Sekeras Batu

Oleh: @ziatuwel

Bocah laki-laki tergugu di pojok sebelah timur Kandang Menjangan. Ia tersedu-sedu, menangis sambil duduk gelisah di antara pagar besi kuning pembatas situs sejarah itu. Tentu saja, aku yang sedang lewat untuk ngampus kontan berhenti dan menanyainya.

Apa dia bilang? Bocah bongsor kelas 2 SD ini menangis sebab sendirian di rumah -kontrakan- dekat Kandang Menjangan. Ayah dan ibunya sedang pergi dengan adik bayi, ia ditinggal sendiri. Home alone. Karena tak ada kerabat yang bisa dititipi, akupun singgah di teras rumahnya sekedar agar dia tenang dan merasa ditemani.

Memang ini hanya kejadian sepele, peristiwa biasa sebiasa-biasanya. Mungkin kau juga pernah mengalami hal serupa seusia itu. Namun entah kenapa, saat melihat bocah itu nangis, menemani bikin origami angsa sederhana, lalu ketawa cerianya saat ayah ibunya pulang, yang terbayang di benakku justru anak-anak di wilayah konflik sana.

Afghanistan, Afrika Tengah, Kolombia, Kongo, Etiopia, India, Iraq, Palestina, Israel, Libya, Suriah, Yaman, Mali, Mozambik, Myanmar-Rohingya, Nigeria, Pakistan, Ukraina, Somalia, Sudan, Uganda, dan negeri-negeri lain yang sedang berkecamuk perang saudara. Ya, semua perang adalah perang saudara. Karena semua manusia adalah saudara seketurunan.

Anak-anak di sana tidak hanya menangis sebab ditinggal ayah ibunya belanja. Mereka menangis sebab kehilangan orang tua tiba-tiba, terlantar di tengah desingan peluru dan ledakan mortir. Mereka tidak tahu dan tak punya kepentingan apa-apa. Keceriaannya hilang, trauma berkepanjangan. Bagi yang agak dewasa, dendam pelan-pelan tertanam.

Sudah beribu analisa tentang sebab hingga resolusi konflik yang muncul dari para ahli. Apakah ada yang efektif? Sekali perang meletus, susah diredamnya. Sebagaimana diucapkan Al-Fatih; darah yang tertumpah takkan tertidur. Dan selalu saja, yang jadi korban dalam tiap peperangan justru mereka yang tidak ikut berperang. Anak-anak.

Kita berharap hal-hal mengerikan semacam itu tak menular di negeri ini. Cukup sudah sejarah kelam dilalui para pendahulu kita. Jangan sampai kita hari ini menanam bibit peperangan yang akan disemai anak cucu kita nanti.

Semoga anasir-anasir kanker ekstrimisme tak berkembang di sini. Semoga mereka yang suka mencaci sana sini, meneriakkan pertumpahan darah atas nama perjuangan suci, segera sadar dan terbayang nasib keberlanjutan kehidupan anak cucunya di muka bumi.

Kita sedang masuk dalam fase ketika banyak orang menjadi 'atos', sekeras batu. Cara pandang menjadi hitam putih. Yang tak sebarisan dicap musuh. Yang tak sependapat dihujat-hujat. Membalas fitnah dengan fitnah, melawan nyinyir dengan nyinyir, menelanjangi aurat sesama anak bangsa.

Fase ini, kalau kupinjam istilah Habib Abu Bakr al-'Adni, adalah fase 'dzamm', caci maki. Semoga cukup sampai di situ saja. Tidak berlanjut pada fase mengerikan berikutnya, fase 'damm', pertumpahan darah.

Krapyak, 5/12/2016

No comments:

Powered by Blogger.