sendirian. Tentang lingkungan masyarakat yang betul-betul mengamalkan asas kekeluargaan dan inklusi.

Samantha lahir pada tahun 2016 dari pasangan Glenda dan Raphael di daerah desa Auburndale, Newton, Massachusetts. Seminggu setelah kelahiran, hasil tes mengatakan bahwa Samantha tuli. “Anak kami adalah orang tuli pertama yang pernah kami temui dalam hidup kami,” kata Glenda, “Maka tentu saja kami panik. Kami tak menduga sama sekali akan memiliki bayi tuli. Namun kemudian kami mulai berpikir realistis; apa yang akan kami lakukan? Baiklah, kami langsung putuskan untuk belajar bahasa isyarat! Agar kami bisa berkomunikasi dengannya demi pertumbuhan dan perkembangannya ke depan.”

Glenda dan Raphael adalah pindahan yang baru menetap di Auburndale pada 2013. Saat itu mereka disambut hangat oleh warga lingkungan sekitar. Warga Auburndale memang sangat ramah. Mereka menyambut kehadiran warga baru dengan kue dan jajanan. Jika ada warga sakit, mereka akan mengunjunginya sambil membawa makanan, persis di desa-desa kita di Indonesia.

Begitupun saat si mungil Samantha lahir dan diketahui bahwa ia tuli. Warga sekitar menyambutnya dengan hangat. “Anak ini selalu akan menjadi anak bagi warga desa kami,” kata Terry Nowak, salah seorang warga yang punya tiga anak. “Setiap orang pasti butuh lingkungan, begitu pula Samantha. Maka kami inilah yang akan menjadi lingkungan ia tumbuh. Dia bayi yang lucu, kami tak mau dia kesusahan untuk berkomunikasi dengan masyarakat kelak,” ujar warga lainnya, Lucia Marshall yang telah bermukim di Auburndale selama 20 tahun.

Setiap pekan, 20-an orang tetangga Glenda-Raphael berkumpul di rumah salah seorang warga. Secara mandiri, mereka mengundang Rhys McGovern, seorang guru privat bahasa isyarat. Mereka melakukannya tanpa meminta bayaran kepada orang tua Samantha sama sekali. Di kelas itu mereka belajar kata-kata dasar dalam bahasa isyarat. Terutama nama-nama benda dan kata-kata kerja. Maka bahasa isyarat Amerika (ASL) menjadi bahasa tutur kedua –setelah bahasa Inggris- di lingkungan itu.

Samantha sendiri didampingi oleh seorang mentor bahasa isyarat, Sarah Honigfeld, dari Pusat Pembelajaran Tuli Framingham. Ia telah mendampingi Samantha sejak usianya 3 bulan. “Sangat luar biasa melihat bagaimana masyarakat sekitar Samantha begitu perhatian terhadap gadis kecil ini. Mereka dengan sukacita belajar bahasa isyarat agar Samantha tidak merasa kesepian. Saya jadi teringat anak-anak lain yang harus pergi ke sekolah khusus anak tuli sejauh 4 jam dari rumahnya, hanya untuk bisa menemukan lingkungan yang sama. Namun Samantha beruntung sebab para tetangga di lingkungan tempat tinggalnya sudah menjadi tempat yang nyaman buatnya,” tutur Sarah.

Upaya yang dilakukan para tetangga ini tentu membuat Glenda dan Raphael terharu. “Saya merasa sangat beruntung tinggal di lingkungan ini,” kata Glenda, “Saya sangat senang jika diberi hadiah. Namun ini lebih dari sekedar hadiah. Mereka rela meluangkan waktu, pikiran, dan tenaganya untuk belajar bahasa isyarat hanya agar mereka bisa bercengkerama dengan anak saya. Saya tak tahu harus bilang apa untuk berterima kasih.”

