Ngaji Isyarat di Sarang Lebah - KBQTDiary #4

Oleh: @ziatuwel

Hari ini warga Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah sambang dulur di Sarang Lebah, salah satu markas komunitas tuli di Salatiga. Di sanggar yang sudah berdiri sejak 2012 ini, mereka berkenalan dengan bahasa isyarat, didampingi kakak-kakak pengelola komunitas.

Satu hal yang menarik perhatianku di Sarang Lebah ini adalah adanya showroom berbagai jenis kriya jualan. Mulai dari gantungan kunci, notebook, kaos, pigura, dan beragam kerajinan tangan lain. Jadi tempat ini sekaligus jadi ruang pemberdayaan teman-teman komunitas tuli.




Tiap sabtu siang di Sanggar Lebah ini memang digelar pelatihan bahasa isyarat gratis. Kelas ini biasanya diikuti oleh mereka yang hendak mengajar di SLB-SLB. Namun tak menutup kesempatan untuk siapa saja yang ingin belajar, baik tuli ataupun dengar. Siang ini, KBQT berkesempatan sinau bahasa isyarat di sana.

Apakah teman-teman KBQT langsung mahir ngisyarat? Tentu tidak. Mereka sekedar belajar abjad ISL dan kata-kata sederhana. Namun yang paling penting menurutku adalah menumbuhkan kesadaran tentang difabilitas. Bahwa ada teman-teman yang berbeda kemampuan fisik dan butuh pendekatan komunikasi yang berbeda pula.

Momen ini mengingatkanku pada komunitas serupa di Jogja, Deaf Art Community (DAC), yang beberapa kali kusambangi. Dua tahun lalu, DAC pernah kerjasama dengan Pesantren Al-Munawwir Krapyak dalam rangka sosialisasi bahasa isyarat dan kesadaran difabilitas kepada para santri. Kuharap Sarang Lebah bisa juga bikin acara serupa di KBQT entah kapan.

Aku juga ingat momen menemani adik saat kemah tuli nasional di Kaliberot, Jogja. Momen yang sangat berkesan ketika para pegiat komunitas tuli berkegiatan full dengan bahasa isyarat, menampilkan bakat dan kreasi masing-masing. Berkomunitas semacam ini menjadi ruang untuk saling menguatkan dan mengapresiasi.

Hingga saat ini aku masih punya tekad untuk menguasai bahasa isyarat. Sebenarnya bisa saja aku sinau langsung pada adikku, tapi ini bukan sekedar urusan belajar bahasa isyarat, tapi juga tentang berjejaring. Dulu sempat ngobrol dengan Mas Broto pendiri DAC tentang kemungkinan pendampingan ngaji untuk teman-teman tuli.

Semacam saling berbagi ilmu, aku belajar bahasa isyarat, sekalian mendampingi teman-teman tuli untuk belajar dasar-dasar keislaman. Tapi kesepakatan itu terhambat karena aku keburu hijrah ke Salatiga. Semoga tekad belajar bahasa isyarat ini bisa dilanjutkan melalui wasilah Sarang Lebah.

Aku percaya bahwa tanda ornag cerdas adalah bisa memahami bahasa isyarat. Seperti kata pepatah Arab; al-'aaqilu yakfii bil isyaaroh. Hehehe.

___
Salatiga 8/12/2018 #KBQTDiary - 4

No comments:

Powered by Blogger.