Wiwitan Tanam Padi - KBQTDiary #3

Oleh: @ziatuwel

Wiwitan menjadi warisan budaya luhur para leluhur yang makin terlupakan. Wiwitan merupakan momen memulai masa tanam pangan sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan, sekaligus semacam 'kontrak kerja sama' dengan alam.

Dahulu, orang Jawa menyebut makanan pokoknya sebagai 'Dewi Sri', demikian kata Pak Joko Waluyo selaku pegiat pertanian Salatiga. Untuk menyebut padi orang Jawa gunakan nama Dewi Sri Te Ore-ore. Untuk menyebut jagung memakai nama Dewi Sri Te Otong-otong. Maaf kalau salah penulisannya, kucari di Google juga belum ketemu.

Selain memulai masa tanam dengan upacara, petani kuna juga menandai masa panen dengan upacara lainnya. Yakni syukuran, atau perayaan. Ada yang kemudian menanggap wayangan, atau belakangan banyak yang menambahinya dengan pengajian. Dahulu orang menanam tidak sembarang tanam, ada hitungannya.

"Njenengan bade nanem niku ngangge waton, nopo waton nanem? (Anda menanam pakai aturan atau asal menanam?)" tanya Pak Joko, retoris.

Petani kuna membagi momen hari tanam jadi empat sesuai bagian tanaman: akar, batang, daun, woh. Padi adalah tanaman yang dipanen woh-nya. Hari ini kami menanam winih padi di hari Kamis Kliwon. Menurut petungan, Kamis Kliwon adalah hari woh. Jadi pas kalau menanam padi di Kamis Kliwon.

Sebelumnya, Pak Yusuf Muhyidin selaku pejabat Kemendikbud juga menyampaikan apresiasinya atas berlangsungnya acara wiwitan di kecamatan Tingkir Salatiga ini. Yakni acara penanaman padi organik Integrated Farming System (IFS), kerjasama Kemendikbud, LPK Lembah Kemuning, Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah, dan Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah.

Lhoh, apa hubungan antara tanam padi dan kementerian pendidikan? Pak Yusuf yang menjabat di domain PAUD dan Pendidikan Masyarakat menjelaskan bahwa bertani juga merupakan kegiatan belajar yang sangat penting. Maka ia menyambut baik ketika ada inisiatif tersebut dari komunitas belajar dan serikat petani. Ada integrasi di situ.

Komunitas belajar atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dalam sistem pendidikan nasional disebut sebagai pendidikan nonformal. Dahulu di sebut sebagai PLS atau Pendidikan Luar Sekolah. Meski demikian, kata Pak Yusuf, PLS bisa juga berarti Pendidikan Luas Sekali, sebab di sini masyarakat bisa belajar apapun dimanapun kapanpun, termasuk pertanian.

Usai seremoni dan sambutan-sambutan, kami turun ke sawah. Para pejabat dan tokoh masyarakat beramai-ramai menanam winih-winih padi yang sudah disiapkan. Diiringi irama sitar dan seruling grup musik Saung Swara, nuansa jadi begitu asik. Winih padi yang kami tanam adalah jenis Mentik Susu. Jika biasanya kita menanam winih padi usia 21 hari, di sini kami menanam winih yang baru berumur 6 hari. Masih unyil-unyil.

Kabarnya sistem ini sudah sukses diterapkan di dua tempat, yakni di Kuningan dan Kudus. Hasilnya sangat memuaskan, tapi memang butuh energi ekstra dalam perawatan. Jika biasanya cuma butuh satu kali matun (menyiangi; mencabuti rumput), maka dengan sistem ini butuh empat kali matun.

Setelah tanam padi, kami rehat sambil makan besek dengan menu nasi klubanan. Nikmat sekali. Para pendekar gerakan masyarakat nampak serius membincangkan beragam hal terkait kemandirian pangan. Ada Pak Sudarmoko dari Kuningan, Pak Hasan Aoni dari Kudus, dan tentu saja Pak Ahmad Bahrudin sebagai tuan rumah.

Mereka sedang merancang Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) dan menyusun rencana pemberdayaan petani lokal. Terasa sekali aura semangat muda dari orang-orang tua itu, yang kadang malah bikin kita malu sendiri. Ketika diminta mengisi pelatihan teknis tanam jahe oleh SPPQT, Pak Moko sigap menyahut, "Pokoknya untuk rakyat, saya siap!"
___
Kalibening, 6/12/2018 #KBQTDiary - 3

No comments:

Powered by Blogger.