Sadar Maqom

Oleh: @ziatuwel

Kemarin sore ketemu orang yang pernah mengamalkan 'ilmu wali' -dia menyebutnya begitu. Selama tiga hari puasa, nggak tidur, nggak ngobrol, selalu menjaga wudhu, baca wirid tertentu, serta tentu saja nggak boleh maksiat dalam jenis dan kadar apapun.

Selama itu dia merasa aneh. Semua bersit -keinginan- hatinya terkabul. Pengen lele, ndilalah ada yang ngirim lele. Pengen jalan-jalan kemana, ndilalah ada yang nganterin. Praktis selama tiga hari itu duitnya nggak laku, nggak terpakai. Kayak kantong ajaib aja rasanya.

Setelah tiga hari dia nggak kuat. Selain nggak kuat tirakatnya, juga nggak kuat hatinya. Dia kuatir kepleset imannya kalau semua kemauan bisa keturutan. Lha wong yang keturutan sebab usaha keras aja rawan sombong, apalagi yang instan. Akhirnya dia bilang bahwa itu semua belum maqomnya dan mengatakan (agak menasehatiku); lebih baik istiqomah ngaji dan jamaah.

Spontan kuingat ucapan tiga sosok besar dalam sejarah sufisme Islam.

Pertama; "Apalah artinya banyak amal, semua upayaku hanya kelalaian."

Ucapan ini yang ngomong Imam Haddad, wali agung yang saat usia TK sudah gemar salat ratusan rakaat, yang sampai wafat semua sunnah fi'liyah Nabi sudah dilakukan hingga urusan memanjangkan rambut sampai kuping.

Kedua; "Kalaupun kau belajar selama satu abad dan baca seribu kitab, tetap saja kau belum berhak mendapat rahmat Allah kalau tanpa amal."

Ucapan ini yang ngomong Imam Ghazali, wali agung pengarang puluhan kitab yang pernah jadi rektor universitas besar, sosok yang pernah uzlah mengembara belasan tahun.

Ketiga; "Kita tak bisa menjamin ketaatan apapun sanggup mengantarkan kita ke dalam surga. Tapi perbuatan baik kepada sesama pasti dibalas oleh Tuhan."

Ucapan ini yang ngomong Maulana Barkat Ali, wali agung yang bikin pengobatan gratis buat ribuan fakir miskin, yang mengadopsi puluhan ribu yatim untuk mendapat pendidikan dan pelatihan.

Jadi ya untuk sementara ini, buat kitaorang yang sembayang jamaah aja masih malesan, cuma bisa bilang; ayo ibadah dan perbanyak amal. Kitaorang yang dosa kecil dosa gede aja masih belum paham, cuma bisa bilang; ayo ngaji perkaya ilmu. Kitaorang yang masih sering puyeng urusan rejeki, cuma bisa bilang; ayo semangat kerja mengais rejeki halal.

Ini yang disebut sadar maqom (posisi); likulli maqomin maqolun. Kun shufiyyan wala takun mutashawwifan; monggo jadi sufi, tapi jangan berlagak nyufi.

---

Kalibening, 29/11/2018.

No comments:

Powered by Blogger.