Opresi vs Apresiasi - KBQT Diary #2

Oleh: @ziatuwel

Karen Armstrong tidak senang dengan kata 'toleransi'. Sebab, menurutnya, kata itu berasal dari kata latin 'tolo', artinya 'bertahan atas sesuatu'. Maka akibatnya, kata 'toleransi' sering digunakan oleh mayoritas untuk tetap menang atas minoritas. Menurutnya, kita harus berpindah dari kata 'toleransi' kepada 'apresiasi'; penghargaan. Aku sepakat dengannya, apalagi dalam kaitannya dengan terma pendidikan.

Bagiku, apresiasi adalah kata kunci dalam praktek pendidikan manusiawi model apapun. Apresiasi menjadi sikap paten bagi pegiat pendidikan dalam fungsinya sebagai apapun. Entah menjadi fasilitator langsung, tutor atau pengajar, hingga penentu kebijakan sekalipun. Harus punya mindset apresiasi dalam default setting-nya.

Sebelumnya pernah kutulis artikel bertajuk 'Sekolah Kita Tidak Toleran'. Yakni artikel untuk menanggapi kemelut hasil survey yang menyatakan bahwa sebagian besar guru muslim tidak toleran terhadap perbedaan agama. Di dalam artikel itu kunyatakan bahwa intoleransi guru hanya masalah kecil dari problem pendidikan secara utuh. Sebab justru budaya belajar kita di sekolah-sekolah itulah yang intoleran. Bukan sekedar guru muslimnya.

Penyeragaman dengan rasa 'pemaksaan' belajar terhadap siswa adalah bentuk intoleransi akut. Pengabaian terhadap potensi khas masing-masing anak juga menjadi ciri khas intoleransi yang terjadi di sekolah. Namun setelah sepakat dengan Armstorng, agaknya judul 'Sekolah Kita Tidak Toleran' di tulisan itu perlu kurevisi jadi 'Sekolah Kita Tidak Apresiatif'. Istilah apresiasi ini jadi antitesis pas atas budaya belajar di sekolah yang opresif, sebagaimana digugat Freire dalam Pedagogy of The Oppressed. Apa arti opresi? Penindasan.

Aku sangat percaya bahwa budaya belajar kita -di sekolah- sangat mempengaruhi budaya bermasyarakat. Jika di sekolah terbiasa dengan opresi, bentakan, monolog, dan penyeragaman, maka begitupun di masyarakat. Tapi jika kita terbiasa mengapresiasi, dialog, dan sadar keragaman di lingkungan belajar, maka demikian pula saat bermasyarakat.

Budaya belajar yang apresiatif dengan sendirinya akan menumbuhkan keterbukaan, kritik, penerimaan, dan perkembangan. Sedangkan budaya belajar opresif pasti menciptakan robot, negasi, dan kemandekan. Ayo budayakan apresiasi, bukan opresi.

Kegiatan ngaji dan Tawashi pagi sebelum kumpul kelas, presentasi tentang Pemanasan Global.

Kalibening, 5 Desember 2018

No comments:

Powered by Blogger.