Kisah tentang Samantha ini jelas mengingatkanku pada keluarga kami. Sejak dilahirkan pada 1995, adik perempuanku –Nida- terdeteksi tuli. Saat itu kami sekeluarga tak tahu apa-apa. Kami hanya melihat hal yang aneh, bayi ini tak menoleh saat dipanggil, tak merespon terhadap suara. Setelah diperiksakan ke THT, ternyata organ pendengarannya sangat lemah.

Sebagai keluarga pedesaan, kami tak begitu paham apa yang musti dilakukan. Agaknya orangtuaku juga –sebagaimana masyarakat pada umumnya- tak mendapat edukasi yang memadai tentang disabilitas. Pandangan orang desa pada umumnya terhadap anak-anak seperti adikku adalah ‘cacat’ dan ‘sakit’. Lantas apa yang musti diperbuat? Sembuhkan!

Maka sejak saat itu paradigma yang mengungkung pandangan kami adalah bagaimana agar adikku ‘sembuh’. Bagaimana agar ketuliannya hilang dan bisa mendengar seperti kami. Berbagai upaya, pengobatan, terapi, dan sebagainya pun kami lakoni. Entah kenapa saat itu dokter tidak menganjurkan pemakaian alat bantu dengar (ABD) sejak dini. Adikku baru memakai ABD saat ia sudah SD.

Belakangan kusadari bahwa paradigma semacam itu kurang tepat. Aku tidak menyebutnya salah, tidak. Hanya kurang tepat saja. Memang kita bisa tetap berharap adanya keajaiban, berupa perubahan dari tuli menjadi dengar, entah dengan jalan medis maupun nonmedis. Namun paradigma yang mustinya dibangun oleh keluarga penyandang tuli (atau disabilitas lainnya) bukanlah pengucilan, melainkan pengokohan. Yakni bagaimana agar keluarga bisa menerima si anak apa adanya. Bagaimana agar si anak bisa menyadari bahwa dirinya berbeda dan tetap percaya diri. Serta bagaimana mengupayakan cara komunikasi intensif dengan si anak agar interaksi kekeluargaan bisa berjalan normal.

Sebagai anak berkebutuhan khusus, adikku sekolah di SLB Manunggal Slawi, sekitar 20-an kilometer dari rumah kami di Desa Tuwel. Setiap hari dia bolak-balik sejauh itu ‘hanya’ untuk sekolah sejak SD hingga SMA. Selama SD, ayah kami pasang badan untuk mengantarnya setiap hari dengan sepeda motor. Semasa SMP-SMA ia sudah berani bolak-balik sendirian naik angkutan umum. Kenapa dia harus sekolah sejauh itu? Ya agar dia bisa berbaur, bergaul, bertemu dengan lingkungan yang sama.

Kami saat itu sama sekali tak kepikiran untuk menyesuaikan diri dengan kondisi Nida yang tuli. Justru terbalik; kami ingin agar dialah yang menyesuaikan lingkungan dengar kami. Kami sebagai keluarga intinya tidak punya inisiatif sama sekali untuk mengenal bahasa isyarat, apalagi mempelajarinya sampai mahir. Itu mungkin salah satu keluputan fatal kami yang kemudian menciptakan alienasi, ketertutupan, hingga keminderan, dalam diri Nida.

Adikku tak seberuntung Samantha, yang memiliki keluarga dan lingkungan melek disabilitas, inklusif, begitu hangat nan dewasa. Setidaknya kisah ini bisa menginspirasi dan menyadarkan kita semua, bahwa yang dibutuhkan penyandang tuli adalah lingkungan kondusif, dukungan keluarga untuk percaya diri dan berdaya. Bukan pemosisian bahwa ia orang cacat, sehingga secara tak langsung membuatnya merasa terkucilkan. Kalau tidak bisa seluruh lingkungan beradaptasi dengan si tuli -seperti para tetangga Samantha, maka minimal keluarga terdekatnyalah yang menyesuaikan diri. [ziatuwel.com]

*Sumber berita dan foto: Thomas Farragher di Boston Globe

No comments:

Powered by Blogger.