Buat Apa Agama - KBQTDiary #5

@ziatuwel

Tahun ini ada enam kelas di sini. Tiap kelas bebas tentukan namanya masing-masing; Laskar Miracle, Hikari, Selcout, El-Farabi, Rainbow, dan Bonus Res. Siang tadi jadwalku mendampingi Bonus Res, kelas paling bontot di KBQT, paling unyil, setara SMP kelas 1.

Hanya ada tujuh anggota kelas, satu ijin sakit. Dengan jumlah seterbatas itu, maka kegiatan belajar lebih asyik bermodel dialog alias diskusi santai dengan tema tertentu. Aktivitas yang sudah kuakrabi sejak jaman kuliah bersama klub diskusi Duduk Selingkar.

Budaya belajar di sini adalah dialog aktif antarsiswa dan pendampingnya. Sesuatu yang mungkin baru kukenal ketika masuk bangku kuliah di Jogja. Bukan gaya monolog guru-murid sebagaimana jamanku sekolah dahulu. Oiya, di sini tak dipakai istilah guru. Yang ada hanya pendamping atau fasilitator.

Sebagai pendamping baru, aku mulai dengan memahami gaya komunikasi masing-masing anggota kelas. Bagaimana mereka menyimak, menanggapi, dan mengungkapkan pendapat. Karena latar belakangku pesantren, pendampinganku lebih dominan ngobrol perihal agama dalam kehidupan sehari-hari.

Teori integrativitas keilmuan bisa kupraktekkan di sini. Misalnya saat ngobrol tentang fikih bersuci (thaharah), kita bisa sangkut pautkan dengan kesadaran ekologis berupa hemat air, pelestarian mata air, hingga penghijauan untuk menjaga debit air tanah. Saat ngobrol tentang fikih puasa, bisa mencakup kesehatan pencernaan, pola makan, dan gaya hidup sehat.

Adapun tema obrolan perdana kami di kelas Bonus Res hari ini adalah tentang makna dan fungsi agama. Tentu saja kadar bobot obrolan ini menyesuaikan usia mereka yang masih bocah. Pertama-tama, kupantik dengan pertanyaan; apa makna agama bagi hidupmu?

Aku tak pernah mendapat pertanyaan abstrak semacam itu saat seusia mereka. Maka tentu saja aku penasaran bagaimana mereka menanggapinya. Menurut Bara, anggota kelas yang paling pendiam, makna agama baginya adalah, "Untuk mencapai kebahagiaan."

Sedangkan menurut Raka, "Biar damai."

"Maksudnya mewujudkan kedamaian?" sahutku.

"Enggih."

"Kedamaian karo sopo?"

"Ya damai dengan semua orang," katanya.

"Kedamaian dunia akherat!" seru Danial melengkapi.

Obrolan tentang makna agama ini kemudian melebar kemana-mana. Tentang agama-agama di Indonesia, praktek ritual aliran kepercayaan lokal, hingga para rasul yang didominasi bangsa Timur Tengah. Mereka, dengan terbuka, bercerita tentang teman-teman yang berbeda agama.

Dafa mulai berkisah tentang tata cara ibadah agama lain menurut cerita teman-temannya yang beda agama. Sedangkan Ziki bercerita tentang lingkungan perumahan tempat tinggalnya dimana orang-orang berbeda agama bisa hidup rukun, tidak ada saling ejek dan menghina.

Tema obrolan yang sebenarnya berat itu jadi terasa ringan. Tapi kupikir-pikir memang sebenarnya tidak ada tema obrolan yang berat sih, tergantung bagaimana cara kita menyajikannya. Termasuk tema agama, agar tidak melayang-layang, supaya sesuai dengan realita yang kita hadapi sehari-hari.

Nanda, anggota kelas yang paling naratif, entah ilham dari mana dia menyimpulkan, "Beragama itu biar kita jadi ikhlas. Misalnya kalau kita mau bersedekah, ya bersedekah aja ya seadanya. Kalau masih mengharapkan balasan biar rejekinya jadi berkali-kali lipat berarti 'kan belum ikhlas ya."

___
Kalibening, 12/12/2018
Foto: mendampingi pendamping <3
#KBQTDiary - 5

No comments:

Powered by Blogger.