Bagas Bertani dari Nol dan Memberdayakan Para Mantan Preman

Oleh: @ziatuwel

Sejak 11 Februari lalu, nama Bagas Suratman menjadi buah bibir di kalangan netizen setelah video profilnya dirilis BBC Indonesia. Bagas adalah seorang mantan preman yang bertani dari nol di lahan seluas 26 hektar dekat bandara Soekarno Hatta, menjadi pemasok 30 jenis sayuran dan buah ke jaringan pasar se-jabodetabek, serta mempekerjakan para mantan preman lainnya untuk berdaya.
Bagas Suratman, foto: screenshoot video BBC Indonesia

Bagas, lelaki asal Klaten kelahiran tahun 1981 ini, mulai bertani sejak tahun 2004. Sebelumnya ia bekerja tidak tetap sebagai supir angkutan umum, porter bandara, tapi lebih dikenal sebagai preman terminal. Ia terjun menjadi petani dengan modal nekat dan belajar secara otodidak. Ia bergabung dengan komunitas petani untuk belajar perihal budidaya. Lahan yang ia kelola berlokasi di Kampung Rawa Lini, Teluk Naga, Tangerang, Banten, hanya 2 kilometer dari Bandara Soekarno-Hatta.

Setamat sekolah kejuruan di Klaten, Bagas sempat jadi kuli bangunan, kemudian merantau ke Jakarta. Di ibukota, Bagas berjualan sayur dan buah di Kebayoran dan Pasar Induk Kramatjati. Komoditas yang ia jual berkualitas tinggi. Merasakan potensi bisnis sayur menjanjikan, maka pada 2004 itulah ia mulai terjun ke pertanian.

Awalnya, lahan yang Bagas kelola hanya seluas 3000 meter persegi. Yakni berupa lahan kosong penuh semak belukar yang tak diurus. Berkat ketekunannya, hasil pertaniannya membuahkan hasil dan bisa menjadi modal perluasan lahan. Pada tahun 2007, lahan garapan Bagas sempat dilanda banjir tepat beberapa saat sebelum panen. Namun ia tidak menyerah.

Kini lahan pertanian Bagas mencapai 26 hektar yang merupakan lahan sewaan. Omsetnya bisa mencapai 100 juta perhari, keuntungannya bisa mencapai 15 juta rupiah perhari. Di lahan itu, Bagas membudidayakan buah melon sebagai komoditas unggulan. Ia juga menanam 30-an jenis sayur seperti daun pepaya, singkong, kangkung, bayam, caisim, katuk, dan sebagainya. Bagas bermitra dengan 40 petani untuk mengolah lahan. Tiap hari ia panen untuk menyuplai supermarket seperti Superindo, Alfamidi, Carefour, juga ke pasar-pasar tradisional seantero Jabodetabek.
Lahan garapan Bagas Suratman di tangerang, sumber: Facebook 'Bagas Suratman'

Melon dijual dengan harga Rp10.000/kg, biaya produksinya Rp150 juta/hektar. Masa tanam selama 70 hari menghasilkan buah melon hingga 25 ton/hektar. Artinya, keuntungan dari budidaya melon setiap musimnya berkisar antara 50-100 juta rupiah perhektar. Produk melon ini rencananya akan diekspor ke pasar Hongkong. Adapun untuk sayuran, harganya pun bisa dibilang bersaing. Per-November 2018, harga caisim Rp2.200/ikat, kenikir Rp2.500/ikat, daun singkong Rp1.500/ikat, daun pepaya Rp2.500/ikat, daun bayam Rp2.200/ikat, daun katuk Rp3.000/ikat. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pasokan itu, dalam setahun Bagas hanya libur saat malam takbiran.

Bagas menyatakan bahwa pada awal bertani dia tak begitu memikirkan peningkatan hasil materi. Yang terpenting baginya adalah bagaimana agar ia bisa memberdayakan masyarakat di lingkungan sekitarnya, terutama teman-teman preman yang ingin mandiri. Ia juga mengajak para santri sekitar yang masih menganggur untuk ikut belajar bertani. Tiap hari Bagas memberdayakan 15 orang pegawai untuk mengikat sayur dan kegiatan pascapanen lain. Bahkan bisa sampai 30 orang tiap bulan puasa. Untuk para mantan preman yang ingin bergabung, Bagas punya syarat khusus yaitu harus berhenti minum minuman keras. Di antara mereka, 7 teman supirnya yang bekerja bersama Bagas sudah punya mobil masing-masing.
Bagas Suratman ketika dikunjungi Dirjen Hortikultura Kementan, Suwandi. Sumber foto: FB Bagas Suratman

Lahan pertanian Bagas menarik perhatian banyak pihak, termasuk Direktur Jenderal Hortikultuta Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi yang menyempatkan diri mengunjungi lahan Bagas. Begitu pula para pelaku usaha pertanian, serta para petani pemula yang ingin belajar darinya. Satu hal yang menjadi perhatian Bagas adalah mendorong anak-anak muda untuk mau bertani. Ia pun secara aktif mengajak dan mengajari anak-anak muda pengangguran untuk bertani.

"Sekarang ini, petani kita usianya 50-60 tahun, sebentar lagi mungkin akan pensiun. Siapa yang akan meneruskan pertanian di Indonesia? Anak-anak muda ini harapannya," ujar Bagas di video BBC Indonesia. Videonya bisa ditonton di sini;

*Sumber: Tabloid Sinar Tani & BBC Indonesia

No comments:

Powered by Blogger.